Nama artis Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan netizen setelah meluncurkan sebuah memoar berjudul "Broken String". Memoar ini berisi pengalaman pribadinya, termasuk kisah menjadi korban manipulasi dan grooming saat usianya baru 15 tahun. Memoar yang dibagikan gratis melalui akun Instagramnya ini mengungkap hubungan sulit dengan pria yang berusia hampir dua kali lebih tua dari dia.
Grooming merupakan tindakan manipulasi yang disengaja untuk mengendalikan anak atau remaja, sekaligus keluarga dan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan pelecehan atau kekerasan seksual. Definisi ini diambil dari National Office for Child Safety yang menjelaskan grooming bisa terjadi lewat rangkaian bentuk manipulasi psikologis agar pelaku mendapat akses tanpa pengawasan ke korban.
Tahapan Grooming yang Sering Terjadi
Proses grooming biasanya melalui beberapa tahap meskipun urutannya bisa berbeda-beda. Pelaku akan:
- Menargetkan Korban: Biasanya anak yang memiliki kerentanan sosial, ekonomi, atau emosional.
- Membangun Kepercayaan: Pelaku berlagak sangat perhatian dengan memberikan hadiah dan dukungan, tidak hanya pada anak tapi juga keluarga.
- Mengisolasi Korban: Pelaku berusaha menjauhkan anak dari teman dan keluarga yang mendukung.
- Seksualisasi: Pembicaraan atau pengenalan perilaku seksual mulai diperkenalkan secara perlahan agar dianggap normal.
- Kontrol: Pelaku menggunakan ancaman, rasa malu, dan paksaan agar korban berhenti mengungkapkan pelecehan.
Ulasan dari Bravehearts menyatakan bahwa pelaku grooming sering kali disukai dan dipercaya oleh korban maupun orang di sekitarnya. Proses ini dapat berlangsung lama, bahkan bertahun-tahun, dengan tujuan akhir mengendalikan korban secara penuh.
Mengenali Tanda-Tanda Grooming
Sangat penting mengenali gejala agar korban bisa terlindungi lebih awal. Tanda-tanda yang bisa diperhatikan antara lain:
- Membentuk hubungan yang sangat dekat dengan orang yang lebih tua.
- Menerima hadiah atau uang yang tidak jelas sumbernya.
- Sangat merahasiakan aktivitas menggunakan telpon atau media sosial.
- Menghilang dalam waktu lama dan terlihat lelah terus-menerus, termasuk di sekolah.
- Tidak jujur mengenai keberadaan dan aktivitas sehari-hari.
- Menggunakan identitas palsu atau memiliki barang-barang aneh seperti paspor atau ponsel baru.
- Dijemput oleh teman yang lebih tua atau kenalan baru dari sekolah.
Dampak Grooming bagi Korban
Korban grooming sering mengalami gangguan psikologis yang cukup serius. Mereka bisa merasa bingung, takut, dan bersalah, bahkan memiliki ikatan emosional dengan pelaku. Beberapa korban mungkin menganggap pelecehan yang dialaminya sebagai kesalahan sendiri dan takut berbicara karena khawatir tidak dipercaya atau akan dipisahkan dari keluarga. Kondisi ini menyebabkan distorsi identitas diri dan isolasi sosial.
Cara Pencegahan Grooming
Orang tua dan pengasuh memiliki peran vital untuk mencegah grooming dengan mengedukasi anak mengenai batasan yang aman serta komunikasi terbuka tanpa stigma. Berikut beberapa langkah yang dianjurkan:
- Ajarkan anak mengenali situasi yang aman dan tidak aman serta bagaimana tubuh bereaksi saat merasa takut.
- Bimbing anak mempraktikkan keamanan daring, seperti memblokir kontak tidak dikenal dan memperbarui pengaturan privasi.
- Tanamkan keberanian untuk melapor kepada orang dewasa terpercaya jika merasa tidak nyaman.
- Ajarkan anak bagaimana menolak rayuan atau permintaan yang tidak pantas.
- Kenali pentingnya persetujuan dan saling menghormati dalam setiap hubungan.
- Pastikan anak merasa aman dan didukung ketika ingin menceritakan pengalaman mereka.
Memoar Aurelie Moeremans yang berjudul "Broken String" memberi gambaran nyata tentang bagaimana korban menghadapi manipulasi dan perjuangan bertahan dari tindakan grooming. Melalui kesaksiannya, publik dapat belajar memahami dan mewaspadai grooming agar tidak terjadi pada anak-anak serta remaja di sekitar kita. Pengetahuan dan kewaspadaan adalah kunci utama perlindungan dari bahaya yang tersembunyi ini.
