Perubahan suasana hati menjelang atau saat menstruasi bukan sekadar anggapan berlebihan. Fluktuasi estrogen dan progesteron dapat berkaitan dengan rasa lelah, sedih, mudah marah, hingga kecemasan pada sebagian perempuan.
Namun, respons setiap tubuh tidak sama. Ada yang hanya merasakan keluhan ringan, sementara sebagian lain mengalami perubahan emosi yang cukup kuat hingga mengganggu rutinitas.
Siklus menstruasi melibatkan perubahan hormon yang berlangsung dalam beberapa tahap. Perubahan ini juga berhubungan dengan zat kimia otak, termasuk serotonin dan dopamin, yang berkaitan dengan suasana hati serta energi.
Menurut penjelasan yang dihimpun www.beautynesia.id, kadar hormon tidak selalu berdampak sama pada setiap perempuan. Sensitivitas terhadap perubahan hormon menjadi salah satu alasan mengapa gejala emosional dapat terasa lebih berat pada sebagian orang.
Perubahan Mood di Setiap Fase
| Fase | Perkiraan Waktu | Perubahan yang Dikaitkan |
|---|---|---|
| Menstruasi | Hari 1-5 | Estrogen dan progesteron berada di titik rendah |
| Folikuler | Hari 6-12 | Estrogen mulai meningkat, energi dapat lebih stabil |
| Ovulasi | Hari 13-15 | Estrogen mencapai puncak sebelum kemudian menurun |
| Luteal | Mulai hari 16-18 | Progesteron meningkat, lalu estrogen dan progesteron menurun bila tidak terjadi pembuahan |
Pada awal menstruasi, estrogen dan progesteron biasanya berada pada kadar terendah. Artikel ilmiah berjudul The Impact of the Menstrual Cycle and Underlying Hormones in Anxiety and PTSD mengaitkan kondisi ini dengan perubahan kecemasan dan suasana hati.
Penurunan estrogen dapat diikuti penurunan produksi serotonin, yang kerap dikenal sebagai hormon perasaan baik. Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih mudah lelah, sedih, atau marah selama fase menstruasi.
Progesteron juga dikaitkan dengan pengendalian emosi melalui metabolit yang bekerja pada reseptor GABA di otak. Reseptor tersebut memiliki efek menenangkan, sehingga kadar progesteron yang rendah kerap dihubungkan dengan meningkatnya kecemasan dan perubahan mood.
Fase menstruasi serta pramenstruasi disebut dapat memperparah gejala pada perempuan dengan riwayat PTSD. Meski demikian, keluhan emosional pada fase ini tidak otomatis berarti seseorang memiliki gangguan kesehatan mental tertentu.
Saat Energi Mulai Meningkat
Memasuki fase folikuler pertengahan hingga akhir, sekitar hari ke-6 sampai 12, kadar estrogen mulai naik. Peningkatan ini menandai proses sintesis serotonin dan dopamin yang dapat membuat energi lebih stabil serta suasana hati membaik.
Di penghujung fase folikuler, tubuh bersiap memasuki ovulasi atau pelepasan sel telur. Pada siklus 28 hari, ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke-13 sampai 15.
Estrogen berada di puncak pada masa ovulasi, sehingga sebagian perempuan dapat merasa lebih berenergi dan percaya diri. Namun, penurunan estrogen yang mulai terjadi di akhir fase ini dapat menjadi penanda peralihan menuju fase luteal.
Fase Luteal dan Keluhan yang Perlu Diperhatikan
Fase luteal merupakan masa persiapan kehamilan ketika progesteron meningkat dan mencapai puncak sekitar satu minggu setelah ovulasi. Dinding rahim menebal pada fase ini sebagai bagian dari persiapan apabila terjadi pembuahan.
Jika sel telur tidak dibuahi, progesteron dan estrogen kembali menurun sebelum dinding rahim luruh. Penurunan yang tajam inilah yang dikaitkan dengan munculnya kembali perubahan suasana hati menjelang menstruasi berikutnya.
Tinjauan ilmiah Psychiatric Symptoms Across the Menstrual Cycle in Adult Women: A Comprehensive Review mencatat bahwa fase luteal dapat berkaitan dengan peningkatan kecemasan, stres, dan masalah makan pada sebagian kasus. Sumber tersebut juga menyebut persoalan yang lebih ekstrem, termasuk percobaan mengakhiri hidup, dapat muncul pada fase ini.
Profesor psikiatri Universitas Illinois Chicago, Tory Eisenlohr-Moul, Ph.D., menekankan bahwa tidak semua perempuan mengalami dampak mental yang sama dari perubahan hormon. Sebagian perempuan justru lebih sensitif, sehingga perubahan hormon dapat memengaruhi mood dan perilaku secara lebih nyata.
Ketika gejala emosional terus berlangsung dan mulai mengganggu aktivitas harian, kondisi tersebut dapat didiskusikan sebagai kemungkinan gangguan disforia pramenstruasi atau PMDD. Kondisi ini berbeda dari keluhan ringan yang dapat muncul sesekali saat menjelang atau selama menstruasi.
Rasa sakit, lelah, dan lebih emosional saat haid dapat menjadi respons alami tubuh. Akan tetapi, perubahan perilaku yang signifikan atau perasaan negatif yang menetap perlu dibicarakan dengan tenaga ahli, terutama bila berkaitan dengan kesehatan mental perempuan.
Konsultasi membantu menilai keluhan berdasarkan kondisi pribadi dan pola gejala yang dialami. Langkah ini juga penting agar seseorang tidak melakukan diagnosis sendiri ketika perubahan mood terasa semakin berat.
