Nama Sony Sonjaya mendadak ramai dicari setelah eks Wakil Kepala Badan Gizi Nasional itu dikabarkan diamankan Kejaksaan Agung. Sorotan publik menguat karena ia bukan hanya pejabat yang baru dicopot, tetapi juga purnawirawan Polri berpangkat Inspektur Jenderal Polisi.
Kabar itu mencuat tak lama setelah pemerintah mengumumkan pergantian pimpinan di Badan Gizi Nasional. Dalam momentum yang berdekatan, nama Sony Sonjaya disebut bersama Dadan Hindayana dan Lodewyk Pusung.
Sony Sonjaya diketahui menjabat sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi sebelum diberhentikan pada Selasa, 2 Juni 2026. Ia mulai menempati posisi itu sejak 17 September 2025.
Pencopotan tersebut diumumkan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers. Selain Sony, Prasetyo juga mengumumkan pergantian Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN dan Lodewyk Pusung sebagai Wakil Kepala BGN.
Presiden Prabowo Subianto mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN. Sebagai pengganti, Prabowo menunjuk Nanik S. Deyang.
Dalam keterangannya, Prasetyo menyebut tiga nama pejabat yang diganti di tubuh BGN. Salah satunya adalah Sony Sonjaya yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional.
Tak lama setelah pengumuman itu, muncul kabar bahwa Kejagung menjemput Dadan Hindayana pada Rabu, 3 Juni 2026 sekitar pukul 04.00 WIB. Dua mantan petinggi BGN lain, termasuk Sony Sonjaya, juga disebut ikut diamankan.
Informasi mengenai penjemputan itu belum langsung dijelaskan secara rinci pada saat kabar beredar. Pelaksana Harian Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Jeffry, menyatakan pihaknya akan menyampaikan keterangan resmi pada sore hari.
Purnawirawan Polri dan lulusan Akpol 1991
Di luar jabatannya di BGN, Sony Sonjaya memiliki latar belakang panjang di institusi kepolisian. Ia merupakan purnawirawan Polri dengan pangkat terakhir Irjen Pol dan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1991.
Sony lahir di Bandung pada 20 Oktober 1967. Selama berkarier di kepolisian, ia banyak berkecimpung di bidang reserse, investigasi, dan penegakan hukum.
Rekam jejaknya di Polri mencakup sejumlah posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai Kapolres Majalengka dan Kapolres Bandung pada 2011.
Kariernya kemudian berlanjut di level yang lebih tinggi ketika dipercaya menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Barat pada 2012. Jabatan itu mempertegas profilnya sebagai perwira yang lama berkutat di bidang penanganan perkara.
Pada 2020, Sony menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh. Setahun kemudian, ia dipercaya memimpin Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh.
Selepas itu, ia menempati posisi Kabagrenopsnal Robinopsnal Bareskrim Polri pada 2022. Rangkaian jabatan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar karier Sony dibangun di ranah operasional kepolisian dan penegakan hukum.
Peran di Badan Gizi Nasional
Sebelum menjadi Wakil Kepala BGN, Sony lebih dulu bertugas sebagai Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II BGN. Ia juga pernah memegang peran sebagai Ketua Tim Verifikasi Badan Gizi Nasional.
Posisi-posisi itu menempatkan Sony dalam jalur kerja yang berkaitan dengan operasional dan penyaluran program. Karena itu, namanya ikut menjadi perhatian ketika perubahan besar terjadi di jajaran pimpinan lembaga tersebut.
Meningkatnya pencarian publik terhadap sosok Sony tidak lepas dari dua hal yang terjadi hampir bersamaan. Pertama, ia baru saja dicopot dari jabatan wakil kepala, dan kedua, namanya muncul dalam kabar penjemputan oleh Kejagung.
Dalam konteks itu, profil Sony menjadi penting untuk dipahami. Ia bukan figur baru di birokrasi keamanan, melainkan mantan perwira tinggi Polri yang kemudian masuk ke struktur Badan Gizi Nasional.
Sampai kabar penjemputan itu mencuat, perhatian publik masih tertuju pada penjelasan resmi aparat penegak hukum. Kejagung melalui Jeffry menyatakan keterangan resmi akan disampaikan, sementara nama Sony Sonjaya terus menjadi salah satu yang paling disorot dalam perkembangan kasus ini.
Source: www.suara.com