NaCl untuk Jerawat Terlihat Aman, tetapi Dokter Tegaskan Bukan Pembunuh Bakteri

Author: Qoo Media

Penggunaan cairan infus atau NaCl 0,9 persen sebagai perawatan wajah ramai dibicarakan karena dianggap mampu meredakan jerawat. Namun, dokter kulit menegaskan cairan tersebut belum terbukti secara ilmiah dapat membunuh bakteri yang berperan dalam munculnya jerawat.

NaCl memang relatif aman dioleskan pada kulit karena tidak mengandung bahan iritatif, scrub, antiseptik, maupun bahan berbahaya. Keamanan ini tidak berarti larutan garam tersebut dapat dijadikan terapi utama untuk mengatasi jerawat.

Belum terbukti melawan bakteri jerawat

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Edwin Tanihaha, Sp.KK, Dip.AAAM, MHKes, FKCCS, mengatakan NaCl 0,9 persen adalah larutan garam yang aman untuk kulit. Akan tetapi, konsentrasi tersebut belum memiliki efek antibakteri terhadap Cutibacterium acnes.

Cutibacterium acnes merupakan salah satu faktor yang berperan dalam terbentuknya jerawat. Karena itu, sebuah produk tidak bisa langsung dinilai efektif hanya karena banyak orang menggunakannya atau merasakan perubahan pada kulit.

Dalam penjelasannya kepada Kompas.com, Edwin menyebut larutan garam berkonsentrasi tinggi memang dapat memiliki efek antibakteri ringan. Namun, belum ada laporan atau jurnal medis yang menyatakan NaCl 0,9 persen mampu membunuh Cutibacterium acnes pada jerawat.

Anggapan bahwa pengolesan NaCl rutin bisa menyembuhkan jerawat pun perlu dipandang dengan hati-hati. Perbaikan kondisi kulit dapat terjadi bersamaan dengan perubahan lain yang tidak selalu disadari pengguna.

Alasan kulit bisa terasa membaik

Sejumlah orang mungkin merasa jerawatnya berkurang setelah memakai NaCl pada wajah. Menurut Edwin, pengalaman tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa larutan garam menjadi penyebab utama perbaikan kulit.

Pengolesan cairan pada wajah dapat membantu membersihkan minyak dan kotoran di permukaan kulit. Di saat yang sama, perubahan pola hidup, penggunaan skincare, konsumsi vitamin, atau obat juga dapat memengaruhi kondisi jerawat.

Jerawat sendiri dapat dipengaruhi banyak faktor, sehingga respons tiap orang tidak selalu sama. Kondisi yang tampak membaik setelah memakai satu produk juga bisa terjadi karena rutinitas perawatan lain berjalan bersamaan.

Fungsi NaCl dalam praktik dermatologi

NaCl tetap memiliki kegunaan dalam praktik dermatologi, tetapi fungsinya berbeda dari obat antijerawat. Larutan ini dapat digunakan untuk membersihkan kulit pasien dan melakukan irigasi pada luka.

Dokter juga dapat memanfaatkan NaCl untuk wet dressing atau kompres pada luka dan koreng setelah trauma maupun tindakan laser. Selain itu, NaCl dapat digunakan sebagai pelarut obat untuk suntikan steroid pada jerawat, bekas luka, atau keloid.

Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa NaCl memiliki peran medis tertentu ketika dipakai sesuai kebutuhan. Namun, peran itu tidak sama dengan kemampuan untuk mengobati jerawat melalui pengolesan rutin di rumah.

Jerawat perlu ditangani sesuai penyebabnya

Edwin mengingatkan bahwa penanganan jerawat perlu disesuaikan dengan faktor yang mendasarinya. Dokter perlu menilai apakah jerawat berkaitan dengan pola hidup atau telah dipengaruhi faktor hormonal karena pilihan terapinya bisa berbeda.

Ia menyatakan, “Dengan terapi yang tepat, jerawat yang membandel sesulit apa pun akan membaik dalam waktu minimal tiga bulan dengan perbaikan 80-100 persen dan tidak boleh lebih dari enam bulan.” Bila terapi dengan dokter selama tiga bulan belum menunjukkan perubahan, pasien dapat mempertimbangkan untuk mencari second opinion.

Penggunaan NaCl pada kulit dapat tetap dipandang sebagai langkah yang relatif minim risiko bagi sebagian orang. Namun, cairan ini sebaiknya tidak menggantikan evaluasi dan terapi yang tepat, terutama ketika jerawat menetap atau semakin berat.

Terbaru