5 Alasan Anak Sulit Menerima Perbandingan dengan Saudaranya, Ternyata Bukan Sekadar Soal Iri

Membandingkan anak dengan saudaranya kerap terdengar seperti cara cepat untuk memberi dorongan. Namun, bagi banyak anak, kalimat semacam itu justru terasa seperti penilaian yang meniadakan usaha mereka sendiri.

Di banyak keluarga, dampaknya tidak berhenti pada rasa kesal sesaat. Perbandingan bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya, saudaranya, dan hubungan di rumah secara keseluruhan.

Salah satu alasan terkuat adalah karena perbandingan membuat kerja keras anak seolah tidak dihitung. Tidak semua anak memulai dari titik yang sama, dan tidak semua proses belajar menghasilkan hasil dengan ritme yang sama.

Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang perlu mengulang berkali-kali sebelum paham. Saat hasil akhir langsung disandingkan dengan saudara yang tampak lebih unggul, proses panjang yang dijalani bisa terasa hilang begitu saja.

Situasi ini makin berat ketika satu anak punya bantuan tambahan, sementara yang lain berjuang sendiri. Jika yang dipuji hanya nilai tertinggi, anak yang sudah mengeluarkan tenaga ekstra bisa merasa jerih payahnya tidak berarti.

Kemampuan anak juga tidak selalu berada di bidang yang sama

Di banyak keluarga, prestasi akademik sering menjadi ukuran paling mudah dilihat. Padahal, setiap anak bisa menonjol pada area yang berbeda, mulai dari olahraga, kemampuan beradaptasi, hingga ketelatenan mengerjakan tugas kecil.

Masalah muncul saat satu jenis keunggulan dianggap lebih penting dari yang lain. Anak yang sebenarnya kuat di bidang tertentu bisa terus merasa kalah karena ukuran yang dipakai tidak berubah.

Bagi anak seperti ini, perbandingan terasa tidak adil sejak awal. Ia bukan tidak mau berkembang, tetapi arena yang dipilih memang bukan tempat di mana dirinya paling menonjol.

Hubungan saudara ikut terdampak

Banyak orang mengira anak yang dibandingkan akan marah pada orangtua. Kenyataannya, sebagian anak justru mulai menjaga jarak dari saudara kandungnya sendiri.

Saudara yang semestinya menjadi teman terdekat bisa berubah menjadi tolok ukur yang menekan. Akibatnya, anak menjadi enggan bercerita soal sekolah, hobi, atau pencapaiannya karena takut kembali dibawa ke perbandingan.

Lama-kelamaan, suasana rumah yang seharusnya hangat bisa berubah menjadi serba sungkan. Hubungan antarsaudara pun menjadi canggung meski mereka tinggal dalam rumah yang sama.

Anak terdorong menjadi orang lain demi pengakuan

Setiap anak ingin diakui oleh keluarga. Saat saudaranya lebih sering dipuji, sebagian anak mulai meniru cara belajar, pilihan kegiatan, bahkan sifat yang dianggap lebih disukai orangtua.

Masalahnya, tidak semua hal cocok untuk setiap anak. Ketika terus memaksakan diri mengikuti jejak orang lain, anak bisa kehilangan kesempatan mengenali minatnya sendiri.

Ada yang akhirnya menjalani kegiatan yang tidak disukai hanya demi mendapat apresiasi. Pada titik tertentu, kelelahan itu membuat perbandingan makin sulit diterima.

Kondisi yang tidak terlihat sering terabaikan

Hasil yang tampak dari luar sering hanya sebagian kecil dari cerita sebenarnya. Seorang anak bisa terlihat lebih tenang karena punya lingkungan pertemanan yang mendukung, sementara saudaranya menghadapi kesulitan yang tidak banyak diketahui anggota keluarga.

Jika perbandingan dilakukan tanpa melihat situasi masing-masing, anak bisa merasa dinilai secara sepihak. Tantangan yang dihadapi setiap orang tidak selalu sama, meski mereka tumbuh di rumah yang sama.

Itulah sebabnya perbandingan antarsaudara sering meninggalkan dampak lebih dalam daripada yang terlihat. Di balik hasil akhir, ada proses, kondisi, dan beban yang tidak selalu tampak dari luar.

Source: www.idntimes.com

Terkait