Dari Roti Sisa Hingga Pepaya Muda, 5 Salad Dunia Ini Jauh dari Bayanganmu

Kalau selama ini salad hanya identik dengan selada dan saus dressing, lima hidangan dari berbagai negara ini menunjukkan gambaran yang jauh lebih luas. Dari bahan sisa hingga racikan sayur segar tanpa daun hijau, salad ternyata bisa menjadi cerminan budaya dan bahan lokal yang berbeda di tiap wilayah.

Jejak salad sendiri sudah ada sejak zaman Romawi kuno, ketika orang-orang mencelupkan daun selada ke dalam garam. Kini, bentuknya berkembang sangat jauh, mulai dari hidangan berbahan roti basi sampai sajian yang sama sekali tidak memakai sayuran hijau.

Italia: panzanella yang lahir dari bahan sederhana

Panzanella dari Toskana memperlihatkan bagaimana bahan sisa bisa berubah menjadi makanan yang bernilai. Salad ini awalnya dibuat oleh petani dengan roti yang sudah berumur sehari dan hasil bumi lokal yang mudah ditemukan.

Roti yang agak keras direndam dalam cuka, lalu dicampur dengan bawang daun, tomat matang, timun, seledri, minyak zaitun, dan daun basil. Hasilnya adalah sajian yang segar, kaya tekstur, dan punya rasa yang seimbang.

Yunani: Horiatiki yang justru tanpa selada

Horiatiki, atau salad kampung, punya ciri yang tegas dan berbeda dari versi restoran yang biasa dikenal banyak orang. Chef Yunani-Amerika Diane Kochilas bahkan menekankan bahwa resep tradisionalnya tidak memakai selada sama sekali.

Bahan dasarnya hanya tomat matang berbagai ukuran, bawang merah, paprika hijau, timun renyah, zaitun Kalamata, oregano kering, minyak zaitun, garam, dan seiris tebal keju feta. Sederhana, tetapi kombinasi itu memberi rasa yang segar dan kuat.

Indonesia: gado-gado sebagai hidangan nasional

Gado-gado sudah sangat akrab di meja makan Indonesia dan dikenal sebagai salah satu hidangan nasional. Nama ini berarti “campur-campur,” sesuai dengan isiannya yang memang terdiri dari beragam bahan.

Komposisinya bisa berbeda tergantung daerah, tetapi umumnya memuat sayuran segar maupun kukus, telur rebus, tahu, tempe goreng, serta lontong atau kentang. Saus kacang kental dan gurih menjadi unsur utama yang menyatukan seluruh bahan itu dalam satu sajian.

Thailand dan Laos: Som Tum dengan rasa yang tajam

Som Tum cocok untuk pencinta rasa asam, pedas, dan manis dalam satu suapan. Salad pepaya hijau ini berasal dari Laos, tetapi kemudian sangat populer di seluruh Asia Tenggara, terutama di Thailand bagian timur laut.

Proses pembuatannya melibatkan bumbu seperti bawang putih, garam, kacang, cabai, gula, dan udang yang ditumbuk menjadi pasta. Campuran itu lalu diberi air jeruk nipis dan kecap ikan sebelum disiramkan ke pepaya hijau serut, tomat, serta kacang panjang.

Meksiko: Caesar salad yang lahir di Tijuana

Caesar salad sering dianggap sebagai hidangan Amerika, padahal asalnya dari Tijuana, Meksiko, lebih dari seratus tahun lalu. Chef Italia Cesar Cardini meracik salad ini di Hotel Caesars, dan hidangan tersebut masih disajikan secara tradisional di tempat yang sama hingga kini.

Rahasia rasanya ada pada saus yang dibuat dari pasta ikan teri, mustard Dijon, bawang putih, perasan jeruk nipis, lada hitam, parmesan, kuning telur, dan minyak zaitun. Saus itu kemudian disajikan di atas daun selada hijau segar dengan crouton dan parmesan tambahan.

Lima salad ini menunjukkan bahwa satu kata bisa memuat begitu banyak tradisi, teknik, dan rasa yang berbeda. Dari roti basi di Italia sampai pepaya hijau di Asia Tenggara, salad dari berbagai penjuru dunia membuktikan bahwa kesederhanaan bisa berubah menjadi hidangan yang sangat khas.

Source: www.beautynesia.id

Terkait