Kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (39), menjadi sorotan masyarakat setelah terungkap bahwa ia mengalami kondisi psikologis yang cukup serius, yaitu burn out. Istilah yang belakangan ini sering dibahas ini bukanlah sekadar lelah biasa, melainkan kelelahan mental dan emosional yang diakibatkan oleh stres berkepanjangan.
Menurut Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor), Arya Daru menderita burn out yang merupakan akibat dari tekanan kerja yang berat. Ketua Umum Apsifor, Nathanael E. J. Sumampouw, menjelaskan bahwa meskipun Arya dikenal sebagai sosok yang positif dan penuh tanggung jawab, stres yang dialaminya dapat memengaruhi pandangannya terhadap diri sendiri dan lingkungannya. "Tekanan dihayati secara mendalam sehingga mempengaruhi bagaimana almarhum memandang masa depan," ungkap Nathanael dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya.
Apa Itu Burn Out?
Burn out adalah kondisi kelelahan yang ekstrem, meliputi aspek fisik, emosional, dan mental, akibat stres yang bersifat kronis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa burn out bukanlah penyakit, melainkan sindrom yang muncul sebagai respons terhadap tekanan kerja yang berkepanjangan. Penderita burn out biasanya merasa terkuras habis, kehilangan motivasi, serta memiliki pandangan negatif terhadap pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kelelahan ini lebih berat daripada stres biasa, karena akumulasi tekanan yang dialami dalam waktu yang panjang.
Mengenali Gejala Burn Out
Gejala burn out sering muncul secara bertahap dan berbeda-beda bagi setiap individu. Namun, ada tiga dimensi utama yang menjadi ciri khas dari kondisi ini:
- Kelelahan Ekstrem: Seseorang merasa sangat lelah secara fisik dan emosional. Bahkan, mereka merasa tidak memiliki energi yang tersisa meskipun telah beristirahat.
- Perasaan Sinis dan Menarik Diri: Penderita cenderung merasa frustrasi terhadap pekerjaan dan rekan kerja, serta menarik diri dari lingkungan sosial.
- Penurunan Kinerja dan Rasa Tidak Kompeten: Merasa tidak efektif dalam pekerjaan, meragukan kemampuan diri, dan mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi.
Gejala fisik seperti sakit kepala, nyeri otot, dan masalah tidur juga sering menyertai burn out. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mengurangi daya tahan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.
Penyebab Burn Out
Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan burn out, baik berasal dari lingkungan kerja maupun dari dalam diri sendiri. Beberapa di antaranya adalah:
- Beban Kerja Berlebihan: Tuntutan pekerjaan yang melebihi kapasitas individu.
- Kurangnya Kontrol: Ketidakmampuan untuk mengatur waktu dan keputusan yang terkait dengan pekerjaan.
- Kurang Apresiasi: Tidak merasa dihargai atas usaha dan kerja keras yang dilakukan.
- Lingkungan Kerja yang Toxic: Hubungan buruk dengan atasan atau rekan kerja.
- Ketidakseimbangan Hidup: Minimnya waktu untuk kehidupan pribadi dan istirahat.
- Ekspektasi yang Tidak Realistis: Target yang terlalu tinggi dari diri sendiri atau atasan.
Kondisi yang dialami Arya Daru menjadi pengingat akan pentingnya memahami dampak dari tekanan psikologis dalam pekerjaan. Meskipun ia berusaha menjaga sikap positif, Arya tampaknya kesulitan mengekspresikan emosi negatif di bawah tekanan yang tinggi.
Mengatasi Burn Out
Mengatasi burn out memerlukan kesadaran diri dan langkah konkret. Menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta mengambil waktu istirahat yang memadai merupakan langkah awal yang penting. Selain itu, mencari dukungan dari orang terdekat atau profesional seperti psikolog bisa membantu individu yang merasa terjebak dalam kondisi ini.
Kasus Arya Daru adalah pengingat serius bahwa burn out adalah masalah yang nyata dan sering terabaikan. Penting bagi kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental dan emosional, baik untuk diri sendiri maupun rekan kerja.
