Kasus Daycare Jogja Jadi Alarm, IDAI Minta CCTV Real Time Wajib Dipantau Orangtua

Kasus kekerasan terhadap balita di penitipan anak Little Aresha, Yogyakarta, memicu peringatan keras dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Ketua IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa fasilitas CCTV di daycare bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan penting yang harus bisa dipantau orangtua secara real time.

Pesan itu muncul seiring sorotan terhadap keamanan anak saat berada jauh dari pengawasan keluarga. IDAI menilai pengawasan langsung melalui CCTV dapat membantu orangtua mengetahui apa yang terjadi pada anaknya selama berada di tempat penitipan.

IDAI dorong standarisasi daycare

Dr. Piprim mendesak adanya standarisasi daycare secara nasional agar setiap tempat penitipan anak memiliki acuan layanan dan pengawasan yang jelas. Menurut dia, standarisasi itu harus berada dalam pengawasan pakar.

Ia menilai langkah tersebut penting agar keamanan dan kenyamanan anak menjadi prioritas utama. Dengan standar yang benar, orangtua memiliki patokan yang lebih jelas saat memilih daycare.

IDAI juga mengingatkan agar orangtua tidak menjadikan harga murah sebagai pertimbangan utama. Penawaran biaya yang rendah tidak boleh mengalahkan faktor keselamatan anak.

Menurut Dr. Piprim, peristiwa kekerasan pada anak di daycare tidak boleh terus berulang. Ia menyinggung kasus di Jogja dan Aceh sebagai alarm bahwa perlindungan anak di tempat penitipan harus diperketat.

CCTV real time dinilai krusial

Salah satu poin yang paling ditekankan adalah ketersediaan CCTV yang dapat diakses orangtua. Bagi IDAI, sistem ini memberi lapisan pengawasan tambahan ketika anak berada di luar rumah.

Akses real time dinilai penting karena orangtua tidak hanya bergantung pada laporan pengelola daycare. Mereka juga bisa memantau situasi anak secara langsung dalam waktu yang sama.

Dorongan penggunaan CCTV juga berkaitan dengan upaya pencegahan tindak kekerasan. Kehadiran sistem pengawasan dinilai dapat memperkuat akuntabilitas pengelola penitipan anak.

Dalam pandangan IDAI, kebutuhan pengawasan itu sejalan dengan pentingnya pembenahan menyeluruh pada layanan daycare. Standar, pengawasan pakar, dan keterbukaan kepada orangtua disebut perlu berjalan bersama.

Tanda trauma pada anak jangan dianggap sepele

Selain soal fasilitas, IDAI meminta orangtua lebih peka membaca perubahan pada anak. Tanda kekerasan, menurut Dr. Piprim, tidak selalu tampak jelas secara kasat mata.

Anak yang mengalami kekerasan fisik maupun psikis dapat menunjukkan penolakan saat akan kembali ke lingkungan yang membuatnya tidak nyaman. Reaksi itu bisa muncul ketika anak hendak diantar lagi ke daycare.

Bentuknya dapat berupa tangisan berlebihan, rasa takut tanpa sebab yang jelas, atau perubahan sikap yang mendadak. Respons seperti ini tidak boleh dianggap sekadar drama biasa.

Dr. Piprim menilai penolakan dan ketakutan adalah alarm yang harus dibaca serius oleh orangtua. Apalagi jika perubahan itu muncul berulang dan berbeda dari kebiasaan anak sebelumnya.

Dalam sejumlah kasus, anak belum mampu menjelaskan pengalaman buruk yang dialaminya dengan kata-kata. Karena itu, perubahan perilaku justru menjadi petunjuk awal yang sangat penting.

Kekerasan fisik dan psikis sama-sama perlu diwaspadai

IDAI mengingatkan bahwa kekerasan pada anak tidak hanya berbentuk luka fisik. Dampak psikis juga bisa muncul dan sering kali lebih sulit dikenali sejak awal.

Untuk kekerasan fisik, orangtua diminta mewaspadai memar, luka, atau perubahan kondisi tubuh yang tidak memiliki penjelasan masuk akal. Tanda semacam ini perlu diperiksa dengan cermat dan tidak boleh diabaikan.

Sementara pada kekerasan psikis, indikatornya bisa berbeda. Anak dapat menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau justru menunjukkan kecemasan berlebih.

Perubahan emosi dan respons sehari-hari itu perlu diamati secara konsisten. Orangtua perlu melihat pola, bukan hanya satu kejadian yang berdiri sendiri.

Peran orangtua tetap jadi kunci

IDAI menekankan bahwa pengawasan teknologi tidak menggantikan peran orangtua. CCTV penting, tetapi kepekaan keluarga terhadap kondisi anak tetap menjadi garis pertahanan utama.

Pendekatan emosional disebut sangat penting, terutama ketika anak belum bisa bercerita dengan jelas. Komunikasi yang hangat dan aman akan membantu anak merasa nyaman untuk membuka diri.

Karena itu, orangtua diimbau lebih selektif sebelum menitipkan anak di daycare. Faktor keamanan, kenyamanan, sistem pengawasan, dan keterbukaan pengelola harus menjadi pertimbangan utama.

Peringatan ini muncul sebagai respons atas kasus kekerasan balita di Yogyakarta yang menyita perhatian publik. Bagi IDAI, langkah pencegahan harus dimulai dari standar daycare yang ketat dan keterlibatan aktif orangtua dalam memantau kondisi anak setiap hari.

Source: www.suara.com
Terkait