Seorang perempuan berusia 29 tahun dari Lituania menghadapi perjuangan berat untuk hamil akibat mengalami kondisi medis langka yang disebut hipersensitivitas plasma seminal (SPH), atau lebih dikenal sebagai alergi sperma. Kondisi ini membuatnya mengalami gejala alergi setelah hubungan intim dengan suaminya, yang berdampak pada ketidakmampuannya untuk hamil selama empat tahun.
Awalnya, tim medis mengalami kesulitan menemukan penyebab ketidaksuburannya, meskipun perempuan ini telah menjalani program bayi tabung sebanyak dua kali. Ia juga memiliki riwayat alergi serius, termasuk asma dan alergi terhadap debu, bulu hewan, serta jamur. Namun, setelah melakukan serangkaian tes, terungkap bahwa ia ternyata memiliki reaksi alergi terhadap protein dalam sperma yang membuat tubuhnya merespons seolah-olah zat tersebut adalah ancaman.
Menurut hasil tes darah, terdapat peningkatan kadar eosinofil, yang merupakan sel darah putih yang berperan dalam reaksi alergi. Tes kulit yang dilakukan menunjukkan alergi terhadap berbagai alergen, termasuk tungau dan serbuk sari. Hasilnya menunjukkan bahwa tubuhnya sangat sensitif terhadap protein Can f 5 yang sering ditemukan pada bulu dan urin anjing, serta terkait dengan alergi sperma.
Gejala alergi yang dialaminya meliputi hidung tersumbat, bersin, mata perih, dan ketidaknyamanan di area genital setelah berhubungan intim tidak menggunakan kondom. Gejala ini merupakan reaksi alergi yang mirip dengan alergi terhadap kacang atau bulu hewan, menciptakan tantangan besar dalam kehidupan seksual dan rencananya untuk memiliki anak.
SPH adalah kondisi yang cukup jarang, di mana sistem kekebalan perempuan bereaksi ekstrem terhadap protein dalam sperma. Umumnya, untuk mengatasi masalah ini, dokter merekomendasikan penggunaan kondom. Namun, perempuan tersebut tetap ingin hamil secara alami, sehingga ia memilih untuk tidak menggunakan perlindungan tersebut, meskipun konsekuensinya sangat signifikan bagi kesehatannya.
Pentingnya pemahaman tentang SPH menjadi sorotan dalam kasus perempuan ini. Perawatan yang tepat dan pemahaman terhadap kondisi ini dapat membantu banyak perempuan yang mengalami gejala serupa. Kasus-kasus seperti ini sering kali masih kurang dikenal di kalangan medis dan masyarakat umum, sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran akan SPH.
Organisasi kesehatan dan ahli alergi terus meneliti kondisi ini untuk menemukan solusi dan perawatan yang lebih efektif. Dengan demikian, perempuan yang mengalami alergi sperma dapat memiliki pilihan yang lebih baik dalam merencanakan kehamilan dan mencapai kesehatan reproduktif yang optimal.
Secara keseluruhan, kasus ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan reproduktif serta dampak alergi yang tidak biasa. Dengan edukasi yang tepat dan dukungan medis, harapan untuk memiliki anak tetap bisa terwujud, meskipun dalam situasi yang penuh tantangan. Dengan semakin banyaknya penelitian, diharapkan kesadaran akan kondisi seperti SPH dapat membantu perempuan menghadapi masalah kesehatan ini dengan lebih baik dan lebih teredukasi.
