Kasus Demam Berdarah Diprediksi Meningkat, Waspada Dampak Kesehatan & Finansial

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia diperkirakan akan meningkat secara signifikan pada tahun ini, sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi kesehatan masyarakat dan sistem ekonomi nasional. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan lonjakan kasus yang cukup dramatis, dari 114.720 kasus pada 2023 menjadi 257.271 kasus pada 2024. Hingga akhir Oktober 2025, tercatat sudah 131.393 kasus dan 544 kematian akibat dengue, menandakan bahwa penyakit ini masih menjadi ancaman besar yang membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan.

Peningkatan Kasus dan Prediksi Musim Hujan

Derek Wallace, President Global Vaccine Business Unit Takeda Pharmaceuticals, menyatakan bahwa dalam lima tahun terakhir dunia mengalami peningkatan signifikan kasus dengue. Hingga April 2024, lebih dari 7,6 juta kasus dengue telah dilaporkan ke WHO dengan lebih dari 3.000 kematian. Indonesia sendiri menyumbang sekitar 66 persen kematian akibat dengue di Asia tahun lalu.

BMKG memprediksi musim hujan 2025/2026 akan dimulai lebih awal pada Agustus di beberapa wilayah Indonesia dengan puncaknya antara November-Desember 2025, dan Januari-Februari 2026 di Kalimantan Timur. Cuaca ini berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebaran dengue, melalui bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Kondisi tersebut memperbesar risiko penularan dengue secara masif.

Dampak Kesehatan dan Ekonomi

Dampak dari epidemi dengue tidak hanya pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan beban berat bagi sistem pelayanan kesehatan dan perekonomian. Data BPJS Kesehatan memperlihatkan kenaikan biaya klaim perawatan pasien dengue yang cukup drastis, yakni dari Rp626 miliar pada 2021, naik menjadi Rp1,39 triliun pada 2022 dan mencapai Rp2,9 triliun pada 2024 untuk lebih dari satu juta kasus rawat inap.

Prof. dr. Ghufron Mukti, Direktur Utama BPJS Kesehatan, menegaskan bahwa program JKN menjamin pemeriksaan dan pengobatan dengue mulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga rujukan rumah sakit berdasarkan indikasi medis. Ini memastikan akses layanan kesehatan yang terintegrasi bagi pasien dengue tanpa terkecuali.

Secara klinis, infeksi dengue pada orang dewasa dengan kondisi kesehatan penyerta (komorbiditas) seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan gangguan ginjal kronis dapat mengalami komplikasi lebih berat. Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi dari PAPDI menyebutkan risiko keparahan bisa meningkat 2 hingga 7 kali lipat dibandingkan pasien tanpa komorbiditas.

Selain itu, dengue juga mengganggu produktivitas kerja karena penderita rata-rata harus absen selama enam hari dan mengalami kelelahan berkepanjangan. Risiko berulangnya infeksi dengue juga memperbesar kemungkinan kejadian dengue berat yang mematikan.

Anak-anak dan Fase Kritis Dengue

Kelompok anak-anak paling rentan terhadap komplikasi dengue berat. Sekitar 43% kasus dengue pada 2024 terjadi pada anak di bawah 14 tahun dengan angka kematian 53% paling tinggi pada usia 5-14 tahun. Fase kritis penyakit ini terjadi pada hari keempat hingga kelima demam, dengan risiko syok yang dapat menyebabkan kematian bila tidak cepat ditangani.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Ketua Satgas Imunisasi IDAI, mengingatkan bahwa penurunan demam bukan jaminan kesembuhan total. Orang tua harus waspada terhadap tanda-tanda syok seperti lemas, pucat, dan nyeri perut hebat, serta mengusahakan penanganan medis segera.

Upaya Pencegahan dan Strategi Nasional

Upaya pencegahan dengue dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan multi-sektoral. Kementerian Kesehatan telah mengimplementasikan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 dengan memperkuat surveilans, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, dan memperluas akses imunisasi.

Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI merekomendasikan vaksin dengue dimasukkan ke dalam jadwal imunisasi dewasa untuk memperkuat perlindungan kelompok rentan. Vaksinasi, bersama dengan penerapan program 3M plus (menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air), menjadi langkah penting mengurangi populasi nyamuk dan risiko penularan.

Dr. Asik Surya, Ketua Harian Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR), menekankan pentingnya kepemimpinan kolaboratif lintas sektor dan tingkat komunitas guna memperkuat pengendalian dengue. Kepemimpinan ini harus didukung data yang kuat untuk beralih ke strategi prediktif dan preventif sehingga target Zero Dengue Deaths pada 2030 dapat terwujud.

Beban Sosial Ekonomi dan Harapan ke Depan

Selain klaim biaya layanan kesehatan, masyarakat masih menanggung biaya langsung maupun tidak langsung lain seperti kehilangan produktivitas, pengeluaran asuransi swasta, dan dampak psikososial. Oleh sebab itu, pencegahan dini, pelibatan seluruh lapisan masyarakat, dan koordinasi lintas sektor sangat diperlukan.

Pelaksana Harian Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menyatakan komitmen pemerintah untuk mempercepat inovasi dan memastikan pemerataan akses pencegahan dengue. Langkah ini diharapkan bisa membangun ketahanan masyarakat demi mengurangi beban penyakit dan menyambut masa depan tanpa ancaman demam berdarah di Indonesia.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version