Tedak Siten sebagai tradisi Jawa yang sarat makna kembali diselenggarakan oleh Kaesang Pangarep dan Erina Gudono untuk putri mereka, Bebingah Sang Tansahayu, pada Minggu (24/8/2025) di Graha Saba Building, Sumber, Solo. Salah satu prosesi yang menarik perhatian adalah kurungan ayam, di mana Bebingah diminta memilih benda tertentu yang disediakan dalam sebuah kandang kecil.
Dalam kurungan ayam tersebut, sejumlah benda disiapkan, antara lain stetoskop, tongkat peri, mahkota, boneka, dan buku. Bebingah memilih stetoskop, yang menurut pemandu acara Tedak Siten memiliki makna mendalam. Pilihan stetoskop melambangkan harapan bahwa anak Kaesang dan Erina kelak dapat menjadi dokter atau mencapai kesuksesan di bidang yang penuh prestasi. “Oh stetoskop. Apakah besok akan menjadi dokter? Kita lihat nanti ya,” ungkap pemandu acara seperti dikutip dari kanal YouTube Berita Surakarta.
Prosesi kurungan ayam dalam Tedak Siten bukan sekadar aktivitas ritual semata, melainkan sebuah simbol perjalanan hidup manusia yang penuh pilihan dan batasan. Kurungan menggambarkan dunia yang memiliki aturan, di mana setiap individu diharuskan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan norma yang berlaku. Melalui prosesi ini, anak-anak diajarkan pentingnya kemandirian karena mereka diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidup sendiri melalui pilihan benda yang diambil.
Dalam tradisi ini, peran orang tua adalah memberi arahan dan doa agar tumbuh kembang sang anak sesuai harapan, namun keputusan akhir tetap berada di tangan anak itu sendiri sebagai lambang tanggung jawab dan kebebasan memilih. Tradisi tersebut mengajarkan filosofi bahwa setiap orang sejak kecil harus mampu menentukan arah hidupnya meskipun berada dalam berbagai aturan yang mengikat.
Acara Tedak Siten putri Kaesang ini dihadiri oleh jajaran keluarga besar, termasuk Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming, serta para sepupu Bebingah seperti La Lembah dan Sedah Mirah. Rangkaian prosesi lain yang dilalui Bebingah antara lain Meniti Jadah dan Naik Tangga, yang masing-masing juga memiliki makna simbolik terkait pertumbuhan dan kesiapan anak memasuki tahapan kehidupan berikutnya.
Pilihan Bebingah mengambil stetoskop dalam kurungan ayam juga mendapat sorotan luas dari publik, karena benda itu dianggap sebagai simbol profesi mulia dan kesuksesan di bidang kesehatan. Tradisi seperti ini menjadi momen penting sekaligus edukatif, mengingatkan adanya nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada generasi muda agar selalu mengenali arti penting keputusan dan kebebasan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan sekadar permainan, kurungan ayam memuat pesan mendalam bahwa kehidupan penuh dengan batasan yang harus dihadapi dan diadaptasi oleh setiap individu. Filosofi ini relevan untuk dijadikan landasan dalam mendidik anak agar siap mental menghadapi tantangan dan mampu memilih jalan hidupnya dengan bijak.
Dengan demikian, prosesi Tedak Siten yang dilaksanakan oleh Kaesang dan Erina bagi putri mereka tidak hanya mempererat tradisi budaya Jawa, tetapi juga menjadi refleksi nilai-nilai kemandirian, harapan, serta pengenalan terhadap tanggung jawab berkehidupan sejak usia dini. Prosesi ini menunjukkan bagaimana kerangka adat dan budaya lokal masih punya peran kuat dalam membentuk karakter dan masa depan anak.







