Banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, padahal sedang menahan emosi yang berat. Psikolog menyebut, cara bicara mereka sering memberi petunjuk lebih jelas daripada senyum yang mereka tampilkan.
Kebiasaan memendam emosi kerap membuat seseorang makin sulit terlihat rapuh di depan orang lain. Penekanan emosi yang berlangsung lama juga tidak menyelesaikan masalah, bahkan dapat memperparah kondisi dan berkembang menjadi persoalan kronis.
Kalimat yang sering muncul saat seseorang menutupi keadaan
Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah ucapan, “Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku.” Kalimat ini terdengar menenangkan, tetapi sering dipakai untuk menutupi kondisi batin yang sebenarnya sedang tidak stabil.
Menurut psikolog berlisensi La Keita D. Carter, PsyD, LP, menekan perasaan justru dapat memperparahnya. Ia menilai, jika hal itu dibiarkan cukup lama, perasaan tersebut bisa berkembang menjadi masalah kronis.
Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini biasanya tidak ingin terlihat cengeng atau sombong. Di balik itu, ada rasa malu yang membuat mereka memilih diam meski sebenarnya butuh bantuan.
Saat “sudah terbiasa” justru menjadi sinyal bahaya
Ucapan lain yang juga patut diperhatikan adalah, “Aku sudah terbiasa dengan hal itu.” Kalimat ini sering muncul ketika seseorang terlalu lama menanggung luka batin hingga menganggap keadaan tersebut sebagai sesuatu yang normal.
Padahal, terbiasa bukan berarti keadaan itu baik-baik saja. Mengakui luka apa adanya justru penting, karena luka yang tidak ditangani dengan tepat dapat memengaruhi diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
Konselor berlisensi Diana Tutschek, M.S., menjelaskan bahwa trauma masa kecil yang tidak ditangani bisa memengaruhi keterikatan, kepercayaan, dan komunikasi orang dewasa dalam hubungan intim. Artinya, ucapan yang terdengar ringan kadang menyimpan pengalaman emosional yang jauh lebih kompleks.
Ketakutan menjadi beban sering disamarkan lewat kata-kata
Kalimat, “Aku tidak ingin membebani siapa pun,” juga kerap muncul dari orang yang sedang tidak baik-baik saja. Mereka memilih menutup diri karena merasa orang terdekat mungkin tidak perlu menanggung masalah mereka.
Leon F Seltzer, PhD, psikolog klinis dan profesor, menyebut bahwa motif utama menyembunyikan emosi sering berakar pada rasa takut. Ia menjelaskan bahwa banyak orang takut terlihat lemah atau rentan di mata orang lain.
Rasa takut itu membuat mereka enggan terbuka, meski sebenarnya membutuhkan ruang aman untuk bercerita. Karena itu, ucapan soal tidak ingin menjadi beban sering kali lebih menunjukkan kondisi emosional daripada isi kalimatnya sendiri.
Mengapa ucapan seperti ini penting untuk diperhatikan
Bagi orang terdekat, tanda-tanda verbal ini bisa menjadi pintu awal untuk memahami kondisi seseorang. Perhatian semacam ini penting karena tidak semua orang mampu mengungkapkan kesulitan secara langsung.
Dalam banyak kasus, orang yang tampak tenang justru sedang berjuang keras menyembunyikan rasa malu, bersalah, atau takut. Saat kalimat-kalimat tertentu mulai sering terdengar, ada baiknya tidak langsung menganggap semuanya baik-baik saja.
Source: www.beautynesia.id






