Kucing yang tampak manja, cerewet, atau mendengkur belum tentu sedang merasa nyaman. Sejumlah perilaku yang terlihat menggemaskan dapat menjadi cara kucing stres berkomunikasi saat merasa tidak aman.
Hewan ini dikenal sensitif terhadap perubahan di sekitarnya. Kondisi tertekan dapat terlihat melalui perubahan perilaku, nafsu makan, kebiasaan merawat diri, hingga pola buang air.
Kucing yang kehilangan nafsu makan, tampak lemas, atau agresif mungkin lebih mudah dikenali sedang mengalami masalah. Namun, ada pula sinyal yang lebih halus sehingga pemilik perlu memperhatikan kondisi tubuh dan kebiasaan kucing secara menyeluruh.
| Perilaku | Makna yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|
| Lebih banyak bersuara | Dapat berupa upaya meminta perhatian atau respons saat merasa terancam. |
| Menjilati tubuh berlebihan | Bisa menjadi cara menenangkan diri, tetapi berisiko memicu iritasi kulit. |
| Mendengkur | Tidak selalu berarti rileks karena dapat berfungsi sebagai perilaku menenangkan diri. |
1. Semakin Cerewet
Kucing yang sedang tertekan cenderung mengeluarkan suara lebih banyak daripada biasanya. Bentuknya dapat berupa mengeong, melolong, mendesis, atau menggeram.
Mengeong dan melolong dapat menjadi seruan untuk menarik perhatian pemiliknya. Sementara itu, mendesis serta menggeram merupakan respons alami ketika kucing merasa terancam.
Perubahan intensitas suara perlu dilihat bersama perilaku lain yang muncul. Seekor kucing yang terus bersuara tetapi juga bersembunyi atau menolak makan menunjukkan situasi yang berbeda dari kucing yang sekadar aktif berinteraksi.
2. Grooming Berlebihan
Menjilati tubuh merupakan bagian normal dari grooming kucing. Aktivitas merawat diri ini dapat memicu pelepasan endorfin yang berkaitan dengan rasa puas dan bahagia.
Dalam situasi yang menegangkan, kucing bisa menjilati tubuhnya lebih sering untuk membuat diri terasa lebih baik. Kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi berlebihan dan pada akhirnya memicu iritasi pada kulit.
Perilaku grooming perlu diperhatikan bila frekuensinya tampak meningkat dibanding kebiasaan kucing sehari-hari. Perubahan itu penting dilihat sebagai bagian dari gambaran kondisi kucing, bukan hanya dianggap sebagai tingkah yang lucu.
3. Purring
Purring kucing atau mendengkur sering dikaitkan dengan suasana rileks. Namun, dengkuran juga dapat muncul ketika kucing mengalami stres yang mendalam.
Dokter hewan Cassidy Alvarez mengatakan purring dapat berfungsi sebagai perilaku menenangkan diri. “Bahkan mungkin memiliki manfaat fisiologis, karena getaran frekuensi rendah yang dihasilkan selama mendengkur telah dikaitkan dengan penyembuhan jaringan dan modulasi nyeri,” katanya.
Menurut CNN Indonesia, perbedaan dengkuran saat rileks dan saat stres dapat diperiksa dari kondisi tubuh kucing. Kucing yang mendengkur tetapi memilih bersembunyi, menolak makan, bernapas cepat, atau duduk membungkuk patut diperhatikan lebih lanjut.
Alvarez juga mengingatkan bahwa kucing sangat pandai menyembunyikan penyakit. Karena itu, satu perilaku saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisinya tanpa melihat perubahan lain yang menyertainya.
Perhatian terhadap pola makan, posisi tubuh, napas, dan kebiasaan bersembunyi dapat membantu membaca sinyal tersebut. Tingkah yang tampak menggemaskan bisa memiliki makna berbeda ketika muncul bersama tanda-tanda perubahan perilaku lainnya.
