Perempuan Pekerja Masih Dipaksa Adaptasi, Kebijakan yang Ada Justru Tak Menopang Mereka

Perempuan muda di Indonesia kini tidak lagi sekadar menjadi target pasar, tetapi ikut menentukan arah konsumsi, keputusan sosial, dan cara publik memandang sebuah isu. Meski begitu, banyak kebijakan publik dan strategi industri masih memperlakukan mereka sebagai pencari nafkah sekunder yang pasif.

Perubahan posisi itu terlihat dari cara perempuan muda aktif mencari informasi, mempertimbangkan keamanan, memanfaatkan layanan kesehatan preventif, hingga ikut membentuk dinamika fandom dan ekonomi kreator. Dalam situasi seperti ini, keputusan belanja tidak lagi ditentukan hanya oleh siapa yang menghasilkan uang, melainkan oleh siapa yang paling besar pengaruhnya dalam proses pengambilan keputusan.

Menurut Annisa Paramita, Head of Lifestyle Publisher di IDN, perempuan muda yang aktif mencari informasi cenderung memiliki tanggung jawab lebih tinggi dalam mengambil keputusan, daya beli lebih kuat, dan niat pembelian yang lebih jelas dibandingkan segmen lain. Media sosial juga ikut mengubah posisi perempuan dari penonton menjadi partisipan aktif yang dapat memengaruhi persepsi publik.

Beban ganda di balik fleksibilitas kerja

Di sisi lain, realitas perempuan pekerja justru masih diwarnai beban ganda dan minimnya dukungan struktural. Data global dari US Bureau of Labor Statistics pada 2024 menunjukkan perempuan memiliki tingkat adopsi kerja jarak jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Pola itu tidak hanya dibaca sebagai tren gaya hidup. Bagi banyak perempuan, kerja jarak jauh menjadi respons terhadap tuntutan profesional dan domestik yang berjalan bersamaan, sekaligus cara untuk memperoleh kontrol lebih besar atas waktu mereka sendiri.

Karena itu, banyak perempuan mengambil lebih dari satu jenis pekerjaan. Mereka masuk ke pekerjaan formal, informal, freelance, dan ekonomi gig untuk menjaga pendapatan tetap bergerak di tengah pasar tenaga kerja yang belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan mereka.

Masalahnya, kebijakan ketenagakerjaan masih sering bertumpu pada asumsi pendapatan linear dan stabilitas jangka panjang. Asumsi itu tidak selalu cocok dengan kenyataan ekonomi perempuan yang berlapis dan berubah-ubah.

Ketika pengasuhan belum ikut disiapkan

Kebutuhan fleksibilitas juga sangat terkait dengan dukungan pengasuhan anak. Kebijakan cuti orang tua dan infrastruktur penitipan anak masih menjadi faktor penting, karena tanpa dukungan itu perempuan kerap dipaksa beradaptasi sendirian.

Kasus kekerasan di Little Aresha Daycare di Yogyakarta yang terungkap pada April 2026 memperlihatkan rapuhnya sistem pendukung tersebut. Dalam peristiwa itu, 53 dari 103 anak dipastikan menjadi korban di fasilitas daycare tanpa izin operasional.

Kejadian itu menjadi pengingat bahwa pengasuhan anak masih belum sepenuhnya aman bagi perempuan pekerja. Saat anak harus ditinggalkan dalam pengasuhan yang tidak aman, beban kerja perempuan tidak berhenti di kantor, tetapi berlanjut ke ruang domestik dengan risiko yang lebih besar.

Kebijakan yang sering meleset dari kebutuhan nyata

Masalah serupa juga tampak dalam kebijakan yang seharusnya melindungi perempuan. Kecelakaan Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menewaskan 16 orang, dan seluruh korban adalah perempuan.

Peristiwa itu memunculkan sorotan publik karena gerbong khusus perempuan berada di rangkaian paling belakang dan menjadi bagian pertama yang menerima benturan. Setelah kejadian, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengusulkan pemindahan gerbong khusus perempuan ke tengah rangkaian, sementara gerbong laki-laki ditempatkan di depan.

Usulan itu memicu protes karena dinilai tidak menyentuh akar persoalan dan justru memindahkan risiko ke kelompok lain. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan yang dirancang untuk mendukung perempuan belum tentu memahami kebutuhan dan risiko yang mereka hadapi secara struktural.

Pola yang sama juga muncul di banyak industri yang menargetkan perempuan. Masih ada strategi yang menganggap perempuan sebagai pencari nafkah sekunder, padahal dalam praktiknya mereka kerap menjadi pengambil keputusan utama.

Ada pula produk dan layanan yang dirancang seolah pendapatan hanya datang dari satu sumber dan bersifat tetap. Di saat yang sama, pola komunikasi satu arah masih dominan, padahal ekosistem sekarang menuntut kredibilitas media dan validasi sosial yang lebih kuat.

Melalui Indonesia Summit 2026 di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026, IDN meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027. Survei yang dikerjakan IDN Research Institute itu menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah, termasuk Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Source: www.idntimes.com

Terkait