Sering Terabaikan, Aritmia Berbahaya: Cara Deteksi Dini dan Pencegahannya yang Efektif

Sering kali aritmia, gangguan irama jantung, terabaikan oleh masyarakat. Padahal, kondisi ini bisa berbahaya dan menyebabkan kematian mendadak jika tidak ditangani dengan baik.

Aritmia terjadi ketika detak jantung menjadi lebih cepat, lebih lambat, atau tidak teratur. Head of Pulse Day Task Force, dr. Dicky Armein Hanafy, menyatakan bahwa irama jantung tidak teratur dapat menyebabkan pembentukan gumpalan darah.

Gumpalan tersebut berpotensi memicu stroke, gagal jantung, dan komplikasi sistem kardiovaskular lain. Lebih jauh, kondisi yang berat bisa menyebabkan Sudden Cardiac Death (SCD) atau kematian jantung mendadak.

Menurut dr. Agung Fabian Chandranegara dari Indonesian Heart Rhythm Society, SCD menyumbang sekitar 10-15 persen kematian global. Insiden SCD dilaporkan sekitar 40-100 kasus per 100.000 orang per tahun di populasi umum.

Pria memiliki risiko lebih tinggi dibanding wanita, dengan angka kematian 5,23 banding 2,71. Oleh karena itu, deteksi dini dan pencegahan menjadi langkah penting agar risiko fatal dapat diminimalisasi.

Cara Mendeteksi Aritmia
Deteksi aritmia dapat dilakukan dengan mengenali gejala awal gangguan irama jantung. Ciri yang harus diwaspadai meliputi:

  1. Detak jantung tidak teratur atau berdebar keras.
  2. Nyeri dada mendadak tanpa sebab jelas.
  3. Sesak napas yang tidak biasa saat beraktivitas.
  4. Mudah merasa lelah dan pingsan tanpa alasan.

Jika mengalami tanda tersebut, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis jantung. Pemeriksaan lanjutan seperti EKG (elektrokardiografi), ekokardiografi, atau Holter monitoring mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Langkah Pencegahan Aritmia
Pencegahan aritmia berfokus pada gaya hidup sehat dan kontrol kondisi kesehatan. Berikut beberapa tips pencegahan:

  1. Periksa tekanan darah, gula darah, dan kolesterol minimal setahun sekali.
  2. Hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
  3. Rutin berolahraga dengan intensitas sedang dan sesuai kondisi tubuh.
  4. Cukup istirahat dengan waktu tidur yang berkualitas.
  5. Kelola stres agar tekanan darah dan detak jantung tetap stabil.

Orang dengan riwayat keluarga meninggal mendadak atau berkeluhan jantung berdebar tidak terkontrol wajib melakukan evaluasi medis secara rutin.

Peran Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam Penanganan Aritmia
Selain pencegahan dan deteksi dini, masyarakat juga perlu mengenal Bantuan Hidup Dasar (BHD) seperti resusitasi jantung paru (RJP/CPR). Menurut dr. Agung, CPR dapat meningkatkan peluang hidup korban henti jantung hingga tiga sampai empat kali lipat.

Semakin banyak orang yang menguasai CPR, semakin besar kesempatan penyelamatan nyawa. Penggunaan Automated External Defibrillator (AED) juga penting sebagai pertolongan pertama di tempat umum sebelum bantuan medis tiba.

Gerakan MEraba NAdi SendiRI (MENARI) dalam Kampanye Pulse Day
Pulse Day yang diperingati setiap 1 Maret bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap aritmia. Kampanye MENARI mengajak individu untuk rutin memeriksa irama jantung sendiri.

Cara sederhana pengecekan denyut nadi yaitu meletakkan jari telunjuk dan tengah di pergelangan tangan atau leher. Hitung denyut selama 30 detik lalu kalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit.

Detak jantung normal berkisar antara 60 sampai 100 detak per menit. Jika denyut tidak teratur atau berada di luar rentang normal, dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Dengan mengenali ciri, melakukan pencegahan, dan pemeriksaan rutin, risiko komplikasi berbahaya akibat aritmia dapat diminimalkan. Kesadaran ini penting agar gangguan irama jantung tidak menjadi ancaman yang luput dari perhatian masyarakat.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version