Kecerdasan buatan mulai dipakai untuk membaca tanda bahaya gagal jantung sebelum kondisi pasien memburuk. Inovasi dari dokter spesialis jantung FKUI ini dirancang untuk membantu mendeteksi risiko kekambuhan lebih awal, terutama pada pasien yang baru saja akan dipulangkan dari rumah sakit.
Teknologi bernama NAVI-HF itu dikembangkan Rony Marethianto Santoso dalam sidang terbuka promosi doktor Ilmu Kedokteran. Tujuannya bukan menggantikan dokter, melainkan memberi alat bantu saat pemeriksaan gagal jantung belum tersedia lengkap di banyak fasilitas kesehatan.
Deteksi cairan paru yang sering tak terlihat
Gagal jantung terjadi ketika kemampuan jantung memompa darah menurun, sehingga cairan bisa menumpuk di organ tubuh, terutama paru-paru. Kondisi ini dapat menimbulkan sesak napas, bengkak pada kaki, tubuh mudah lelah, dan gangguan aktivitas sehari-hari.
Menurut Rony, salah satu pemicu rawat ulang adalah penumpukan cairan di paru-paru yang belum terdeteksi lewat pemeriksaan klinis biasa. Kondisi itu bisa bersifat subklinis, sehingga belum menimbulkan suara khas yang terdengar melalui stetoskop.
Di titik inilah NAVI-HF bekerja. Sistem AI menganalisis suara napas yang direkam dengan stetoskop digital untuk mengenali pola yang mengarah pada kongesti paru.
| Komponen | Fungsi | Manfaat |
|---|---|---|
| Stetoskop digital | Merekam suara napas pasien | Menjadi data awal analisis AI |
| AI NAVI-HF | Membaca pola suara napas | Mendeteksi risiko cairan paru yang tidak terdengar secara klinis |
| Hasil analisis | Menunjukkan risiko kongesti paru | Membantu dokter menunda kepulangan atau menyesuaikan terapi |
Jika hasil analisis menunjukkan pasien masih berisiko, dokter bisa menunda kepulangan atau menyesuaikan terapi sampai kondisi lebih stabil. Langkah ini diharapkan bisa menekan angka pasien yang kembali dirawat dalam waktu singkat.
Disiapkan untuk pemantauan dari rumah
NAVI-HF juga disiapkan agar bisa dipakai pasien di rumah. Konsepnya sederhana, yakni stetoskop digital portabel dihubungkan ke ponsel, lalu suara napas dianalisis oleh aplikasi berbasis AI.
Jika sistem mendeteksi tanda penumpukan cairan di paru-paru, pasien akan mendapat peringatan untuk segera berkonsultasi atau datang ke rumah sakit. Rony menyebut alat itu bahkan bisa diminiaturisasi agar pasien dapat memeriksakan diri sendiri di rumah.
Ke depan, sistem tersebut juga akan dikembangkan terhubung dengan layanan cloud. Dengan begitu, dokter dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh dan mendukung telemedicine serta home-based monitoring.
Rony menjelaskan, data awal pengembangan algoritma dikumpulkan dari sekitar 246 pasien di sejumlah rumah sakit rujukan gagal jantung di Indonesia. Hasil awal menunjukkan sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang baik untuk mengidentifikasi pasien yang masih mengalami kongesti paru.
Masalah besar gagal jantung di Indonesia
Rony menyebut Indonesia menempati peringkat kedua di Asia untuk prevalensi penyakit jantung. Tingginya angka kasus juga sejalan dengan tingginya angka rehospitalisasi atau rawat ulang pada pasien gagal jantung.
Dalam banyak kasus, pasien yang sudah mendapat pengobatan tetap kembali dirawat karena kondisi jantungnya memburuk. Karena itu, AI diposisikan sebagai alat bantu agar keputusan klinis lebih akurat, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan alat diagnostik maupun tenaga ahli.
Di tengah kebutuhan pemantauan yang makin besar, NAVI-HF memberi opsi baru untuk menangkap risiko lebih cepat sebelum pasien jatuh ke kondisi yang lebih berat. Bagi dokter, alat ini diharapkan menjadi lapisan tambahan dalam membaca kondisi paru dan mencegah kekambuhan yang berujung rawat ulang.
Source: www.cnnindonesia.com






