Kepercayaan Diri Anak tidak hanya tumbuh dari pujian atas prestasi, tetapi juga dari keberanian menghadapi situasi sehari-hari. Anak perlu merasa aman untuk bertanya, mengakui emosi, dan mencari bantuan ketika belum mampu menyelesaikan sesuatu sendiri.
Orangtua dapat melatih kemampuan itu melalui kalimat sederhana yang diulang dalam interaksi harian. Kalimat tersebut dapat menjadi bekal anak untuk mengenali kebutuhannya, mengambil keputusan, dan memahami nilai dirinya.
Berikut lima kalimat yang dapat dikenalkan sejak dini, beserta manfaatnya dalam membangun keyakinan anak. Pendekatan ini juga menempatkan orangtua sebagai pendamping yang memberi ruang belajar, bukan selalu mengambil alih masalah.
| Kalimat | Fungsi bagi Anak |
|---|---|
| Aku tidak paham atau aku butuh bantuan | Melatih keberanian bertanya |
| Aku bisa mencari jalan keluarnya | Mendorong kemampuan menghadapi tantangan |
| Aku sedang merasa… | Membantu mengenali dan mengungkapkan emosi |
| Pak, Bu, aku boleh lihat ini? | Membangun kebiasaan meminta pendampingan digital |
| Aku berarti | Menegaskan nilai diri di luar pencapaian |
1. “Aku tidak paham” atau “aku butuh bantuan”
Mengakui belum memahami sesuatu sering membuat anak merasa malu, padahal sikap itu merupakan bagian dari kesadaran diri. Psikiater anak dan remaja Sid Khurana dari Psychiatry Connection, Nevada, menilai anak perlu yakin bahwa tidak apa-apa belum memahami instruksi.
Menurutnya, anak juga perlu memiliki harga diri untuk meminta orang lain menjelaskan kembali. Orangtua dapat membiasakan contoh kalimat seperti, “Bapak, aku belum paham,” atau, “Ibu, bisa tolong jelaskan sekali lagi?”
Respons yang sabar saat anak bertanya akan membuat mereka merasa aman untuk terus belajar. Kebiasaan ini membantu anak melihat bantuan sebagai bagian dari proses, bukan tanda kegagalan.
2. “Aku bisa mencari jalan keluarnya”
Keinginan orangtua untuk segera membereskan persoalan anak dapat muncul secara spontan. Namun, pendiri platform parenting Moms on Call, Jennifer Walker, menyarankan anak dibiasakan percaya bahwa mereka bisa menghadapi tantangannya sendiri.
Dukungan dapat diberikan tanpa langsung mengambil alih, misalnya dengan mengatakan, “Kamu pasti bisa, Nak.” Seiring waktu, dorongan tersebut dapat berubah menjadi suara batin positif yang membantu anak saat menghadapi kesulitan.
Pendekatan ini bukan berarti anak harus menyelesaikan semua persoalan tanpa pendampingan. Orangtua tetap dapat hadir untuk memberi arahan, sambil membiarkan anak mencoba menemukan langkahnya sendiri.
3. “Aku sedang merasa…”
Kemampuan menyebutkan perasaan merupakan bagian penting dari rasa percaya diri dan kesehatan mental. Direktur Mental Health and Wellness Mingo Health Solutions, Lakiesha K. Oliver, menekankan bahwa anak perlu mengetahui semua emosi boleh dirasakan dan diungkapkan.
“Kemampuan mengekspresikan perasaan adalah fondasi utama kesehatan mental dan kesejahteraan,” tutur Lakiesha. Anak yang bisa mengatakan sedang marah, sedih, atau kecewa memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami apa yang sedang dialaminya.
Sid Khurana juga menilai anak perlu belajar menerima emosi yang tidak menyenangkan. Saat perasaan itu diungkapkan, anak dapat belajar mengelolanya secara lebih sehat tanpa memendamnya sendirian.
4. “Pak, Bu, aku boleh lihat ini?”
Keamanan Digital Anak menjadi alasan lain mengapa anak perlu nyaman meminta bantuan kepada orangtua. Di tengah penggunaan teknologi, anak dapat menemukan pesan, akun, atau tautan yang membingungkan dan patut dicurigai.
Direktur Eksekutif Health-e-Habits, Jim Festante, menyebut anak sering memilih menghapus bukti karena malu atau takut perangkatnya disita. Kondisi itu dapat terjadi ketika mereka membuka pesan phishing, menerima permintaan mengikuti akun mencurigakan, mengobrol dengan orang asing, atau meneruskan tautan spam.
Suasana rumah yang tidak menghakimi penting agar anak berani melapor ketika melihat sesuatu yang aneh di internet. Orangtua dapat membuka ruang percakapan dengan menegaskan bahwa meminta bantuan lebih baik daripada menyembunyikan masalah.
5. “Aku berarti”
Anak perlu memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan semata oleh prestasi atau pencapaian. Dalam Pola Asuh sehari-hari, orangtua dapat membantu anak menyadari bahwa keberadaannya memiliki arti bagi orang lain.
Orangtua dapat mengajak anak membicarakan momen ketika ia merasa telah membantu atau memberi manfaat. Kebiasaan kecil itu dapat menumbuhkan rasa berharga secara perlahan dan menjadi dasar kepercayaan diri hingga dewasa.
Lifestyle.kompas.com mencatat, latihan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan berulang dalam situasi yang dekat dengan kehidupan anak. Yang terpenting, anak mendapat respons yang tenang agar berani berbicara, mencoba, dan meminta pertolongan saat membutuhkannya.
