
Fenomena orangtua memiliki anak favorit sering kali menjadi topik yang sensitif dan jarang diakui secara terbuka. Namun, kenyataannya, sikap pilih kasih ini cukup umum terjadi dalam banyak keluarga. Hal ini bukan semata karena ketidaksukaan terhadap anak lain, melainkan sejumlah alasan psikologis dan sosial yang mendasari.
Dari berbagai studi dan pengamatan, favoritisme dalam keluarga sering muncul karena sejumlah faktor yang berkaitan dengan interaksi, kesamaan nilai, serta kebutuhan emosional orangtua. Memahami alasan ini dapat membantu menjelaskan dinamika internal keluarga tanpa perlu menyalahkan siapapun secara berlebihan.
Kesamaan Cara Pandang dan Nilai
Salah satu alasan utama orangtua cenderung menyukai anak tertentu adalah karena anak tersebut memiliki pandangan dan nilai hidup yang sama. Hal ini membuat interaksi menjadi lebih mudah dan nyaman. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychology & Aging, perbedaan nilai sering memicu konflik antara orangtua dan anak dewasa. Ketika ada kesamaan nilai dan pendapat, komunikasi berjalan lebih lancar sehingga mengurangi ketegangan dalam hubungan.
Orangtua lebih merasa aman dan tidak lelah menghadapi argumen jika berhubungan dengan anak yang ‘sepemikiran’. Oleh sebab itu, kedekatan emosional lebih cenderung tumbuh antara mereka yang memiliki kesamaan cara pandang.
Kedekatan Fisik dan Waktu Berkualitas
Faktor jarak tempat tinggal juga berpengaruh besar terhadap rasa favoritisme. Orangtua yang tinggal dekat dengan anak dewasa mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama. Momen makan malam, menghadiri acara keluarga, atau sekadar berbincang santai memperkuat ikatan emosional.
Sebaliknya, anak yang tinggal jauh mungkin mengalami jarak emosional hanya karena keterbatasan interaksi sehari-hari. Kondisi ini kadang-kadang tidak disadari oleh orangtua karena perlakuan lebih intens terhadap anak yang tinggal dekat menjadi hal biasa, meski sebenarnya menimbulkan kesan pilih kasih.
Rasa Dihargai dan Perasaan Kebahagiaan Orangtua
Menurut riset di The Journal of Positive Psychology, orangtua cenderung merasa lebih bahagia dan sehat jika mereka merasa dihargai oleh anak-anaknya. Perasaan ini membantu menurunkan risiko stres kronis dan kecemasan. Anak-anak yang mampu menunjukkan penghargaan dan dukungan secara tulus kepada orangtua sering kali mendapatkan perhatian lebih.
Hal ini menjadi sinyal bahwa hubungan yang sehat tidak hanya soal menerima kasih sayang, tetapi juga memberikan apresiasi yang nyata.
Minimnya Konflik dan Perdebatan
Konflik dalam hubungan orangtua dan anak merupakan hal yang lumrah, namun kenyamanan psikologis mendorong orangtua lebih menyukai anak yang jarang menimbulkan perdebatan. Terutama pada hubungan ibu dan anak perempuan, perdebatan yang intens bisa menimbulkan stres tinggi.
Karena itu, orangtua cenderung lebih memilih membina hubungan yang terasa lebih ringan dan minim ketegangan dengan anak yang lebih mudah berkompromi atau menghindari konflik.
Kesamaan Jalur Hidup dan Pilihan Anak
Anak yang mengikuti jalur hidup sesuai harapan orangtua sering kali menjadi favorit karena hal tersebut memperkuat kebanggaan dan kedekatan emosional. Sebuah penelitian dalam jurnal Psychological Science menunjukkan bahwa kesamaan pengalaman dan nilai hidup dapat mempermudah komunikasi dan mempererat ikatan.
Contohnya termasuk anak yang melanjutkan pendidikan, mengelola usaha keluarga, atau membangun rumah tangga dengan cara yang sesuai harapan orangtua.
Kepribadian yang Mirip
Hubungan yang lancar juga dipengaruhi oleh kemiripan kepribadian. Orang yang sulit berempati pada perbedaan biasanya merasa lebih nyaman berinteraksi dengan tipe kepribadian serupa. Kesamaan dalam gaya komunikasi dan pendekatan masalah menjadikan interaksi terasa lebih alami dan minim stres.
Anak yang Siap Membantu dan Bisa Diandalkan
Sikap membantu dan dapat diandalkan membuat orangtua merasa diperhatikan dan dihargai secara nyata. Studi dalam Frontiers in Psychology menyebutkan bahwa tindakan kecil seperti membantu orangtua secara rutin dapat meningkatkan harga diri kedua belah pihak dan memperkuat hubungan. Kehadiran anak yang suportif dianggap sebagai bentuk rasa syukur yang memberi dampak positif secara emosional.
Tidak Memerlukan Banyak Perhatian dan Batasan
Favoritisme juga bisa muncul dari sifat anak yang tidak banyak menuntut perhatian atau batasan kaku. Anak yang santai dan mudah bergaul tanpa drama dirasakan lebih nyaman oleh orangtua. Hubungan seperti ini bebas dari tekanan emosional sehingga lebih dipilih untuk dijalin secara intens.
Perasaan Dibutuhkan dan Tempat Bergantung
Orangtua yang merasa tidak aman terkadang merasa lebih dekat dengan anak yang masih sering bergantung dan mencari dukungan. Perasaan dibutuhkan ini menjadi sumber penguatan emosional bagi orangtua walaupun bisa berisiko menciptakan ketergantungan yang tidak sehat.
Memahami alasan-alasan ini membantu kita melihat favoritisme bukan sekadar soal keadilan, melainkan juga dinamika kompleks dalam hubungan keluarga yang dipengaruhi oleh faktor emosional dan sosial. Dengan insight tersebut, keluarga dapat belajar mencari keseimbangan dan membangun komunikasi yang lebih sehat untuk mengurangi rasa pilih kasih yang negatif.





