Di tengah derasnya standar kecantikan yang dibentuk media sosial, skin positivity muncul sebagai pengingat bahwa kulit sehat tidak harus terlihat sempurna. Gerakan ini mendorong orang menerima pori-pori, bekas jerawat, warna kulit tidak merata, dan tekstur alami wajah tanpa rasa minder.
Bagi banyak orang, pesan itu terasa semakin relevan karena unggahan yang sudah melalui penyuntingan kerap menciptakan gambaran kulit mulus yang sulit dicapai. Di Blitar, blitarkawentar.jawapos.com menyoroti pandangan bahwa memahami kebutuhan kulit sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren perawatan yang sedang viral.
Standar kecantikan dari layar sering kali menyesatkan
Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Blitar, Wahyu Nuur Sa’diyah, menilai media sosial punya pengaruh besar terhadap cara seseorang memandang kecantikan. Foto dan video yang telah disunting membuat banyak orang menganggap kulit tanpa noda sebagai standar ideal, padahal kondisi itu tidak sepenuhnya menggambarkan keadaan kulit manusia yang sebenarnya.
Menurut Wahyu, pesan utama skin positivity bukan berarti mengabaikan perawatan kulit. Intinya adalah menerima bahwa setiap orang memiliki karakteristik kulit yang berbeda, sehingga tidak perlu terus membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis.
Perawatan paling dasar justru sering paling penting
Wahyu menjelaskan bahwa merawat kulit tidak selalu identik dengan produk mahal atau mengikuti seluruh tren skincare yang sedang populer. Ia menilai fondasi utama ada pada basic skincare yang dilakukan secara konsisten dan sesuai kebutuhan kulit.
Langkah sederhana seperti membersihkan wajah dengan facial wash yang tepat, memakai pelembap, dan rutin menggunakan tabir surya disebut jauh lebih efektif daripada terus berganti produk. Pemilihan produk juga perlu disesuaikan dengan jenis kulit agar risiko iritasi maupun jerawat akibat ketidakcocokan bisa ditekan.
| Langkah Dasar | Tujuan | Catatan |
|---|---|---|
| Facial wash yang sesuai | Membersihkan wajah | Perlu disesuaikan dengan jenis kulit |
| Pelembap | Menjaga kelembapan kulit | Membantu perawatan dasar harian |
| Tabir surya | Melindungi kulit | Digunakan secara rutin |
Hasil kulit tidak bisa dikejar secara instan
Di tengah maraknya klaim perawatan cepat di media sosial, Wahyu mengingatkan bahwa proses regenerasi kulit membutuhkan waktu. Karena itu, perubahan kondisi kulit tidak bisa diharapkan terjadi dalam waktu singkat.
Ia mengaku pernah mengalami masalah kulit akibat penggunaan produk yang kurang sesuai. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa memperbaiki skin barrier memerlukan kesabaran dan konsistensi, bukan langkah tergesa-gesa.
“Memperbaiki skin barrier yang rusak dan memberikan waktu bagi kulit untuk pulih merupakan bagian dari proses yang memang tidak bisa dipercepat,” katanya.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih selektif memilih produk dan tidak mudah tergiur klaim instan yang banyak beredar di media sosial. Sikap hati-hati ini dinilai lebih aman daripada terus mencoba produk baru tanpa memahami kebutuhan kulit sendiri.
Tujuan akhirnya bukan kulit sempurna, melainkan percaya diri
Wahyu menilai tujuan utama merawat kulit adalah menjaga kesehatan agar tetap nyaman menjalani aktivitas sehari-hari. Kulit yang sehat pada akhirnya bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri tanpa harus memenuhi standar kecantikan tertentu.
Ia berharap semakin banyak orang memahami bahwa setiap kulit memiliki kondisi yang unik. Menerima kondisi kulit sendiri, menurutnya, merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Dengan kampanye skin positivity yang makin berkembang, masyarakat diharapkan semakin bijak memilih produk perawatan dan lebih menghargai proses yang dijalani kulit. Kecantikan sejati, dalam pandangan ini, tidak diukur dari kulit tanpa noda, melainkan dari kemampuan merawat dan menerima diri dengan rasa syukur.
