Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan kondisi medis yang perlu diperhatikan sejak dini, terutama pada anak-anak usia balita. Defisiensi zat besi yang menyebabkan ADB dapat mengganggu produksi hemoglobin dan fungsi biologis penting lainnya. Kondisi ini rentan terjadi akibat pertumbuhan pesat yang meningkatkan kebutuhan zat besi dan berdampak negatif jangka panjang pada perkembangan anak.
Menurut Prof. Harapan Parlindungan Ringoringo, Dokter Spesialis Anak dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anemia defisiensi besi tidak hanya mengancam anak usia balita tetapi bahkan bayi yang baru lahir. Data global menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun mencapai hampir 40%, dengan angka di Indonesia sekitar 38,5%— mayoritas disebabkan oleh kekurangan zat besi.
Faktor Penyebab Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Terdapat lima faktor utama yang menyebabkan anak mengalami anemia defisiensi besi:
-
Cadangan zat besi rendah sejak lahir, yang biasanya terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram), bayi kembar, ibu hamil yang anemia, atau adanya perdarahan janin saat kehamilan.
-
Kekurangan asupan makanan yang mengandung zat besi, khususnya zat besi heme dari sumber hewani seperti daging merah dan ati ayam.
-
Kebutuhan zat besi yang meningkat seiring pertumbuhan terutama dalam dua tahun pertama kehidupan, kadang tidak diimbangi dengan konsumsi yang cukup, ditambah infeksi berulang yang memperburuk kondisi.
-
Gangguan penyerapan zat besi (malabsorpsi) akibat diare kronis atau kekurangan gizi, sehingga zat besi yang masuk tidak sepenuhnya diserap tubuh.
- Kondisi khusus pada remaja perempuan yang mulai mengalami menstruasi, yang bisa menyebabkan kehilangan darah berlebihan dan berkontribusi pada anemia.
Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Gejala anemia defisiensi besi pada anak bisa bervariasi, namun beberapa tanda berikut penting untuk diperhatikan:
- Pada bayi, kondisi rewel tanpa sebab jelas meskipun kebutuhan makan dan buang air telah terpenuhi.
- Pada anak yang lebih besar, muncul gejala dikenal sebagai 5L, yaitu Lelah, Letih, Lesu, Lunglai, dan Lalai. Anak sering tampak kurang bersemangat bermain lama.
- Pucat pada kulit, terutama terlihat jelas di telapak tangan, telapak kaki, dan area sekitar mata.
- Lidah yang tampak licin tanpa tekstur seperti biasanya.
- Perubahan pada kuku tangan yang menjadi cembung ke dalam atau berbentuk sendok (spoon nails).
- Hilangnya selera makan, tampak lesu, gangguan perilaku, mudah sakit, serta sulit berkonsentrasi saat belajar.
Standar Diagnosis Anemia pada Anak
Berdasarkan pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak-anak dikatakan mengalami anemia jika kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah batas normal berikut:
- Kurang dari 11 g/dL untuk anak usia 6 bulan sampai 5 tahun.
- Kurang dari 11,5 g/dL untuk anak usia 5 sampai 12 tahun.
- Kurang dari 12 g/dL untuk anak usia 12 sampai 15 tahun.
Contohnya, anak usia 3 tahun dengan kadar Hb 10,5 g/dL sudah dikategorikan terkena anemia.
Penanganan dan Terapi Anemia Defisiensi Besi
Penanganan utama ADB pada anak adalah pemberian suplemen zat besi sesuai dosis yang dianjurkan dokter dan disesuaikan dengan berat badan anak. Suplemen ini dapat berupa tablet atau sirup, dengan aturan konsumsi yang disarankan 30 sampai 45 menit sebelum makan atau minimal dua jam setelah makan. Penting juga untuk menghindari konsumsi suplemen bersamaan dengan makanan atau minuman yang menghambat penyerapan zat besi, seperti teh, kopi, atau susu.
Selain itu, peningkatan asupan makanan yang kaya zat besi heme seperti daging sapi, ayam, ikan, dan makanan yang mengandung vitamin C juga diperlukan untuk memperbaiki cadangan besi dan meningkatkan penyerapan. Vitamin C dari buah seperti jeruk atau stroberi dapat membantu proses ini secara signifikan.
Menjaga keseimbangan asupan zat besi dan memperhatikan gejala anemia sejak dini sangatlah penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang pada anak. Deteksi dan terapi yang tepat dapat mengoptimalkan tumbuh kembang fisik dan kognitif anak demi masa depan yang lebih sehat dan produktif.
