Modal besar ternyata bukan jaminan sebuah startup bisa bertahan. Data yang dibahas dalam video edukasi Kok Bisa menunjukkan sekitar 90 persen startup gagal sebelum mampu berdiri dalam jangka panjang.
Gambaran itu menegaskan bahwa ide kreatif saja juga belum cukup. Keberhasilan startup justru lebih sering ditentukan oleh pendanaan lanjutan, kebutuhan pasar, pengelolaan keuangan, sampai kekuatan operasional yang dijalankan setiap hari.
Sulit Menarik Pendanaan dan Produk Kurang Dibutuhkan
Jumlah startup baru terus bertambah, bahkan disebut mencapai sekitar 50 juta startup baru setiap tahun. Namun, hanya sebagian kecil yang bisa bertahan lebih dari 10 tahun karena tidak semua bisnis berhasil melangkah ke tahap berikutnya.
Salah satu kendala utamanya adalah sulit mendapat investor untuk pendanaan lanjutan. Selain itu, banyak produk yang ternyata tidak punya kebutuhan pasar yang cukup besar sehingga cepat kalah bersaing dengan kompetitor.
| Faktor | Dampak | Catatan |
|---|---|---|
| Pendanaan lanjutan sulit | Operasional sulit diteruskan | Terjadi meski ada investasi awal |
| Produk kurang dibutuhkan pasar | Minat konsumen rendah | Kalah bersaing dengan kompetitor |
| Strategi bakar uang | Biaya promosi membengkak | Promo besar tidak selalu berujung sehat |
| Manajemen keuangan lemah | Anggaran tidak tepat sasaran | Sering terjadi setelah mendapat investasi |
| Operasional tidak efisien | Bisnis sulit berkembang | Teknologi bisa membantu, termasuk ERP |
Strategi Bakar Uang Tidak Selalu Menyelamatkan
Fenomena bakar uang juga ikut memperbesar risiko. Banyak startup memberi gratis ongkos kirim, diskon tinggi, dan kampanye promosi besar untuk menarik pengguna dalam waktu singkat.
Langkah itu memang bisa mendorong pertumbuhan pengguna, tetapi tanpa perhitungan matang, biaya promosi berubah menjadi beban yang mempercepat masalah keuangan. Sejumlah startup bahkan harus menutup layanan atau mengurangi operasional karena pengeluaran terus naik sementara pemasukan belum seimbang.
Keuangan dan Operasional Jadi Penentu
blitarkawentar.jawapos.com menuliskan bahwa banyak pendiri merasa aman setelah menerima investasi, lalu mengalihkan anggaran ke kebutuhan yang belum prioritas. Padahal, dana investor harus dikelola disiplin agar pertumbuhan bisnis tetap terarah.
Video tersebut mengibaratkan dana investor seperti bahan bakar kendaraan. Sebanyak apa pun bahan bakarnya, kendaraan tetap tidak berjalan jika mesin utamanya bermasalah.
Karena itu, setiap pengeluaran perlu disusun sesuai kebutuhan bisnis dan tujuan pertumbuhan jangka panjang. Pengelolaan seperti ini penting agar modal tidak habis sebelum model bisnis benar-benar matang.
Adaptasi Menjadi Pembeda Utama
Faktor lain yang sering menjatuhkan startup adalah ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Banyak pendiri terlalu bertahan pada ide awal meski produk kurang diminati konsumen.
Padahal, lebih dari separuh startup yang sukses justru pernah mengubah arah bisnis atau melakukan pivot sebelum menemukan model usaha yang paling tepat. Fleksibilitas ini membuat mereka lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan pasar.
Selain adaptasi, sistem operasional juga disebut sangat menentukan. Ide bagus, dukungan investor, dan pasar yang besar tidak akan memberi hasil maksimal jika operasional bisnis berjalan tidak efisien.
Pemanfaatan teknologi seperti Enterprise Resource Planning atau ERP dinilai mampu membantu perusahaan mengelola penjualan, produksi, pengadaan barang, hingga laporan keuangan dalam satu platform. Riset yang dikutip dalam video menyebut penggunaan teknologi pada operasional bisnis dapat meningkatkan produktivitas hingga 30 persen.
Pada akhirnya, startup yang mampu bertahan bukan hanya yang punya ide menarik atau modal besar, tetapi juga yang disiplin mengelola uang, berani menyesuaikan arah bisnis, dan membangun sistem kerja yang efisien sejak awal.
