Gen Z Mulai Catat Konten yang Dikonsumsi, Cara Sederhana Biar Scroll Tak Kebablasan

Author: Qoo Media

Gen Z makin akrab dengan kebiasaan scroll media sosial untuk cari hiburan, update teman, dan informasi baru. Tapi, saat scroll dilakukan tanpa tujuan jelas, produktivitas bisa ikut turun.

Di tengah kebiasaan itu, media diary muncul sebagai cara sederhana untuk mengontrol waktu layar. Konsep ini membantu seseorang mencatat media yang dikonsumsi setiap hari agar lebih sadar terhadap konten yang masuk ke kepala.

Menurut Business Insider, memanfaatkan media sosial sebagai tempat mencatat media yang dikonsumsi sehari-hari justru bisa lebih bermanfaat. Bukan hanya memilih topik apa yang dibaca, ditonton, atau didengar, tetapi juga merangkumnya agar bisa memberi nilai lebih.

Media diary juga cocok untuk Gen Z yang terjebak doomscrolling, tetapi tetap ingin merasa produktif. Dengan mencatat apa saja yang dikonsumsi, seseorang bisa lebih sadar pada informasi yang diterima dan tidak sekadar tenggelam dalam aliran konten acak.

Mulai dari satu konten yang paling berkesan

Cara paling sederhana adalah mencatat satu konten paling berkesan setiap hari. Kontennya bisa berupa podcast, artikel panjang, film, atau video pendek yang benar-benar meninggalkan kesan.

Tidak perlu menulis semuanya karena tujuan utamanya adalah melatih otak untuk memilih konten yang relevan. Catatan itu bisa dibuat di buku atau media digital, tergantung mana yang paling nyaman digunakan.

Kebiasaan ini membuat isi media diary lebih mirip checklist informasi yang dikonsumsi, bukan daftar tugas biasa. Pendekatan seperti ini membantu pembaca melihat pola kebiasaan scrolling dari hari ke hari.

Tulis alasan konten itu menarik

Setelah mencatat kontennya, langkah berikutnya adalah menuliskan alasan kenapa konten itu disukai. Misalnya, sebuah podcast terasa memotivasi, atau sebuah film memberi inspirasi baru.

Langkah ini penting karena membuat proses konsumsi media tidak berhenti pada tahap menonton, membaca, atau mendengar saja. Di tahap ini, pengguna juga diajak merefleksikan informasi yang diterima.

Refleksi kecil seperti ini membuat media diary punya fungsi yang lebih dalam. Konten yang dikonsumsi tidak hanya lewat begitu saja, tetapi juga dipikirkan ulang sebelum dilupakan.

Bedakan jenis konten yang masuk

Setiap konten punya tujuan yang berbeda, mulai dari hiburan sampai edukasi. Karena itu, konten yang dicatat sebaiknya juga diberi kategori agar lebih mudah dievaluasi.

Kategori sederhana seperti konten menghibur dan mengedukasi sudah cukup membantu. Dari situ, seseorang bisa melihat apakah konsumsi media hariannya lebih banyak memberi manfaat atau sekadar memenuhi waktu luang.

Cara ini juga membantu pengguna memahami pola konsumsi media dengan lebih jernih. Saat kategori konten terlihat jelas, keputusan untuk mengurangi scrolling acak jadi lebih mudah dibuat.

Pilih media yang paling nyaman dipakai

Media diary tidak harus dibuat dengan format yang rumit. Pilihannya bisa berupa Goodreads untuk ulasan buku, Letterboxd untuk film, atau buku jurnal untuk catatan pribadi.

Bagi yang ingin mengumpulkan semua catatan dalam satu tempat, Notion, ClickUp, Medium, dan Substack juga bisa dipakai. Bahkan, ada yang memilih membuat konten video bila ingin tampil di depan kamera.

Pilihan media yang fleksibel ini membuat media diary lebih mudah disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing orang. Dengan begitu, waktu di depan layar tidak selalu identik dengan kebiasaan buruk, karena bisa diubah menjadi kebiasaan yang lebih sadar dan terarah.

Source: www.beautynesia.id
Terbaru