5 Pikiran yang Harus Dibuang Sebelum Resign Mendadak, Jangan Sampai Menahanmu Lebih Lama

Author: Qoo Media

Keputusan resign mendadak sering terasa lebih berat daripada pekerjaan yang sedang dijalani. Banyak orang menahan diri bukan karena tidak siap keluar, tetapi karena pikirannya dipenuhi rasa bersalah, takut dinilai, dan anggapan yang membuat keputusan jadi tampak lebih buruk dari kenyataannya.

Hal itu penting dibaca siapa pun yang mulai merasa lelah di tempat kerja. Sebab sebelum mengirim surat resign, ada lima pikiran yang justru perlu dibuang agar keputusan tidak lahir dari tekanan yang menumpuk.

Jangan menganggap tim pasti runtuh tanpa kehadiranmu

Salah satu pikiran yang paling sering muncul adalah bayangan bahwa tim akan berantakan kalau satu orang pergi. Kamu bisa terus menunda resign karena merasa semua tugas harus diselesaikan dulu, padahal daftar pekerjaan kantor memang tidak pernah benar-benar habis.

Rasa tanggung jawab memang baik, tetapi itu tidak sama dengan memikul seluruh beban kantor sendirian. Organisasi pada dasarnya dirancang agar pekerjaan tetap berjalan meski ada orang yang keluar.

Berhenti bukan berarti gagal bertahan

Banyak orang langsung membandingkan masa kerjanya dengan teman yang bertahan lima atau enam tahun di tempat yang sama. Dari situ muncul kesan bahwa ingin pindah ke lingkungan yang lebih sehat sama saja dengan menyerah terlalu cepat.

Pikiran seperti ini sering berkaitan dengan imposter syndrome, yang membuat seseorang merasa harus terus membuktikan diri lewat kemampuan bertahan. Padahal bertahan dan berkembang adalah dua hal yang berbeda, sehingga resign tidak otomatis berarti gagal.

Tak semua orang akan menilai keputusanmu buruk

Ketakutan lain yang sering menghambat adalah bayangan tentang komentar setelah keluar dari pekerjaan. Ada yang membayangkan atasan kecewa, rekan kerja bergosip, atau orang lain menganggap keputusan itu sebagai tanda mudah menyerah.

Skenario semacam itu sering berputar di kepala meski belum tentu terjadi. Kamu memang tidak bisa mengendalikan pendapat semua orang, tetapi kamu masih bisa menjaga cara keluar yang profesional dengan mengikuti prosedur, menyelesaikan tanggung jawab, dan berkomunikasi dengan baik.

Merasa lelah bukan tanda kamu lemah

Ada juga pikiran yang membuat orang menyalahkan diri sendiri saat mulai ingin berhenti. Setelah pulang kerja, percakapan singkat dengan atasan atau revisi menjelang jam pulang bisa terus terbawa sampai rumah, lalu berubah menjadi anggapan bahwa diri sendiri terlalu lemah dibanding orang lain.

Cara pikir itu sering muncul karena seseorang terbiasa mengabaikan batas kemampuannya. Padahal setiap orang punya kapasitas yang berbeda, dan menyadari bahwa suatu lingkungan sudah tidak sehat bukan berarti lemah.

Jangan menunggu semuanya sempurna dulu

Sebagian orang menunda resign karena merasa harus punya pekerjaan baru terlebih dahulu. Surat resign akhirnya hanya tersimpan sebagai draf, sementara keputusan nyata terus ditunda karena menunggu kepastian yang belum tentu datang.

Memiliki rencana cadangan memang penting, tetapi hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario. Yang lebih penting adalah memastikan keputusan dibuat dengan pertimbangan matang, bukan karena rasa bersalah atau tekanan yang dipendam terlalu lama.

Pada akhirnya, waktu dan alasan resign bisa berbeda pada setiap orang. Selama keputusan itu diambil dengan pertimbangan yang jelas, tidak ada alasan untuk terus mengukur langkah sendiri dengan perjalanan karier orang lain.

Source: www.idntimes.com
Terbaru