Anak yang tumbuh di rumah dengan suasana hati orang tua yang sulit ditebak dapat belajar untuk selalu siaga. Mereka mungkin terus memantau nada bicara, ekspresi, hingga perubahan kecil di sekelilingnya agar tidak memicu konflik.
Kondisi ini dikenal sebagai eggshell parenting, yaitu pola asuh ketika emosi, respons, dan perilaku orang tua tidak konsisten. Dampaknya tidak berhenti pada masa kanak-kanak karena pola tersebut dapat terbawa ke cara seseorang memahami emosi dan membangun hubungan saat dewasa.
Istilah ini berkaitan dengan ungkapan walking on eggshells, yang menggambarkan perasaan harus berhati-hati dalam situasi penuh ketidakpastian. Psikoterapis Anna Hindell menjelaskan kepada Parents bahwa pola ini tampak ketika suasana hati yang tidak stabil dan ledakan emosi orang tua membuat anak harus selalu waspada di dekat mereka.
Ledakan tersebut kerap dipicu hal yang tidak jelas bagi anak, sehingga rasa aman di rumah menjadi terganggu. Dalam kondisi yang berat, anak bahkan dapat merasa bertanggung jawab mengelola keadaan emosional orang tua dan menyalahkan diri sendiri saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Dampak yang Dapat Terbawa hingga Dewasa
Eggshell parenting berpotensi membuat anak kesulitan meregulasi emosi, mengalami stres, dan terlalu waspada terhadap ancaman. Pola ini juga dapat berkaitan dengan masalah kemelekatan atau attachment issue dalam hubungan dengan orang lain.
Anak dapat berkembang dengan pola anxious attachment, yaitu takut diabaikan atau tidak dicintai. Sebaliknya, ada pula yang mengembangkan avoidant attachment, yakni kesulitan mengandalkan orang lain maupun terbuka secara emosional.
| Tanda | Gambaran yang Muncul |
|---|---|
| Terlalu waspada | Terus mencari tanda konflik, ketegangan, atau ledakan emosi. |
| Ingin menyenangkan orang lain | Mengabaikan kebutuhan pribadi agar orang lain tidak marah. |
| Sulit mengekspresikan emosi | Menekan atau meragukan perasaan sendiri. |
| Merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain | Merasa harus menjaga perasaan dan kepuasan orang sekitar. |
| Tidak nyaman bersama orang tua | Merasa tegang saat bersama orang tua yang sensitif secara emosional. |
5 Tanda yang Perlu Diperhatikan
1. Terlalu Waspada
Kewaspadaan berlebihan dapat muncul pada orang yang dibesarkan dalam lingkungan sangat protektif atau emosionalnya tidak stabil. Seseorang dapat terbiasa mengamati ruangan dan mencari tanda-tanda ketegangan, konflik, maupun kemungkinan ledakan emosi.
Pola ini tidak selalu hanya terasa di rumah. Kewaspadaan tersebut dapat muncul pula dalam situasi lain, termasuk di lingkungan kerja.
2. Selalu Ingin Menyenangkan Orang Lain
Keinginan untuk menyenangkan orang lain dapat terlihat ketika seseorang terus memantau suasana hati dan kebutuhan orang di sekitarnya. Ia lalu berusaha melakukan apa saja agar orang lain merasa senang, meski harus menekan kebutuhan atau pendapat pribadi.
Sikap ini dapat terasa seperti cara untuk menjauh dari ancaman dan menjaga citra diri sebagai pribadi yang positif. Namun, kebiasaan tersebut juga dapat membuat kebutuhan emosional diri sendiri sulit mendapat ruang.
3. Sulit Mengekspresikan Emosi Sendiri
Psikolog klinis Noelle Santorelli menjelaskan bahwa anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan emosi mudah meledak dapat belajar menekan perasaannya sendiri. Mereka melakukannya untuk menghindari konflik yang responsnya sulit diprediksi.
Kesulitannya bukan hanya menyampaikan emosi, tetapi juga memahami dan mempercayai emosi tersebut. Saat merasa kecewa, misalnya, seseorang dapat justru mempertanyakan apakah perasaan itu wajar alih-alih mengakuinya.
4. Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain
Perasaan wajib menjaga emosi orang lain dapat berakar dari masa kecil yang dihabiskan untuk menjaga perasaan orang tua. Anak mungkin terbiasa memastikan orang tua merasa puas, terutama bila orang tua membutuhkan perhatian emosional ekstra.
Ketika pola itu berlanjut, seseorang dapat merasa bersalah atas perasaan orang lain. Padahal, tanggung jawab atas emosi setiap orang tidak sepenuhnya berada pada orang di sekitarnya.
5. Tidak Nyaman Bersama Orang Tua
Rasa tidak nyaman ketika bersama orang tua juga dapat menjadi tanda pengalaman pengasuhan yang rapuh. Perasaan ini dapat muncul bila seseorang pernah menghabiskan waktu dengan orang tua yang sangat sensitif secara emosional dan perlu diperlakukan dengan kehati-hatian tinggi.
Mengenali tanda-tanda ini penting agar pola asuh yang menyakitkan tidak diteruskan kepada anak. Kesadaran terhadap pola yang pernah dialami dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan keluarga yang lebih aman secara emosional.
Source: www.cnnindonesia.com






