Penyakit herpes zoster, yang juga dikenal sebagai cacar api, merupakan penyakit menular yang dapat menyerang individu dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Penyakit ini muncul pada kulit dan dapat menimbulkan rasa nyeri yang cukup hebat. Data dari Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 6% pasien yang datang ke rumah sakit dengan keluhan dermatologis terdiagnosis herpes zoster. Hal ini menjadikannya salah satu penyakit yang banyak dijumpai di departemen dermatologi dan kelamin.
Pencegahan herpes zoster menjadi sangat penting, terutama seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan dalam masyarakat. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), Hanny Nilasari, mencegah herpes zoster memerlukan pendekatan yang seimbang antara pola hidup sehat dan program vaksinasi. Gaya hidup yang sehat dapat mengurangi risiko penularan, terutama bagi orang dewasa dan lansia yang lebih rentan terhadap penyakit ini.
1. Vaksinasi Herpes Zoster
Vaksin zoster merupakan langkah preventif yang utama untuk mencegah munculnya herpes zoster. Pemberian vaksin ini sangat dianjurkan untuk individu berusia 50 tahun ke atas dan orang dewasa dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita diabetes atau mereka yang menjalani kemoterapi. Penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi dapat mengurangi risiko penyakit hingga 90%, sekaligus mengurangi potensi terjadinya neuralgia pascaherpes.
2. Menjaga dan Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Pencegahan herpes zoster tidak hanya mengandalkan vaksin; gaya hidup sehat juga berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Berikut adalah beberapa langkah yang direkomendasikan:
- Konsumsi makanan bernutrisi tinggi yang mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan.
- Rutin berolahraga untuk menjaga kebugaran fisik.
- Tidur cukup dan berkualitas untuk mendukung pemulihan tubuh.
- Kelola stres dan jaga kesehatan mental untuk menjaga keseimbangan emosi.
3. Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan edukasi merupakan bagian penting dari pencegahan. Sebelum melakukan vaksinasi, penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk mengevaluasi kesehatan secara keseluruhan dan menentukan kebutuhan vaksinasi. Ini termasuk memeriksa riwayat penyakit kronis dan melakukan pemeriksaan fisik jika diperlukan.
Edukasi kepada masyarakat, terutama bagi kelompok lansia dan individu dengan riwayat penyakit kronis, menjadi sangat penting. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai pencegahan sejak dini. Vaksinasi memang memiliki efek samping, tetapi sebagian besar masih dapat ditoleransi. Efek samping yang umum terjadi antara lain nyeri, kemerahan di area vaksinasi, demam, atau sakit kepala, yang biasanya bersifat sementara.
Selain itu, perlu diperhatikan bahwa gejala herpes zoster dapat muncul dalam waktu 5 hingga 7 hari setelah infeksi. Penanganan yang cepat, terutama dalam kurun waktu 3×24 jam, dapat mengurangi risiko infeksi dan komplikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk mengenali gejala awal dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Dengan mengintegrasikan vaksinasi, pola hidup sehat, dan edukasi di masyarakat, diharapkan prevalensi herpes zoster dapat ditekan. Menjaga kesehatan tubuh dan mental merupakan elemen kunci dalam mencegah munculnya penyakit ini dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
