Ekspor manufaktur Jawa Tengah sepanjang tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan sebesar 13,33% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini memberikan kontribusi utama terhadap pertumbuhan nilai ekspor nonmigas provinsi tersebut yang mencapai US$12,623,21 juta, meningkat 10,49% secara year-on-year (yoy).
Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama dalam capaian ekspor Jawa Tengah. Beberapa komoditas unggulan menunjukkan tren peningkatan, kecuali komoditas pakaian dan aksesoris bukan rajutan yang justru turun 9,80% dalam nilai ekspor.
Komoditas Unggulan dan Perkembangannya
Dari enam komoditas ekspor nonmigas unggulan, lima mencatatkan pertumbuhan nilai ekspor yang menguat. Berikut rinciannya:
- Pakaian dan aksesoris rajutan (HS-61) naik 3,61%.
- Alas kaki (HS-64) tumbuh 14,82%.
- Kayu dan barang dari kayu (HS-44) meningkat 6,98%.
- Mesin atau perlengkapan elektrik (HS-85) melonjak 57,22%.
- Barang dari kulit samak (HS-42) naik 7,19%.
Sebaliknya, kelompok pakaian dan aksesoris bukan rajutan (HS-62) mencatat penurunan nilai ekspor dari US$2.105,80 juta menjadi US$1.889,52 juta. Komoditas ini memiliki kontribusi sebesar 15,30% terhadap total ekspor nonmigas Jawa Tengah.
Negara Tujuan Ekspor Nonmigas
Amerika Serikat menjadi pasar utama ekspor manufaktur Jawa Tengah, dengan nilai ekspor mencapai US$5,9 miliar. Peningkatan ke negara ini juga cukup tinggi, yakni 28,97%. Jepang dan China menempati posisi kedua dan ketiga, dengan ekspor ke Jepang naik 8% dan ke China justru turun 11,89%. Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 60,26% dari total ekspor nonmigas regional.
Performa Sektor Ekspor Jawa Tengah
Sektor industri pengolahan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekspor nonmigas, diikuti oleh sektor produk pertambangan dan lainnya yang mengalami lonjakan luar biasa sebesar 178,99%. Namun, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat penurunan nilai ekspor sebesar 13,15%.
Neraca Perdagangan Jawa Tengah
Meskipun sektor nonmigas mencatat surplus sebesar US$3.404,60 juta, Jawa Tengah tetap mengalami defisit neraca perdagangan secara keseluruhan sebesar US$1.975,88 juta. Defisit ini terutama berasal dari sektor migas yang mencapai US$5.380,48 juta.
Data ini menunjukkan bahwa penguatan sektor manufaktur menjadi kunci bagi ekspor Jawa Tengah dalam mengimbangi defisit sektor energi. Ke depan, peningkatan diversifikasi produk dan penetrasi pasar ekspor dirasa penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut.
Baca selengkapnya di: semarang.bisnis.com




