Sorotan terhadap suporter Jepang yang memunguti sampah seusai pertandingan Piala Dunia 2026 kembali memantik perdebatan lama: ini budaya yang tertanam kuat, atau sekadar citra yang sengaja ditampilkan ke dunia. Di tengah pujian, kebiasaan itu justru membuat banyak orang menimbang ulang makna disiplin, sopan santun, dan strategi branding dalam ruang publik.
Fenomena ini menarik karena muncul di turnamen yang juga unik sejak awal, yakni diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Di arena sebesar itu, perilaku kecil di tribun justru bisa menjadi bahan pembicaraan global ketika momen para pendukung Samurai Biru membawa kantong sampah dan meninggalkan stadion dalam keadaan bersih menyebar luas di media sosial.
Tradisi yang sudah lama terlihat
Aksi bersih-bersih suporter Jepang sebenarnya bukan peristiwa baru. Melansir Associated Press yang dikutip Fox Sports, kebiasaan ini mulai menarik perhatian dunia sejak Jepang tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia 1998.
Tradisi itu terus muncul di turnamen-turnamen berikutnya. Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, pemandangan suporter Jepang membersihkan tribun kembali viral dan menuai banyak pujian dari publik internasional.
Perhatian juga muncul dari kubu pemain. Seusai tersingkir di edisi 2018, para pemain Jepang ikut membersihkan ruang ganti dan meninggalkan catatan bertuliskan “terima kasih” dalam bahasa Rusia.
Hal serupa kembali terlihat di Qatar pada 2022. Pada Piala Dunia 2026, suporter Jepang kembali menjadi sorotan setelah membersihkan stadion seusai pertandingan melawan Belanda dan Tunisia.
Reuters melaporkan bahwa sebagian suporter Jepang menilai tindakan itu sebagai hal yang biasa. Mereka merasa sudah sepatutnya meninggalkan tempat yang digunakan dalam kondisi bersih sebagai bentuk hormat kepada tuan rumah.
Akar budaya di balik kebiasaan ini
Sejumlah pihak mengaitkan perilaku itu dengan pendidikan dan nilai sosial di Jepang. Menurut Reuters, para suporter menyebut kebiasaan membersihkan area bersama sebagai sesuatu yang alami karena mereka sudah terbiasa melakukannya sejak masa sekolah.
Anak-anak di Jepang umumnya diajarkan untuk membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah mereka sendiri. Dari kebiasaan sehari-hari itu, tindakan membersihkan tribun setelah pertandingan dianggap sebagai perpanjangan dari tata nilai yang sama.
Firstpost juga menjelaskan adanya konsep “gomi hiroi” atau memungut sampah yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap ruang bersama. Dalam nilai tersebut, masyarakat diharapkan tidak merepotkan orang lain dan meninggalkan tempat dalam kondisi nyaman bagi orang berikutnya.
Karena itu, banyak suporter Jepang menganggap aksi bersih-bersih setelah laga bukan sesuatu yang istimewa. Bagi mereka, perilaku itu hanya bagian dari kebiasaan hidup yang sudah akrab sejak lama.
Muncul tudingan soal pencitraan
Meski mendapat pujian luas, tidak semua respons datang dalam nada positif. Times of India melaporkan sebagian warganet di Jepang ikut mempertanyakan apakah kebiasaan itu benar-benar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sana, muncul anggapan bahwa aksi tersebut lebih mirip “branding” Jepang di mata dunia. Ada pula komentar yang menilai momen itu terlihat terlalu terkonsep karena selalu mendapat sorotan kamera secara detail, seolah sudah disiapkan.
Salah satu komentar di media sosial bahkan menyebut bahwa para pria Jepang tidak selalu tampak peduli pada urusan beres-beres dalam situasi lain, tetapi terlihat sangat berdedikasi saat berada di panggung besar seperti Piala Dunia. Di sisi lain, ada juga suara yang menilai kebiasaan menjaga kebersihan seharusnya lebih nyata dalam keseharian, bukan hanya saat sorotan internasional mengarah ke tribun stadion.
Dikaitkan dengan honne dan tatemae
Perdebatan itu kemudian melebar ke konsep budaya Jepang yang dikenal sebagai honne dan tatemae. Menurut laman Jobs in Japan, honne merujuk pada perasaan, pendapat, atau keinginan pribadi yang sebenarnya dimiliki seseorang, sedangkan tatemae adalah perilaku yang ditampilkan di depan publik demi menjaga keharmonisan sosial.
Dalam penjelasan itu, tatemae tidak selalu dipahami sebagai kepura-puraan. Konsep tersebut juga dipandang sebagai cara menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis dan menghindari konflik di tengah masyarakat.
Fund for Education Abroad menyebut honne dan tatemae telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Sebagian orang melihatnya sebagai bentuk kesopanan, empati, dan usaha menjaga kepentingan bersama, sementara yang lain menilai pemisahan antara sikap pribadi dan perilaku publik bisa menimbulkan kesan citra yang terlalu disengaja.
Akhirnya, aksi bersih-bersih suporter Jepang dibaca dalam dua arah yang sama kuat. Bagi satu pihak, itu bukti disiplin dan tanggung jawab terhadap ruang publik, sedangkan bagi pihak lain, itu terlihat sebagai perilaku yang terlalu berorientasi pada citra.
