
Pencopotan mendadak Dadan Hindayana dari kursi Kepala Badan Gizi Nasional memicu tanda tanya besar. Pergantian itu terjadi hanya sekitar 48 jam setelah ia menggagas perluasan program Makan Bergizi Gratis ke Arab Saudi.
Waktu yang sangat berdekatan membuat spekulasi sulit dihindari. Di tengah pelaksanaan program di dalam negeri yang masih menyisakan tantangan distribusi dan logistik, wacana ekspansi ke luar negeri langsung menjadi sorotan.
Pengumuman perombakan disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa petang. Dadan resmi digantikan oleh Naniek S. Deyang.
Istana juga melantik dua Wakil Kepala BGN baru untuk memperkuat struktur organisasi. Namun, tidak ada penjelasan rinci yang disampaikan mengenai alasan di balik pemberhentian Dadan.
Ketiadaan penjelasan resmi membuat perhatian publik tertuju pada langkah Dadan beberapa hari sebelumnya. Saat itu, ia berada di Arab Saudi dan menyambangi Sekolah Indonesia Jeddah untuk meninjau pendidikan anak-anak pekerja migran Indonesia.
Dalam kunjungan itulah muncul gagasan yang kemudian menuai kontroversi. Dadan menyebut adanya aspirasi agar anak-anak PMI di Timur Tengah juga memperoleh fasilitas Makan Bergizi Gratis.
Wacana yang Memantik Polemik
Merespons aspirasi tersebut, Dadan disebut langsung menyusun draf rencana untuk memperluas layanan MBG ke luar negeri. Ia juga mengkaji regulasi untuk mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di lingkungan sekolah Indonesia di Jeddah.
Langkah itu menjadi sorotan karena muncul saat pelaksanaan MBG di dalam negeri belum sepenuhnya tuntas. Program yang menjadi andalan Presiden Prabowo Subianto itu masih menghadapi tantangan besar, terutama pada aspek distribusi logistik dan pemerataan layanan.
Karena itu, sebagian penilaian publik mengarah pada anggapan bahwa ide ekspansi ke Timur Tengah terlalu prematur. Wacana tersebut dinilai sebagai lompatan kebijakan yang belum sejalan dengan kebutuhan mendesak di dalam negeri.
Kontroversi tidak hanya muncul karena soal prioritas. Program sekelas MBG juga menuntut perhitungan anggaran negara yang sangat ketat, sehingga usulan perluasan lintas negara dipandang tidak bisa muncul secara spontan.
Dalam konteks itu, gagasan membangun layanan gizi di sekolah Indonesia di luar negeri dipandang berpotensi menambah beban kebijakan. Apalagi, urusan tersebut menyentuh aspek lintas lembaga dan membutuhkan koordinasi yang luas.
Mengapa Timing Jadi Sorotan
Yang membuat polemik makin tajam adalah jarak waktu antara wacana di Jeddah dan pencopotan di Istana. Selisih sekitar dua hari itu menimbulkan persepsi bahwa ada hubungan antara manuver kebijakan Dadan dan keputusan pergantian pimpinan BGN.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang memastikan hubungan sebab akibat tersebut. Namun, kedekatan waktunya membuat publik menilai wacana di Arab Saudi sebagai faktor yang patut diperhitungkan.
Di lingkungan pemerintahan, perluasan program yang bersinggungan dengan anggaran dan pelaksanaan lintas kementerian umumnya memerlukan pembahasan komprehensif. Karena itu, langkah yang terkesan spontan mudah dibaca sebagai persoalan koordinasi, bukan sekadar gagasan teknis.
Pernyataan Dadan yang berencana melaporkan draf usulan itu langsung kepada Presiden juga ikut disorot. Hal itu memunculkan anggapan bahwa pembahasan kebijakan strategis semestinya dibawa lebih dulu ke forum koordinasi yang tepat.
BGN memegang peran sentral dalam mengeksekusi program pemenuhan gizi nasional. Pergantian pimpinan di lembaga sepenting itu, apalagi tanpa penjelasan detail, wajar memunculkan banyak tafsir.
Tantangan untuk Pimpinan Baru
Dengan masuknya Naniek S. Deyang, fokus publik kini beralih pada arah baru BGN. Tantangan terdekat bukan sekadar menata ulang organisasi, tetapi memastikan pelaksanaan MBG berjalan lebih rapi dan terukur.
Harapan terbesar mengarah pada pembenahan prioritas di dalam negeri. Pemerataan layanan gizi, efektivitas distribusi, dan pengelolaan logistik menjadi pekerjaan rumah yang lebih mendesak daripada membuka cakrawala program ke luar negeri.
Perombakan ini juga dibaca sebagai pesan politik dan administratif dari Istana. Program strategis nasional tampaknya ingin dijaga tetap berada dalam koridor perencanaan yang hati-hati, disiplin koordinasi, dan fokus pada target utama.
Sampai ada keterangan resmi yang lebih lengkap, misteri pencopotan Dadan Hindayana masih terbuka untuk ditafsirkan. Namun satu hal sudah jelas, wacana makan gratis di Arab Saudi muncul tepat sebelum perubahan mendadak di pucuk Badan Gizi Nasional terjadi.
Source: www.suara.com








