Waspada! Menkes: Campak 18 Kali Lebih Menular dari COVID-19, KLB Mengancam Wilayah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penyakit campak yang tingkat penularannya jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19. Menurutnya, satu penderita campak dapat menularkan virus ke 18 orang sekaligus, sedangkan pada masa puncak, tingkat penularan virus COVID-19 hanya dua sampai tiga orang per pasien. Pernyataan ini disampaikan saat Menkes meninjau penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Kamis (28/8).

Penularan campak yang sangat cepat ini menempatkan penyakit tersebut sebagai ancaman serius bagi kesehatan publik. Campak bukan hanya penyakit anak-anak yang ringan, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia, ensefalitis, bahkan kematian. Risiko paling tinggi terjadi pada anak-anak yang belum menerima imunisasi lengkap dan memiliki status gizi yang buruk.

Langkah Pemerintah Menghadapi KLB Campak

Sebagai upaya menangani wabah campak di beberapa wilayah, pemerintah segera melakukan imunisasi massal untuk mencegah penyebaran lebih luas. Di Sumenep, target imunisasi adalah mencapai sekitar 70 ribu anak dalam waktu dua minggu. Kementerian Kesehatan telah menyiapkan sekitar 11 ribu vial vaksin, yang masing-masing cukup untuk delapan anak, sehingga total vaksin mencapai cakupan untuk 80 ribu anak.

Menkes Budi menegaskan bahwa imunisasi merupakan langkah penting untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) dan secara signifikan menurunkan angka penularan. “Kalau ada outbreak, tindakan nomor satu adalah melakukan imunisasi,” ujarnya. Pemerintah optimistis dengan target percepatan imunisasi, angka kasus campak dapat ditekan dengan cepat.

Data Tren Kasus Campak dan KLB di Indonesia

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya fluktuasi kasus campak dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, kasus campak menurun menjadi sekitar 3.500 kasus. Namun, hingga Agustus 2025, kasus sudah mencapai lebih dari 3.400 dan berpotensi mengalami lonjakan sampai akhir tahun. Berdasarkan catatan KLB campak:

  1. Tahun 2022 tercatat 64 KLB.
  2. Tahun 2023 meningkat menjadi 95 KLB.
  3. Tahun 2024 menurun menjadi 53 KLB.
  4. Tahun 2025 hingga Agustus sudah ada 46 KLB.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa ancaman campak masih nyata dan perlu menjadi perhatian serius dari berbagai pihak agar tidak menyebar semakin luas.

Tantangan Penanganan: Hoaks dan Anti Vaksinasi

Menkes Budi juga menyampaikan kekhawatirannya terkait peredaran hoaks yang menolak vaksinasi. Berbagai berita palsu yang beredar di media sosial dan grup WhatsApp terkadang membuat masyarakat takut atau ragu untuk melakukan imunisasi anak. Hal ini berpotensi menyebabkan peningkatan kasus penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin.

Ia menyatakan bahwa penyebaran informasi salah tentang vaksinasi sangat berbahaya dan telah terbukti menyebabkan kematian hingga puluhan anak hanya karena masyarakat enggan melakukan imunisasi. “Itu sangat berbahaya dan jahat,” ucapnya prihatin.

Pentingnya Vaksinasi Sebagai Benteng Terdepan

Vaksinasi campak telah terbukti efektif mencegah penyakit ini selama puluhan tahun. Dengan imunitas yang terbentuk melalui vaksin, risiko tertular penyakit dan komplikasi serius dapat diminimalisir secara signifikan. Menkes Budi mengajak seluruh orang tua agar memastikan anak-anak mereka mendapat imunisasi lengkap sesuai jadwal yang dianjurkan.

Selain vaksinasi, peningkatan status gizi anak juga menjadi faktor penting untuk menekan risiko komplikasi campak. Tenaga kesehatan dan pemerintah terus berupaya dalam edukasi dan distribusi vaksin agar cakupan imunisasi semakin luas.

Upaya percepatan imunisasi di daerah KLB seperti Sumenep menjadi contoh nyata strategi respons cepat pemerintah dalam menghadapi ancaman campak yang sangat mudah menular. Melalui kolaborasi antara lembaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat, diharapkan wabah dapat segera dikendalikan dan dampaknya diminimalisir.

Exit mobile version