Odeng dan Ramen Instan, Cara Praktis Menikmati Hangatnya Tanpa Mengorbankan Gizi

Odeng dan ramen instan sama-sama menawarkan kenyamanan yang sulit ditolak: hangat, cepat dibuat, dan terasa akrab di lidah. Tapi keduanya juga punya sisi yang perlu diwaspadai, terutama soal kandungan natrium dan kualitas gizi jika dikonsumsi begitu saja.

Di tengah kebiasaan makan serba cepat, dua hidangan ini justru bisa diolah ulang menjadi menu rumahan yang lebih seimbang. Kuncinya ada pada pilihan bahan pelengkap, cara memasak, dan keberanian memangkas bagian yang terlalu asin atau terlalu minim nutrisi.

Odeng dari jajanan jalanan menjadi hidangan rumahan yang lebih terkontrol

Odeng, atau eomuk dalam bahasa Korea, dikenal luas sebagai kue ikan olahan yang sering dijual sebagai jajanan kaki lima. Hidangan ini identik dengan kaldu gurih yang menghangatkan, terutama saat udara dingin.

Secara bahan, odeng dibuat dari ikan putih giling seperti pollock Alaska, cod, atau tilapia yang dicampur tepung dan sayuran cincang halus seperti wortel serta bawang bombay. Adonan itu kemudian dibentuk menjadi lembaran, bola, atau oval sebelum digoreng.

Menurut Liputan6.com, kue ikan ini punya sejarah panjang yang berkaitan dengan berbagai tradisi kuliner Asia, dan popularitasnya di Korea Selatan ikut naik selama masa pendudukan Jepang. Setelah Perang Korea, eomuk juga menjadi sumber protein yang terjangkau bagi banyak orang.

Di busana jalanan Korea, odeng biasanya ditusuk sate dan direbus dalam kaldu asin yang gurih. Kaldu itu bahkan sering ikut diminum sebagai pelengkap, sementara beberapa produsen di Busan menawarkan eomuk dengan kandungan daging ikan lebih dari 90 persen.

Ramen instan murah, praktis, tapi tidak otomatis seimbang

Ramen instan lahir dari inovasi Momofuku Ando di Jepang pada 1958 untuk menjawab krisis pangan pasca-Perang Dunia II. Pada 1971, ia memperkenalkan Cup Noodles, yang membuat mi instan makin mudah dibawa dan disiapkan.

Hingga kini, lebih dari 120 miliar porsi ramen instan dikonsumsi setiap tahun di seluruh dunia. Korea Selatan disebut sebagai negara dengan konsumsi per kapita tertinggi.

Masalahnya, ramen instan sering dikritik karena rendah serat, protein, serta sejumlah vitamin dan mineral penting. Satu bungkusnya bahkan bisa mengandung hingga 1.760 mg natrium, atau sekitar 88 persen dari rekomendasi harian WHO sebesar 2 gram.

Sejumlah temuan yang disinggung Liputan6.com juga menunjukkan bahwa konsumsi mi instan berkaitan dengan asupan protein, kalsium, zat besi, kalium, niasin, vitamin A, dan vitamin C yang lebih rendah. Konsumsi rutin juga dikaitkan dengan risiko sindrom metabolik, termasuk lemak perut berlebih, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kadar lipid darah abnormal.

HidanganKeunggulan UtamaCatatan GiziCara Membuat Lebih Sehat
OdengHangat, gurih, dan kaya proteinLebih terkontrol jika dibuat sendiriGunakan kaldu ikan teri kering, rumput laut, lobak, kecap asin Korea, dan bawang putih
Ramen instanMurah, cepat, dan praktisTinggi natrium dan minim serat serta proteinKurangi bumbu bubuk, pakai kaldu ayam atau sayuran, lalu tambah protein dan sayuran

Cara mengolahnya lebih sehat di rumah

Untuk odeng, pilihan paling sederhana adalah membuat Eomuk-guk di rumah. Kaldu bisa dibuat dari dashi atau ikan teri kering dan rumput laut, lalu ditambah irisan lobak Korea, kecap asin Korea, dan bawang putih.

Kue ikan kemudian dimasak dalam kaldu sampai mengembang, lalu bisa disajikan dengan daun bawang dan irisan cabai segar. Cara ini memberi kontrol lebih besar atas rasa, garam, dan bahan yang digunakan.

Untuk ramen instan, langkah paling penting adalah mengurangi atau membuang sebagian besar bumbu bubuk kemasan agar natriumnya turun. Kuah bisa diganti dengan kaldu ayam atau sayuran sebagai dasar rasa.

Setelah itu, tambahkan protein seperti telur, irisan ayam atau sapi, tahu, atau tempe. Sayuran seperti daun bawang, bok choy, bayam, jamur shiitake, wortel, dan kimchi juga bisa dimasukkan agar serat dan vitamin ikut naik.

Beberapa bahan tambahan juga bisa memberi karakter rasa yang berbeda, mulai dari miso paste, minyak cabai, kecap asin, minyak wijen, mentega, sampai selembar keju atau selai kacang. Dengan begitu, ramen instan tetap praktis tetapi tidak berhenti di level mi dan bumbu kemasan saja.

Di tengah kebiasaan makan cepat, odeng dan ramen instan tetap bisa jadi pilihan hangat yang masuk akal bila diolah dengan lebih cermat. Dengan sedikit penyesuaian, keduanya dapat berubah dari sekadar makanan praktis menjadi sajian rumahan yang lebih seimbang.

Source: www.liputan6.com
Terkait