Rasa lapar tidak selalu berarti tubuh benar-benar butuh energi. Pada banyak situasi, dorongan makan justru muncul sebagai respons terhadap stres, kebosanan, kelelahan, atau suasana hati yang buruk.
Membedakan keduanya penting agar pilihan makan tidak sekadar menuruti emosi. Saat seseorang salah mengenali sinyal tubuh, ia bisa berakhir ngemil tanpa benar-benar lapar atau justru mengabaikan kebutuhan makan yang sebenarnya.
Lapar fisik muncul bertahap
Physical hunger atau lapar biologis biasanya datang perlahan. Sinyalnya sering terasa sebagai perut berbunyi, lalu kebutuhan makan muncul pada jam tertentu seperti waktu makan siang.
Dilansir dari Center For Healthy Eating and Activity Research, sebagian orang mulai merasa lapar sekitar 3–5 jam setelah makan besar atau camilan. Waktunya bisa berbeda pada tiap orang karena dipengaruhi tingkat aktivitas, komposisi makanan, dan metabolisme tubuh.
Ciri lain dari lapar fisik adalah dorongan untuk makan berbagai jenis makanan, bukan hanya satu rasa tertentu. Kondisi ini juga umumnya reda setelah kenyang.
Ketika lapar fisik muncul, pilihan makanan tetap perlu diperhatikan. Makanan yang seimbang, mengandung protein, serat, dan lemak sehat dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh, kestabilan gula darah, dan fokus saat beraktivitas.
Emotional hunger lebih terkait emosi
Berbeda dengan lapar fisik, emotional hunger muncul ketika dorongan makan dipakai untuk meredakan perasaan. Kondisi ini sering berkaitan dengan stres, kelelahan, kesedihan, atau kebosanan.
Dorongan ini biasanya datang cepat dan cenderung singkat. Setelah muncul, keinginan makan sering mengarah ke makanan tertentu, terutama yang rasanya manis, asin, atau kombinasi keduanya.
Emotional hunger juga kerap tidak terasa seperti kebutuhan tubuh yang jelas. Seseorang bisa ingin makan tanpa alasan yang pasti, terutama saat suasana hati sedang buruk.
National Health Service menyebut suasana hati yang buruk dapat memengaruhi sinyal lapar alami tubuh. Karena itu, orang yang sedang tidak enak hati lebih mudah tergoda untuk ngemil meski tidak benar-benar lapar.
Tanda yang paling mudah dibedakan
Lapar fisik biasanya terasa bertahap, bisa dipuaskan dengan berbagai pilihan makanan, dan berhenti saat kenyang. Sebaliknya, emotional hunger lebih sering muncul sebagai keinginan kuat terhadap jenis makanan tertentu dan tidak selalu berakhir dengan rasa puas.
Perbedaannya juga terlihat dari alasan makan. Saat lapar fisik, tubuh mendorong makan untuk memberi energi dan menjaga suasana hati, sedangkan emotional hunger muncul untuk menenangkan emosi.
Ada pula perbedaan pada efek setelah makan. Lapar fisik cenderung selesai setelah kebutuhan tubuh terpenuhi, sementara emotional hunger sering meninggalkan rasa penyesalan dan rasa kantuk.
Dalam keseharian, dua dorongan ini bisa muncul di waktu yang mirip sehingga mudah tertukar. Karena itu, mengenali pola tubuh dan pemicu emosi menjadi langkah penting sebelum memutuskan makan.
Saat tubuh dan emosi sama-sama memberi sinyal
Situasi kerja yang menumpuk, misalnya, bisa membuat seseorang merasa lapar padahal sebenarnya sedang lelah. Pada kondisi seperti ini, jeda singkat untuk mengecek apakah yang muncul adalah rasa lapar fisik atau dorongan emosional bisa membantu menghindari makan berlebihan.
Mengenali perbedaan ini juga berguna untuk memilih respons yang tepat. Jika yang dibutuhkan adalah energi, makanan bergizi bisa membantu; jika yang dominan adalah emosi, masalah utamanya perlu disadari lebih dulu sebelum mencari makanan sebagai pelampiasan.
Source: www.beautynesia.id






