Kisah Bu Ijah kembali menyorot wajah kesejahteraan guru honorer di Indonesia. Sosok yang mengabdi selama 40 tahun itu viral setelah menunjukkan gaji terakhirnya yang hanya Rp414.000.
Video tersebut diunggah lewat akun TikTok @buijah28 dan memperlihatkan Bu Ijah membuka amplop cokelat berisi uang tunai. Isi amplop itu terdiri dari empat lembar Rp100.000, satu lembar Rp10.000, dan dua lembar Rp2.000.
Dengan tenang, Bu Ijah menyebut bahwa ia memutuskan berhenti menjadi guru pada Juni 2026. Ia juga menegaskan bahwa unggahan itu bukan dibuat untuk mencari perhatian, melainkan untuk mengungkap fakta tentang kondisi yang ia alami selama bertahun-tahun.
“Bukan pamer ya, hanya sekadar mengungkap fakta,” ujarnya dalam video tersebut. Pernyataan itu membuat kisahnya terasa lebih kuat karena menampilkan realitas pengabdian yang panjang namun tidak selalu diiringi kesejahteraan yang layak.
Reaksi warganet mengalir cepat
Setelah video itu menyebar, unggahan Bu Ijah langsung ramai dibicarakan warganet. Banyak pengguna media sosial menyampaikan simpati, doa, dan apresiasi atas dedikasinya dalam mencerdaskan generasi muda meski penghasilannya terbatas.
Kisah ini juga memantik diskusi lebih luas tentang nasib guru honorer. Warganet menyoroti upah yang di bawah standar, beban kerja yang tidak sebanding dengan penghasilan, serta minimnya perlindungan kerja yang masih dialami sebagian tenaga pendidik.
Respons publik menunjukkan bahwa cerita Bu Ijah tidak berhenti pada viralitas semata. Banyak orang melihatnya sebagai potret dari masalah yang lebih besar dan sudah lama membayangi profesi guru honorer.
Tetap berkarya lewat tulisan
Selepas masa pengabdiannya di kelas, Bu Ijah memilih fokus menekuni dunia kepenulisan. Ia juga diketahui akan mengelola Yayasan Madani Lentera Putih.
Di media sosialnya, Bu Ijah menyampaikan bahwa dirinya aktif menulis selama menjadi guru honorer. Salah satu hasil karyanya adalah novel berjudul Lentera Putih yang terbit pada 2011.
Karya itu disebut berisi kisah tentang pengabdian, sebuah tema yang sejalan dengan perjalanan hidupnya sendiri. Bu Ijah juga sempat memperlihatkan novel tersebut di depan kamera, mempertegas bahwa ia tidak hanya dikenal sebagai guru, tetapi juga sebagai penulis.
Cerita Bu Ijah kembali menempatkan kesejahteraan guru honorer sebagai perhatian penting. Di tengah apresiasi atas dedikasi mereka, kisah ini memperlihatkan bahwa masih ada tenaga pendidik yang bertahan menjalankan tugas dengan keterbatasan ekonomi yang berat.
