Awas! Mata Kering Tanda Awal Sindrom Sjögren, Gejala Autoimun yang Perlu Diwaspadai

Gejala mata kering sering dianggap sepele, tetapi kondisi ini bisa menjadi tanda awal dari sindrom autoimun yang serius, seperti Sindrom Sjögren. Menurut Dr. Niluh Archi, dokter spesialis mata di JEC Eye Hospitals and Clinics, mata kering bukan cuma masalah kecil. Gejala ini, katanya, bisa mencerminkan adanya masalah kesehatan sistemik yang harus segera ditangani.

Dalam penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa antara 10% hingga 95% pasien dengan gangguan sistem imun mengalami mata kering. Sementara itu, American Academy of Ophthalmology menyebutkan bahwa sekitar 10% pasien dengan penyakit mata kering juga mengalami Sindrom Sjögren. Ini adalah kondisi autoimun kronis yang menyerang kelenjar air mata, menyebabkan peradangan pada permukaan mata. Sayangnya, dua pertiga kasus ini tidak terdiagnosis, dan tanpa penanganan yang tepat, mata kering dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti infeksi dan bahkan kehilangan penglihatan permanen.

Di Indonesia, prevalensi mata kering mencapai 27,5% hingga 30,6%, menjadikannya salah satu kondisi mata paling umum yang luput dari deteksi. Dalam dua tahun terakhir, JEC telah menangani 72.000 pasien dengan keluhan mata kering. Namun, data spesifik mengenai hubungan mata kering dengan Sindrom Sjögren di Indonesia masih minim, dan kurangnya edukasi menyebabkan pasien seringkali tidak menyadari gejala yang mereka alami adalah sinyal dari kondisi yang lebih kompleks.

Autoimun sendiri merupakan situasi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat. Ketika proses ini terjadi pada kelenjar eksokrin, seperti kelenjar air mata, dapat mengakibatkan peradangan kronis dan penurunan produksi air mata. Hal ini tidak hanya menyebabkan mata kering, tetapi juga berpotensi menimbulkan gejala yang lebih serius. Sindrom Sjögren adalah contoh paling umum dari kondisi ini, yang menyebabkan pasien mengalami mata dan mulut kering secara bersamaan.

Penyakit autoimun lain, seperti lupus, rheumatoid arthritis (RA), dan scleroderma, juga dapat memicu mata kering. Semua kondisi ini berkontribusi pada inflamasi sistemik yang berdampak pada kesehatan mata. Dr. Laurentius Aswin Pramono, seorang dokter penyakit dalam di JEC, menjelaskan bahwa gejala awal berbagai penyakit autoimun sering kali non-spesifik, dan mata kering bisa menjadi salah satu tanda.

Pentingnya kolaborasi antara dokter mata dan dokter penyakit dalam menjadi semakin terasa dalam konteks ini. Melalui pemeriksaan mata yang teliti, pasien bisa diarahkan untuk menjalani evaluasi lebih lanjut, yang dapat mencegah kerusakan pada organ lain. Penanganan mata kering yang terkait dengan gangguan sistemik harus dilakukan secara menyeluruh, mengingat kompleksitas penyebab dan dampaknya.

Dalam upaya ini, penting bagi tim medis untuk menyediakan teknologi diagnostik yang akurat dan berpengalaman. Kolaborasi antara dokter spesialis mata, penyakit dalam, dan reumatologi sangat krusial untuk memastikan pasien dengan mata kering akibat autoimun mendapatkan perawatan yang tepat.

Gejala mata kering bisa berupa beberapa hal, termasuk:

1. Sensasi menyengat atau terbakar.
2. Lendir berserabut di sekitar mata.
3. Sensitivitas terhadap cahaya.
4. Mata merah.
5. Sensasi seperti ada sesuatu di mata.
6. Kesulitan memakai lensa kontak.
7. Kesulitan mengemudi di malam hari.
8. Penglihatan kabur atau kelelahan mata.

Mata kering bukan hanya menjadi masalah tampilan, tetapi bisa jadi merupakan gejala dari kondisi yang lebih serius. Tanpa penanganan segera, potensi komplikasi kesehatan jangka panjang sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, kesadaran dan edukasi mengenai gejala dan pengobatan mata kering sangat penting bagi masyarakat untuk mendeteksi masalah kesehatan lebih awal.

Exit mobile version