TOTON mengubah panggung mode menjadi ruang tafsir atas waktu. Di presentasi KALA pada Mulia in Fashion 2026, perhatian publik langsung tertuju pada instalasi raksasa yang menjadi pintu masuk koleksi terbaru label itu.
Karya tersebut tidak hanya hadir sebagai latar visual. Instalasi itu merangkum gagasan tentang Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali, lalu diterjemahkan ke dalam bentuk yang kuat sekaligus mudah dibongkar dan dipasang ulang dalam waktu singkat.
Berawal dari unggahan Instagram
Seniman Bali Ida Bagus Nyoman Surya Wigenem mengaku tak menyangka karya ogoh-ogohnya, “Sedap Malam,” menarik perhatian Toton Januar. Dari sana, kolaborasi untuk menghadirkan Batara Kala pun dimulai dan berkembang menjadi instalasi besar yang mengiringi koleksi KALA.
“Saya sangat excited karena ini hal baru bagi saya. Bagaimana seni ogoh-ogoh bisa terlibat dalam fashion, itu yang membuat saya tertantang,” kata dia kepada Liputan6.com seusai show di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026.
Waktu jadi ide utama koleksi
Toton memandang waktu bukan sebagai ancaman, melainkan kekuatan yang terus membawa perubahan. Sosok Batara Kala yang kerap diasosiasikan dengan kehancuran dan kematian justru dipakai sebagai pengingat bahwa setiap akhir membuka ruang bagi harapan baru.
Gagasan itu diterjemahkan lewat simbol yang sederhana namun tegas. Kaki dimaknai sebagai langkah manusia menuju masa depan, sedangkan mata menjadi lambang cara manusia melihat perubahan yang tak pernah berhenti.
Instalasi yang harus selesai dalam lima jam
Di balik penampilannya yang monumental, proses pengerjaan instalasi ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Akses menuju lokasi yang terbatas membuat desain harus dirancang sejak awal agar bisa dibongkar, dikirim, lalu dirakit kembali dengan cepat.
Seluruh proses persiapan memakan waktu berbulan-bulan, sementara pengerjaan fisiknya berlangsung selama satu setengah bulan. Namun saat pemasangan di lokasi, tim hanya diberi waktu lima jam untuk menyelesaikan instalasi tanpa mengganggu jadwal acara.
Tradisi Bali dan material yang lebih aman
Batara Kala juga membawa semangat yang hidup dalam tradisi pembuatan ogoh-ogoh di Bali. Struktur utama karya ini memakai besi sebagai tulang, lalu bambu dianyam sebagai rangka sebelum dilapisi kertas dan finishing tahan air.
Gusman Surya menyebut pendekatan itu tetap menjaga teknik tradisional sekaligus mengurangi material yang sulit terurai. Ia juga menegaskan bahwa materialnya aman ketika karya tak lagi digunakan karena tidak memakai bahan seperti styrofoam.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Nama koleksi | KALA |
| Inspirasi | Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali |
| Kolaborator instalasi | Ida Bagus Nyoman Surya Wigenem |
| Waktu pemasangan | 5 jam |
| Durasi pengerjaan | 1,5 bulan |
Tradisi itu juga menunjukkan perubahan bahan dari masa ke masa. Jika dulu perajin memanfaatkan koran bekas dan kertas semen, kini bahan tersebut diganti dengan kertas pembungkus kargo atau kertas samson karena ketersediaannya makin terbatas.
Kolaborasi ini sekaligus mempertemukan idealisme seni dan kebutuhan panggung mode. Gusman Surya mengatakan proporsi, warna, komposisi, dan aksesori dibahas intens selama proses pengerjaan, sementara Toton baru melihat hasil akhir saat instalasi berdiri di lokasi karena seluruh pekerjaan dilakukan di Gianyar.
Busana KALA ikut membawa semangat keberlanjutan
Semangat yang sama hadir dalam busana KALA. TOTON memadukan katun, organza, lace, tulle, satin, dan denim dengan berbagai teknik manipulasi tekstil serta pengerjaan tangan yang menjadi ciri rumah mode tersebut.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga ditekankan lewat penggunaan material daur ulang dan daur naik. Dengan begitu, pertunjukan tidak hanya menampilkan koleksi mode, tetapi juga dialog antara tradisi Bali, simbol waktu, dan pendekatan material yang lebih bertanggung jawab.
