7 Mitos Protein: Benarkah Lansia Dilarang Konsumsi Banyak Protein?

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan nutrisi bagi lansia semakin kompleks dan perlu perhatian khusus. Salah satu zat gizi penting yang sering menjadi perdebatan adalah protein. Banyak mitos beredar di masyarakat, salah satunya adalah anggapan bahwa lansia tidak memerlukan banyak protein. Padahal, informasi ini bisa berbahaya dan menyesatkan.

Berdasarkan data dari Health, sebenarnya, orang berusia di atas 65 tahun justru dianjurkan untuk mengonsumsi protein dalam jumlah yang cukup, yaitu sekitar 1–1,3 gram per kilogram berat badan setiap hari. Hal ini penting untuk mendukung fungsi fisik dan menjaga kesehatan tulang. Penurunan massa otot dan penyerapan protein yang efisien, dikenal sebagai resistensi anabolik, sangat umum terjadi pada orang tua. Dengan asupan protein yang memadai, lansia dapat mempertahankan kekuatan otot serta fungsi tubuh secara keseluruhan.

Mitos Seputar Protein yang Perlu Diketahui

Masyarakat sering terjebak dalam mitos terkait protein. Berikut adalah tujuh mitos yang umum terjadi beserta pembuktiannya:

  1. Kebutuhan protein hanya bisa didapat dari daging
    Banyak yang mengira bahwa protein hanya bisa diperoleh dari sumber hewani. Faktanya, protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan juga dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Kombinasi berbagai sumber protein nabati dapat mencukupi asupan esensial.

  2. Protein hanya untuk orang yang aktif
    Sementara individu yang aktif memang membutuhkan lebih banyak protein, semua orang dewasa perlu memperhatikan asupan protein mereka. Sebuah studi menunjukkan bahwa 1–1,2 gram protein per kilogram berat badan sudah cukup untuk semua orang, apa pun tingkat aktivitasnya.

  3. Tubuh hanya menyerap 30 gram protein sekali makan
    Studi terbaru mematahkan mitos ini dengan menunjukkan bahwa mengonsumsi hingga 100 gram protein dalam satu waktu masih dapat memberikan efek positif bagi pembentukan otot, terutama dalam kondisi stres fisik atau metabolik.

  4. Diet tinggi protein tidak baik bagi ginjal
    Mitos yang mengatakan diet tinggi protein berbahaya bagi ginjal tidak sepenuhnya benar. Bagi individu sehat, konsumsi protein yang tinggi tidak membahayakan fungsi ginjal. Namun, bagi mereka dengan gangguan ginjal, penting untuk mengatur asupan dengan bimbingan medis.

  5. Mengonsumsi protein tinggi berbahaya bagi tulang
    Sebaliknya, protein sangat penting untuk kesehatan tulang. Sekitar 50% volume tulang terdiri dari protein. Kekurangan protein dapat meningkatkan risiko patah tulang dan osteoporosis.

  6. Wajib makan protein setelah olahraga
    Walau konsumsi protein setelah olahraga dapat bermanfaat bagi pertumbuhan otot, distribusi protein sepanjang hari lebih penting. Para ahli menyarankan agar asupan protein dilakukan secara merata dari sarapan hingga camilan malam.

  7. Lansia tak membutuhkan banyak protein
    Seperti yang telah dibahas sebelumnya, lansia justru membutuhkan protein lebih banyak untuk menjaga kesehatan fisik dan mental mereka. Pola makan yang kaya akan protein membantu mencegah penurunan massa otot dan risiko penyakit.

Dengan memahami fakta-fakta ini, masyarakat dapat lebih bijak dalam mengatur pola makan mereka. Mitos-mitos yang beredar sering kali dapat memengaruhi keputusan yang tidak tepat terkait asupan nutrisi. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu, termasuk lansia, untuk mendapatkan informasi akurat mengenai kebutuhan gizi mereka.

Kesadaran akan pentingnya protein dan pemahaman tentang mitos yang beredar dapat membantu masyarakat, terutama lansia, dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Dalam setiap tahap kehidupan, keseimbangan nutrisi yang tepat menjadi kunci untuk kesehatan optimal.

Exit mobile version