Sekitar 50 hingga 75 persen ibu hamil mengalami nyeri selama masa kehamilan, namun banyak dari kasus tersebut tidak mendapat penanganan yang memadai. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko serius bagi kesehatan ibu dan janin yang dikandung. Ahli dari University of Iowa, Julie Vignato, mengungkapkan bahwa ketakutan ibu hamil untuk mengonsumsi obat atau menjalani perawatan karena khawatir membahayakan janin justru dapat memperburuk dampak nyeri tersebut.
Menurut Vignato, banyak ibu hamil yang menganggap nyeri sebagai ketidaknyamanan sementara yang biasa dialami selama kehamilan dan akan hilang setelah persalinan. Padahal, pada sebagian perempuan, nyeri bisa sangat parah hingga mengganggu kualitas hidup, termasuk waktu tidur, aktivitas pekerjaan, dan perawatan anak lainnya. Bahkan dalam beberapa kasus, rasa sakit seperti nyeri punggung atau sakit kepala dapat bertahan lama hingga lebih dari tiga bulan setelah melahirkan, berkembang menjadi masalah kronis yang memengaruhi kesehatan secara menyeluruh.
Penyebab dan Dampak Nyeri Kehamilan
Nyeri yang dialami ibu hamil biasanya disebabkan oleh perubahan hormon dan pelonggaran sendi panggul yang terjadi secara alami selama kehamilan. Pertambahan berat janin juga berkontribusi pada perubahan postur tubuh, termasuk kelengkungan tulang belakang yang tidak normal atau lordosis. Kondisi ini terutama dirasakan di trimester ketiga dan memperparah rasa sakit pada punggung dan panggul.
Sayangnya, penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa lebih dari separuh ibu hamil yang melaporkan nyeri tidak mendapatkan penanganan yang tepat dari tenaga medis. Hal ini didasari oleh minimnya perhatian terhadap keluhan nyeri, karena asumsi bahwa kondisi tersebut adalah hal yang normal dan sementara.
Keterbatasan Pilihan Pengobatan
Pilihan terapi nyeri untuk ibu hamil masih terbatas. Obat pereda nyeri seperti paracetamol umumnya dianggap aman dan efektif untuk nyeri ringan, tetapi tidak cukup untuk nyeri yang lebih berat. Terapi alternatif yang disarankan meliputi penggunaan kompres panas, pijat, terapi chiropractic, olahraga, dan fisioterapi. Pendekatan yang paling efektif biasanya menggabungkan beberapa metode ini dengan latihan di bawah pengawasan fisioterapis. Namun, akses dan biaya menjadi kendala bagi sebagian ibu hamil untuk mendapatkan perawatan yang optimal.
Selain itu, penggunaan sabuk penyangga perut juga dapat membantu mengurangi beban dan nyeri punggung, meski efeknya beragam pada tiap individu.
Stigma dan Beban Psikologis
Banyak ibu hamil hanya disarankan untuk beristirahat, minum obat ringan, atau mengambil cuti dari aktivitas sehari-hari. Namun, saran ini tidak selalu mudah dijalankan, terutama bagi perempuan yang masih harus bekerja atau merawat anak lain. Kondisi ini menyebabkan ibu hamil menahan nyeri sambil tetap beraktivitas, dan berpotensi mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.
Rasa bersalah terhadap ketidakmampuan memenuhi ekspektasi diri sendiri bahkan memicu stres dan risiko depresi selama kehamilan. Oleh sebab itu, penanganan nyeri tidak hanya penting untuk aspek fisik, tetapi juga kesehatan mental ibu.
Upaya Penanganan dan Dukungan yang Diperlukan
Julie Vignato menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara ibu hamil dan tenaga kesehatan. Ibu didorong untuk jujur menyampaikan keluhan nyeri dan aktif bertanya mengenai pilihan pengobatan yang aman selama kehamilan. Dukungan keluarga, terutama pasangan, juga memainkan peran penting dalam membantu ibu menjalani masa kehamilan dengan nyaman.
Berikut beberapa langkah yang disarankan untuk ibu hamil dalam menghadapi nyeri:
- Mencatat intensitas dan jenis nyeri sebelum konsultasi medis.
- Mengajukan pertanyaan terkait pilihan terapi yang aman dan tepat.
- Meminta dukungan keluarga untuk membantu menjalani perawatan.
- Jika dijumpai kendala asuransi, meminta bantuan dokter untuk mengajukan banding agar terapi penting tetap dapat dilakukan.
Menurut Vignato, kehamilan merupakan waktu penting untuk mendengarkan tubuh sendiri. Menangani keluhan nyeri bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk perhatian pada diri sendiri dan janin yang dikandung.
Dengan demikian, nyeri yang sering dianggap remeh selama kehamilan harus mendapat perhatian serius agar tidak menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang pada ibu maupun anak. Pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat sangat direkomendasikan agar ibu dapat melewati masa kehamilan dengan lebih aman dan nyaman.
Source: www.beritasatu.com
