Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan bahwa transformasi menuju industri hijau berperan penting dalam meningkatkan kinerja ekspor daerah tersebut. Model industri yang berfokus pada keberlanjutan ini mendapat respons positif dari pasar global yang kini semakin mengutamakan produk ramah lingkungan.
Kepala Disperindag Jawa Tengah, July Emmylia, menyebut bahwa pergeseran preferensi konsumen dunia terhadap produk hijau berkontribusi besar pada nilai ekspor provinsi itu. Meski sektor tekstil masih menjadi kontributor utama, permintaan terhadap produk dengan nilai ekologi tinggi terus meningkat, menjadi andalan baru dalam ekspor Jawa Tengah.
Surplus Neraca Perdagangan dan Peningkatan Ekspor
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa neraca perdagangan nonmigas Jawa Tengah mencatat surplus sebesar USD 3,15 miliar hingga akhir November. Angka ini menandakan kenaikan sebesar USD 740,58 juta dibandingkan periode yang sama sebelumnya. Surplus ini menegaskan daya tahan perekonomian di tengah ketidakpastian geopolitik global.
July Emmylia menilai konsumen global kini makin selektif dan lebih mengutamakan keberlanjutan dalam memilih produk. Transformasi industri hijau menjadi salah satu faktor strategis yang menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekspor di Jawa Tengah.
Realisasi Investasi Menguat sebagai Penyangga Ekonomi
Investasi di Jawa Tengah juga mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun berjalan. Realisasi investasi mencapai Rp 88,5 triliun, melampaui target awal sebesar Rp 78,33 triliun. Hal ini menunjukkan kepercayaan para investor terhadap prospek ekonomi dan iklim usaha di wilayah tersebut.
Investor asing yang dominan berasal dari Hongkong, Singapura, dan Tiongkok. Aliran modal tersebut mendorong pengembangan industri ramah lingkungan dan mendukung peningkatan kapasitas produksi untuk pasar ekspor global.
Dampak Positif Transformasi Industri Hijau
Transformasi industri hijau membawa dampak multifaset terhadap struktur ekonomi Jawa Tengah, dengan:
- Meningkatkan daya saing produk ekspor di pasar internasional.
- Mengurangi ketergantungan pada bahan baku konvensional yang kurang ramah lingkungan.
- Membuka peluang investasi baru khususnya di sektor teknologi bersih dan energi terbarukan.
- Memperkuat ketahanan ekonomi daerah dari fluktuasi geopolitik dan ekonomi global.
Upaya transformasi ini juga menyesuaikan Jawa Tengah dengan kebijakan dan standar global yang semakin ketat terkait aspek lingkungan dan sosial.
Ke depan, Jawa Tengah diperkirakan akan terus menguatkan strategi pengembangan industri hijau sebagai pilar ekonomi berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan teknologi industri di wilayah tersebut.
Baca selengkapnya di: suarabaru.id






