Gaya Hidup Makin Pasif dan Tinggi Gula, Risiko Kanker Payudara Ikut Naik

Aktivitas fisik yang makin berkurang, kenaikan berat badan, dan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula menjadi pola hidup yang perlu diwaspadai perempuan. Dokter menilai faktor-faktor tersebut dapat ikut meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker rahim.

Kekhawatiran ini muncul ketika beban kanker terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan dan kerap ditemukan setelah memasuki stadium lanjut.

Gaya Hidup yang Tak Boleh Diabaikan

Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, menyoroti perubahan gaya hidup sebagai salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. “Berkurangnya aktivitas fisik, meningkatnya obesitas, serta pola makan tinggi gula menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker rahim,” ujarnya di Jakarta Selatan.

Pernyataan itu menempatkan Gaya Hidup Sehat sebagai bagian penting dari upaya pencegahan. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan alkohol disebut tetap menjadi benteng pertahanan awal yang penting.

Peningkatan jumlah kasus kanker tidak semata-mata terjadi karena peralatan pemeriksaan kini lebih maju. Menurut Dr. See, terdapat peningkatan nyata kejadian kanker di masyarakat, meski teknologi seperti mammografi juga membantu menemukan penyakit dengan lebih baik.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah memperingatkan perlunya langkah pengendalian kanker yang lebih cepat dan merata. Tanpa upaya tersebut, jumlah kasus baru kanker diproyeksikan meningkat hingga hampir dua kali lipat pada 2050.

Beban Kanker yang Terus Membesar

Data WHO menggambarkan besarnya tantangan penyakit ini di tingkat global. Pada 2024, kanker payudara diperkirakan menyumbang sekitar 2,4 juta kasus baru dan menjadi diagnosis yang dominan di 164 dari 186 negara.

Jenis KankerPerkiraan Kasus Baru Global 2024Keterangan
Kanker payudara2,4 jutaMendominasi diagnosis di 164 dari 186 negara
Kanker serviks604 ribuTermasuk beban kanker pada perempuan secara global

Di Indonesia, data Global Cancer Observatory atau GLOBOCAN menunjukkan total perkiraan kasus baru kanker mencapai sekitar 408.661. Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kanker tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk mengenali risiko sejak awal.

Kanker Payudara menjadi tantangan besar karena masih banyak pasien datang ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut. Rendahnya kesadaran untuk melakukan Deteksi Dini Kanker menjadi salah satu alasan kondisi tersebut sering terjadi.

Pengobatan Kini Makin Spesifik

Kemajuan pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler membuat dokter dapat mengenali karakter kanker dengan lebih terperinci. Pada kanker payudara, pemeriksaan ini dapat membedakan subtipe hormone receptor-positive, HER2-positive, dan triple-negative breast cancer.

Identifikasi subtipe berperan dalam menentukan pilihan penanganan setiap pasien. Dokter dapat mempertimbangkan terapi hormonal, terapi target, terapi anti-HER2, imunoterapi, atau kombinasi dari beberapa pendekatan tersebut sesuai kondisi klinis.

Pendekatan terapi presisi memberi peluang pengobatan yang lebih tepat sasaran. Namun, pemilihan terapi tetap harus didasarkan pada penilaian tim medis terhadap karakter penyakit dan keadaan pasien secara menyeluruh.

AI Membantu, Dokter Tetap Menentukan

Kecerdasan buatan atau AI mulai digunakan untuk membantu meningkatkan ketepatan pembacaan mammografi dan hasil radiologi lain. Teknologi ini dirancang untuk membantu meminimalkan kemungkinan kesalahan manusia dalam proses pembacaan pemeriksaan.

Dr. See menegaskan AI tidak menggantikan peran dokter dalam mengambil keputusan medis yang krusial. Keputusan akhir tetap berada di tangan dokter yang memahami kondisi klinis pasien secara utuh.

Selain perubahan gaya hidup dan pemeriksaan dini, perluasan cakupan vaksinasi HPV juga disebut sebagai bagian dari upaya menghadapi kanker pada perempuan. Kombinasi kesadaran sejak awal, pencegahan, serta terapi presisi membuka peluang bagi pasien untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terkait