Pendidikan merupakan hak dasar setiap manusia, namun tidak semua negara di dunia sudah bisa memberikan akses pendidikan yang layak kepada anak-anaknya. Berbagai masalah seperti konflik bersenjata, kemiskinan, dan krisis kemanusiaan membuat jutaan anak terpaksa putus sekolah dan kehilangan kesempatan belajar. Kondisi ini berdampak langsung pada masa depan mereka, sekaligus menimbulkan tantangan global yang belum selesai hingga saat ini.
Beberapa negara bahkan menunjukkan tingkat akses pendidikan yang sangat rendah, dengan rata-rata lama sekolah yang jauh di bawah standar ideal. Data dari laman Concern memperlihatkan beberapa negara yang masih menghadapi kesulitan besar dalam menyediakan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi anak-anaknya.
1. Pakistan
Di Pakistan, sekitar 26,2 juta anak terpaksa berhenti sekolah. Anak perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak karena pembatasan sosial dan budaya yang masih kuat. Rata-rata masa pendidikan anak-anak di Pakistan mencapai 4,3 tahun, jauh di bawah standar ideal 7,9 tahun. Ketidakmampuan sistem pendidikan dan keterbatasan pendanaan menjadi penyebab utama masalah ini.
2. Somalia
Somalia menghadapi krisis berkepanjangan akibat konflik bersenjata, perubahan iklim, dan kemiskinan ekstrem. Sekitar 4 juta anak tidak mendapatkan akses ke bangku sekolah. Anak-anak yang masih bersekolah rata-rata hanya menempuh pendidikan selama 1,9 tahun, jauh dari ideal 7,5 tahun. Kondisi fasilitas sekolah sangat buruk, sementara jarak tempuh ke sekolah sering kali sangat jauh.
3. Sudan
Konflik panjang di Sudan membuat sekitar 19 juta anak putus sekolah. Lebih dari 90 persen sekolah di negara ini dilaporkan tutup, rusak, atau tidak bisa dijangkau sejak April 2023. Meski idealnya anak di Sudan dapat bersekolah selama 8,6 tahun, kenyataannya mereka hanya memperoleh pendidikan selama 4 tahun saja.
4. Niger
Situasi pendidikan di Niger sangat memprihatinkan dengan rata-rata masa sekolah hanya 1,4 tahun dari target ideal 8,3 tahun. Pada awal 2024, sebanyak 940 sekolah ditutup, sehingga lebih dari 74.000 siswa dan sekitar 1.800 guru kehilangan tempat belajar dan mengajar. Faktor kemiskinan dan ketidakstabilan membuat pemenuhan hak pendidikan sulit tercapai.
5. Burkina Faso
Sekitar 43 persen populasi Burkina Faso adalah anak-anak di bawah 14 tahun. Namun, akses pendidikan yang aman dan merata masih menjadi masalah besar di sana. Data Bank Dunia menunjukkan 74 persen siswa di akhir sekolah dasar belum lancar membaca dan 67 persen belum mencapai standar literasi minimal. Selain itu, lebih dari 6.100 sekolah ditutup dalam setahun karena masalah keamanan.
6. Etiopia
Selama periode 2020-2022, Etiopia mengalami penurunan pendaftaran anak di sekolah dasar hingga 25 persen. Konflik dan pandemi Covid-19 menjadi faktor utama penurunan akses ini. Wilayah Amhara menjadi yang paling parah terdampak, dengan 2,6 juta anak putus sekolah dan lebih dari 3.700 sekolah ditutup. Rata-rata masa belajar anak hanya 2,4 tahun dari target ideal 9,2 tahun.
7. Mali
Mali juga menghadapi kesulitan besar dalam memberikan akses pendidikan. Konflik bersenjata berkepanjangan dan kemiskinan membuat banyak keluarga mengutamakan kebutuhan sehari-hari dibandingkan pendidikan anak. Meskipun tingkat kelulusan sekolah dasar meningkat dari 38 persen pada 2010 menjadi 56,5 persen, rata-rata anak hanya mengenyam pendidikan selama 1,6 tahun dari target 7 tahun.
Fakta-fakta tersebut menegaskan bahwa tantangan pendidikan masih sangat besar di sejumlah negara berkembang. Kompleksitas masalah mulai dari konflik, kemiskinan, hingga infrastruktur yang tidak memadai memperburuk kesenjangan pendidikan global. Dari sisi kebijakan dan kemanusiaan, upaya berskala besar dan kolaborasi internasional sangat diperlukan untuk mengatasi persoalan ini.
Masih ada harapan jika berbagai sektor dapat bersama-sama mengupayakan solusi yang konkret. Perbaikan sistem pendidikan, peningkatan pendanaan, serta perlindungan terhadap anak-anak dalam situasi krisis harus menjadi prioritas global. Akses pendidikan yang merata tidak hanya membuka peluang masa depan lebih cerah bagi generasi muda, tetapi juga mendukung pembangunan dan stabilitas negara-negara tersebut.
Pendidikan berkualitas adalah kunci untuk mengatasi ketimpangan dan menciptakan dunia yang lebih adil. Upaya harus terus diintensifkan agar semua anak dapat merasakan haknya untuk belajar tanpa terkecuali.







