11,5 Juta Anak Indonesia Alami Kekerasan, Gerakan Tari Kreatif Tingkatkan Perlindungan Diri

Kekerasan terhadap anak di Indonesia menjadi isu yang mengkhawatirkan. Data dari Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan bahwa sekitar 11,5 juta anak usia 13 hingga 17 tahun pernah mengalami berbagai bentuk kekerasan, termasuk fisik, verbal, dan seksual. Jumlah ini mencerminkan keadaan darurat yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.

Dalam merespons permasalahan ini, Joyday, brand es krim dari Yili Indonesia Dairy, meluncurkan sebuah kampanye edukasi perlindungan diri bagi anak-anak usia sekolah. Kampanye ini diadakan sebagai bagian dari momen Hari Anak Nasional dan Hari Es Krim Sedunia, dengan melibatkan sejumlah SMP di Surabaya, Semarang, Bandung, dan Tangerang.

Lebih dari 1.000 siswa ikut serta dalam kegiatan gerakan tarian edukatif yang dirancang untuk membekali mereka dengan pengetahuan tentang batasan tubuh pribadi. Tarian ini mengajarkan anak-anak untuk mengenali bagian tubuh mana yang tidak seharusnya disentuh orang lain, serta pentingnya berkata "tidak" terhadap sentuhan yang tidak pantas. Menurut Yu Miao, Presiden Direktur Yili Indonesia Dairy, inisiatif ini bertujuan agar anak-anak tidak hanya merasakan kebahagiaan dari es krim, tetapi juga terlindungi dari potensi kekerasan.

Pentingnya Metode Edukasi Interaktif

Menggunakan metode interaktif seperti tarian untuk edukasi bukanlah tanpa alasan. Anak-anak lebih mudah memahami dan menyerap informasi ketika disajikan dengan cara yang menyenangkan. Melalui koreografi yang sederhana, mereka belajar tentang bagian tubuh yang merupakan area pribadi, seperti dada dan organ reproduksi, yang seharusnya tidak disentuh oleh orang lain tanpa alasan yang tepat. Selain itu, mereka juga diajarkan bahwa pelecehan bisa datang dalam bentuk yang lebih halus, seperti ucapan dan gambar yang tidak pantas.

“Pelecehan seksual sering kali tidak terdeteksi karena anak tidak tahu bagaimana merespons atau bahkan tidak menyadari bahwa mereka menjadi korban,” ujar Yu Miao. Dengan memberikan pengetahuan ini, diharapkan anak-anak lebih sadar dan berani melaporkan jika mereka mengalami situasi yang tidak aman.

Dukungan dari Sekolah dan Masyarakat

Kegiatan edukasi ini mendapatkan respons positif dari pihak sekolah. Salah satu contohnya adalah SMPN 28 Tangerang, yang menyatakan, “Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini. Edukasi perlindungan diri seperti ini sangat dibutuhkan, apalagi di tengah meningkatnya kasus kekerasan seksual pada anak.” Pendekatan yang menyenangkan membuat anak-anak lebih terbuka untuk bertanya dan berdiskusi tentang isu ini, yang diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan ramah anak.

Sebagai bagian dari kampanye, Joyday juga membagikan es krim gratis kepada seluruh siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tindakan ini tidak hanya menambah kebahagiaan tetapi juga menginternalisasi nilai dan pentingnya perlindungan diri di kalangan anak-anak.

Komitmen Jangka Panjang untuk Perlindungan Anak

Yili Indonesia Dairy telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam aksi sosial sebelumnya, termasuk kegiatan donor darah dan penggalangan dana untuk tunanetra. Melalui kampanye perlindungan diri ini, mereka berupaya untuk membangun kesadaran di kalangan anak-anak dan masyarakat tentang pentingnya menjaga diri dari kekerasan.

“Anak-anak adalah fondasi masa depan bangsa,” tambah Yu Miao, menekankan pentingnya memberikan edukasi yang tepat dan perlindungan untuk mereka. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan jumlah anak yang mengalami kekerasan dapat menurun, dan mereka dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

Exit mobile version