Banyak orang mengira hidup penuh drama datang karena nasib buruk atau lingkungan yang sulit dikendalikan. Padahal, konflik yang terus berulang sering kali terkait dengan pola pikir, kebiasaan sehari-hari, dan lingkungan yang tanpa sadar terus memicu tekanan emosional.
Dalam sejumlah kasus, drama bahkan terasa akrab karena memberi sensasi yang intens. Saat hidup terlalu tenang, sebagian orang justru merasa kosong, lalu kembali mencari situasi yang memunculkan ketegangan, krisis kecil, atau emosi naik-turun.
Salah satu pemicu utamanya adalah ketertarikan pada konflik emosional yang terasa lebih “hidup” dibanding hubungan yang stabil. Ketika hubungan dipenuhi pertengkaran lalu berbaikan, otak menangkap kontras emosi itu sebagai sesuatu yang kuat dan bermakna.
Pola semacam ini bisa membuat seseorang seperti “ketagihan emosi”. Rasa lega setelah konflik mereda sering terasa lebih besar daripada kenyamanan yang lahir dari hubungan yang konsisten.
Akar lain yang sering tidak disadari berasal dari masa kecil yang kacau. Tumbuh di lingkungan yang tidak stabil dapat membuat kekacauan terasa normal, sehingga ketenangan justru terasa asing dan tidak nyaman.
Dr. Scott Lyons, psikolog klinis dan penulis Addicted to Drama, menggambarkan pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian. Dr. Bessel van der Kolk, penulis The Body Keeps the Score, menjelaskan bahwa orang yang dibesarkan dalam rumah tangga kacau cenderung sangat waspada dan terus memantau ancaman di sekitar mereka.
National Institute of Mental Health mencatat bahwa individu dengan latar belakang seperti itu memiliki kemungkinan dua kali lebih besar terlibat dalam perilaku berisiko tinggi. Risiko itu mencakup hubungan dan pilihan karier yang tidak stabil.
Jadwal padat ikut memelihara kekacauan
Penyebab drama juga bisa muncul dari cara seseorang mengatur waktu. Kalender yang terlalu penuh sering menciptakan krisis-krisis kecil yang terasa produktif, tetapi dalam jangka panjang justru melelahkan.
Psikolog organisasi Dr. Adam Grant menjelaskan bahwa orang yang menjadwalkan hidup terlalu padat kerap sebenarnya sedang menciptakan masalah sendiri. Efeknya bisa memberi kepuasan sesaat, namun meninggalkan dampak buruk di kemudian hari.
Studi tahun 2023 dalam Journal of Occupational Health Psychology menunjukkan bahwa kelangkaan waktu berkorelasi kuat dengan burnout. Kondisi ini membuat banyak orang semakin sulit keluar dari pola hidup yang serba kacau karena kesibukan dianggap sebagai ukuran nilai diri.
Lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan ikut berperan
Tempat tinggal juga bisa memperkuat suasana batin yang tidak stabil. Dr. Lyons menyadari bahwa kehidupan di kota yang padat dan sibuk justru memperburuk stres yang ia rasakan, dan hal serupa dialami banyak orang lain.
Psikolog lingkungan menilai suasana perkotaan yang penuh rangsangan, kebisingan, dan hubungan sosial yang renggang dapat meningkatkan kecemasan. Penelitian tahun 2023 dalam Journal of Environmental Health bahkan menunjukkan paparan alam dapat menurunkan hormon stres hingga 20 persen.
Namun, tidak semua orang yang terbiasa hidup dalam drama memilih menjauh dari kekacauan. Sebagian justru tetap berada di lingkungan yang mencerminkan kondisi batin mereka sendiri.
Di sisi lain, ketidakpuasan dalam karier juga sering memicu drama yang tidak kalah besar. Laporan Society for Human Resource Management pada 2023 menyebut 55 persen karyawan merasa tidak benar-benar terlibat dalam pekerjaannya, tetapi tetap bertahan di posisi yang tidak memberi kepuasan.
Dr. Lyons menilai situasi itu kerap dipengaruhi rasa takut menghadapi ketidakpuasan yang lebih dalam, terutama setelah pandemi. Laporan Workplace Insight 2023 dari LinkedIn juga mencatat kenaikan 25 persen fenomena quiet quitting, ketika pekerja tetap bekerja tetapi mulai melepaskan keterlibatan emosional dari pekerjaannya.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa banyak orang masih menukar kesehatan emosional demi rasa aman finansial. Dalam kondisi seperti itu, drama mudah bertahan karena sumber tekanannya datang dari banyak arah sekaligus, mulai dari relasi, masa lalu, jadwal hidup, hingga pekerjaan.
Source: www.beautynesia.id






