Kenapa Bulan Januari Terasa Lama? Ini 5 Alasan Psikologis yang Perlu Kamu Tahu!

Banyak orang merasa bulan Januari terasa lebih lama meski secara kalender memiliki jumlah hari yang sama dengan bulan lain, yaitu 31 hari. Perasaan waktu yang melambat ini bukan sekadar ilusi, melainkan ada dasar psikologis dan ilmiah yang mendukung fenomena tersebut.

Salah satu penyebab utama adalah penurunan hormon kebahagiaan setelah musim liburan. Psikolog klinis Chloe Carmichael menjelaskan bahwa selama Desember, tubuh kita dibanjiri dopamin saat berinteraksi sosial dan menikmati momen liburan. Setelah liburan, kadar dopamin menurun drastis sehingga muncul perasaan kehilangan, lelah, dan suasana hati yang mudah berubah.

1. Hipotesis Jam Dopamin

Hipotesis ini menjelaskan bagaimana dopamin memengaruhi persepsi kita soal waktu. Saat tingkat dopamin tinggi, jam internal kita bekerja lebih cepat sehingga waktu terasa berlalu dengan cepat, seperti saat sedang senang. Setelah liburan, ketika dopamin turun, jam internal melambat. Peneliti Zhenguang Cai dari University College London menyebutkan bahwa kebosanan dan rutinitas monoton membuat kita lebih sering memperhatikan waktu, yang justru membuat hari-hari terasa lebih panjang.

2. Stres Finansial Setelah Liburan

Bulan Januari sering dianggap sebagai bulan keuangan yang menantang. Pengeluaran besar akhir tahun, misalnya untuk membeli hadiah atau liburan, berdampak pada kondisi finansial yang menipis. Carmichael menambahkan bahwa tagihan kartu kredit dan saldo menipis dapat memicu kecemasan dan stres. Ketika kita fokus pada masalah ini, waktu seakan berhenti karena pikiran terpusat pada ketidaknyamanan tersebut.

3. Tekanan Menjalani Resolusi Tahun Baru

Januari identik dengan resolusi dan target baru. Psikolog Pauline Wallin dari Mix Syok menyatakan bahwa tekanan untuk segera berubah menjadi versi terbaik diri sendiri dapat menimbulkan stres tambahan. Rasa bersalah jika resolusi tidak tercapai serta kecemasan menghadapi masa depan membuat bulan ini terasa penuh beban dan lambat berlalu.

4. Cuaca Mendung dan Kekurangan Sinar Matahari

Lingkungan juga berkontribusi pada persepsi waktu di Januari. Di banyak wilayah, cuaca pada bulan ini cenderung mendung, hujan, dan dingin. Kurangnya paparan sinar matahari dapat menyebabkan Seasonal Affective Disorder (SAD) atau yang dikenal juga sebagai winter blues. Profesor David Whitmore dari UCL mengemukakan bahwa hari yang lebih cepat gelap membuat kita merasa hari lebih singkat, padahal sebenarnya belum sore. Kondisi ini membuat tubuh merasa lelah dan suasana hati menjadi suram, sehingga waktu berjalan terasa lambat.

5. Kehilangan Momen Sosial dan Aktivitas Menyenangkan

Setelah kemeriahan akhir tahun selesai, aktivitas sosial berkurang drastis. Tidak ada lagi acara seru yang dinantikan membuat motivasi berkurang dan rutinitas menjadi monoton. Tanpa stimulasi positif, otak kita tidak mendapat dorongan dopamin yang menggerakkan persepsi waktu cepat. Akibatnya, hari-hari terasa monoton dan berkepanjangan.

Fenomena "Januari terasa lama" bukan hanya persepsi tanpa dasar, tetapi berakar dari berbagai faktor psikologis dan lingkungan. Turunnya hormon dopamin, tekanan finansial, ekspektasi diri yang tinggi, hingga cuaca yang suram saling bekerja sama membuat bulan pertama dalam setahun seringkali terasa tak berujung. Menyadari hal ini bisa membantu kita lebih memahami kondisi diri dan mengelola perasaan agar Januari dapat dilewati dengan lebih ringan.

Exit mobile version