Proses identifikasi jenazah korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menghadapi tantangan berat akibat kondisi jenazah yang telah mengalami perubahan signifikan. Sebagian besar korban ditemukan setelah tertimbun selama berhari-hari, sehingga jaringan tubuh mengalami pembusukan yang menyulitkan pengenalan identitas.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyatakan bahwa lamanya waktu tertimbun material longsor menjadi penyebab utama kondisi jenazah yang berubah drastis. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim Disaster Victim Identification (DVI) dalam melaksanakan proses identifikasi.
Metode Forensik dalam Proses Identifikasi
Meskipun menghadapi kendala, tim DVI Polda Jawa Barat tetap melakukan identifikasi dengan berbagai teknik forensik yang canggih. Tim bekerja secara maksimal untuk menggali data identitas korban dari metode ante mortem dan post mortem sehingga hasil identifikasi dapat dipastikan secara akurat. Kombes Pol Hendra menegaskan hingga saat ini belum ada kendala dalam proses yang tidak bisa diatasi oleh tim DVI.
Jumlah Jenazah yang Telah Teridentifikasi dan Masih dalam Proses
Data dari Polda Jawa Barat menunjukkan bahwa sebanyak 68 kantong jenazah sudah berhasil diidentifikasi. Sementara itu, 17 kantong jenazah lainnya masih menjalani proses identifikasi lanjutan. Sebelum pengumuman resmi, setiap sore tim DVI melakukan rekonsiliasi data antara identitas ante mortem dan post mortem guna memastikan kecocokan informasi secara menyeluruh.
Upaya Berkelanjutan dan Pelayanan bagi Keluarga Korban
Polda Jawa Barat berkomitmen untuk terus mengintensifkan proses identifikasi hingga seluruh jenazah korban longsor dapat dikenali dan diserahkan kepada keluarga. Data mengenai jumlah orang hilang terus diperbarui setiap hari sesuai perkembangan di lapangan. Kepolisian juga memastikan bahwa pelayanan proses identifikasi dilakukan hingga seluruh tahapan administratif rampung.
Tantangan Forensik dan Konfirmasi Identitas
Tantangan utama dalam proses ini adalah kondisi jenazah yang mengalami pembusukan dan perubahan jaringan setelah lebih dari enam hari tertimbun material longsor. Namun, tim forensik dari Polda Jawa Barat tetap memanfaatkan teknologi serta metode ilmiah untuk memberikan kepastian identitas. Hal ini penting guna memberikan kejelasan dan ketenangan bagi keluarga korban yang sedang menunggu informasi resmi.
Secara keseluruhan, langkah-langkah identifikasi yang dilakukan oleh Tim DVI Polda Jawa Barat menunjukkan keseriusan dalam menghadapi bencana dengan pendekatan ilmiah dan profesional. Upaya ini menjadi bagian krusial dalam proses pemulihan dampak longsor di Cisarua serta membantu proses berduka bagi keluarga korban secara terhormat dan sesuai prosedur hukum.
Baca selengkapnya di: tribratanews.jabar.polri.go.id






