Rahim copot atau prolaps uterus menjadi kondisi yang cukup mengkhawatirkan bagi banyak wanita, terutama pascamelahirkan. Kondisi ini terjadi ketika rahim turun dari posisi normal dan bahkan bisa keluar melalui vagina akibat melemahnya otot dasar panggul.
Salah satu solusi nonbedah yang kini banyak dibicarakan adalah penggunaan ring pessarium. Alat ini berupa cincin silikon yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menopang rahim agar tidak bergeser lebih jauh. Menurut Mayo Clinic, ring pessarium efektif untuk kasus prolaps ringan hingga sedang tanpa harus melakukan operasi invasif.
Mengenal Kondisi Rahim Copot
Rahim copot sering dialami oleh wanita setelah melahirkan, menopause, atau yang memiliki obesitas. Gejala yang timbul mulai dari rasa tidak nyaman, kesulitan buang air kecil, hingga gangguan pada hubungan intim. Prolaps uterus ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius jika tidak segera ditangani dengan benar.
Kasus rahim copot pernah menjadi viral di Indonesia, ketika seorang ibu yang melahirkan oleh dukun beranak mengalami rahim tertarik keluar bersamaan dengan plasenta akibat tarikkan paksa. Beruntung, tim medis di RSUD Garut bisa menyelamatkan pasien tersebut meski dengan risiko tinggi.
Apa Itu Ring Pessarium dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Ring pessarium bekerja dengan menopang rahim agar tidak turun lebih jauh. Alat ini ideal dipakai pada kasus prolaps yang tidak terlalu parah. NHS (National Health Service) bahkan merekomendasikan ring pessarium sebagai opsi pertama bagi wanita yang ingin menghindari operasi, terutama yang masih ingin memiliki anak.
Pemasangan ring pessarium cukup sederhana dan dilakukan di klinik tanpa memerlukan anestesi umum. Prosedurnya meliputi pemeriksaan panggul, pemilihan tipe pessarium yang sesuai, dan pemasangan dengan pelumas atau lidokain untuk mengurangi ketidaknyamanan. Biasanya, proses ini berlangsung 10-15 menit dan pasien akan diminta menguji kestabilan alat dengan berdiri atau batuk.
Manfaat Ring Pessarium bagi Penderita Rahim Copot
Ring pessarium menawarkan banyak keunggulan dibanding operasi. Berikut manfaat utamanya:
- Tidak invasif sehingga tidak ada sayatan dan pemulihan lebih cepat.
- Mengurangi gejala bulging pada vagina hingga 80% pada kasus ringan.
- Fleksibel dan bisa dilepas untuk hubungan intim atau saat tidur.
- Memudahkan pasien menjalani aktivitas sehari-hari tanpa terganggu.
- Menjadi pilihan terbaik bagi wanita lanjut usia dan yang menghindari operasi.
Data dari Mayo Clinic juga menunjukkan pasien yang memakai pessarium merasa lebih puas dengan hasil jangka panjang dibandingkan langsung operasi.
Risiko dan Perawatan Agar Pessarium Aman Dipakai
Meski aman, ring pessarium tetap memiliki risiko seperti iritasi atau infeksi akibat gesekan berlebih dan ketidaknyamanan jika ukuran tidak tepat. Komplikasi lain yang jarang terjadi adalah erosi dinding vagina.
Perawatan harian sangat penting, antara lain:
- Cuci tangan sebelum melepas/material pessarium.
- Bersihkan dengan sabun ringan dan air hangat.
- Keringkan sebelum memasang kembali.
- Rutin lakukan pembersihan 1 kali seminggu atau setiap malam.
- Pemeriksaan ke dokter setiap 3-6 bulan.
Jika pasien kesulitan melepas pessarium sendiri atau mengalami iritasi, sebaiknya segera konsultasi ke dokter.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?
Segera periksakan ke dokter bila timbul tonjolan di vagina, kesulitan buang air besar, atau infeksi berulang. Diagnosis dan pengobatan dini akan mencegah prolaps menjadi lebih parah dan meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan tanpa operasi.
Penerapan ring pessarium membuktikan bahwa rahim copot dapat ditangani dengan cara yang aman, efisien, dan minim risiko. Bagi banyak wanita, alat ini menjadi harapan baru yang bisa membantu mereka kembali menjalani aktivitas normal dengan nyaman. Selalu konsultasikan dengan dokter kandungan untuk menentukan solusi yang paling tepat sesuai kondisi pribadi Anda.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com