Gurauan tentang menjadikan pola makan Erling Haaland sebagai inspirasi MPASI ramai muncul di media sosial. Namun, dokter spesialis gizi mengingatkan bahwa kebutuhan makan atlet profesional tidak dapat disamakan dengan kebutuhan bayi yang sedang bertumbuh.
Porsi besar dan kandungan protein tinggi mungkin relevan bagi pesepakbola dengan aktivitas fisik berat. Pada bayi, asupan kalori maupun protein yang berlebihan justru dapat meningkatkan risiko gangguan gizi.
Menu Haaland menarik perhatian karena dikenal mengandung protein tinggi, karbohidrat, serta lemak sehat. Komposisi tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan fisiologis seorang atlet, bukan anak yang baru memasuki masa makanan pendamping ASI.
Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata menilai orang tua boleh mengambil prinsip baik dari pola makan atlet, tetapi bukan menyalin porsi atau susunan menunya secara utuh. Kebutuhan bayi harus disesuaikan dengan usia, kemampuan cerna, dan tahap perkembangan makan.
MPASI Bertahap Sesuai Usia Bayi
MPASI diberikan kepada bayi berusia enam bulan ke atas untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang tidak lagi cukup dipenuhi hanya melalui ASI atau susu formula. Sistem pencernaan bayi yang masih berkembang membuat tekstur makanan perlu dinaikkan secara bertahap.
| Usia Bayi | Tekstur Makanan | Contoh Bentuk |
|---|---|---|
| 6-8 bulan | Lumat | Puree atau bubur kental |
| 9-11 bulan | Bertahap lebih padat | Cincang halus, cincang kasar, atau finger food |
| 12-23 bulan | Makanan keluarga | Potongan yang sesuai |
Tahapan ini membantu bayi beradaptasi dengan bentuk dan tekstur makanan yang makin beragam. Karena itu, kebutuhan bayi tidak ditentukan oleh target makan berkalori tinggi seperti yang dibutuhkan atlet.
Protein Berlebih Bisa Mengganggu Keseimbangan Gizi
Menurut Johanes, pemberian kalori dan protein berlebih pada bayi bukan pilihan yang tepat. Risiko overweight dan obesitas dapat meningkat ketika asupan protein hewani maupun protein total terlalu tinggi.
“Asupan kalori dan protein berlebihan pada bayi tidak baik karena risiko overweight dan obesitas meningkat dengan tingginya asupan protein hewani dan protein total,” ujar Johanes kepada CNNIndonesia.com. Asupan protein yang terlalu banyak juga membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring sisa metabolisme.
Dampaknya tidak berhenti pada beban kerja ginjal. Porsi protein yang dominan dapat mengurangi ruang bagi zat gizi lain yang juga penting bagi pertumbuhan anak.
Johanes menjelaskan, anak tetap membutuhkan lemak sehat, zat besi, dan karbohidrat untuk mendukung energi serta perkembangan otak. Ketika bayi terlalu banyak mengonsumsi protein, keseimbangan zat gizi tersebut berpotensi terganggu.
Yang Bisa Ditiru dari Pola Makan Atlet
Prinsip pola makan atlet tetap dapat menjadi pengingat bagi keluarga untuk memilih makanan alami atau whole foods. Buah dan sayur juga dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih seimbang sesuai kebutuhan setiap anggota keluarga.
Protein sebaiknya dipenuhi berdasarkan aktivitas fisik dan kebutuhan tubuh, bukan mengikuti porsi orang lain. Keseimbangan antara asupan energi dan aktivitas sehari-hari menjadi hal penting, termasuk bagi anak dalam masa pertumbuhan.
Tidur yang cukup juga termasuk kebiasaan yang disebut Johanes dapat diambil sebagai inspirasi dari pola hidup atlet. Namun, penerapannya pada bayi tetap harus berada dalam kerangka pemberian MPASI yang sesuai tahap usia.
Orang tua perlu memperhatikan kemampuan bayi mengolah makanan sebelum menaikkan tekstur maupun jumlah makanannya. Candaan “MPASI ala Haaland” dapat menjadi pengingat bahwa menu sehat tidak selalu berarti porsi besar atau protein sebanyak mungkin.
Pemberian MPASI yang tepat berfokus pada variasi, tekstur sesuai usia, dan kecukupan zat gizi yang seimbang. Pendekatan ini lebih relevan bagi tumbuh kembang bayi dibanding mengikuti pola makan atlet profesional.
Source: www.cnnindonesia.com






