Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur memprediksikan ekonomi wilayah ini akan tumbuh antara 4,9 persen hingga 5,7 persen pada tahun 2026. Pertumbuhan tersebut diperkirakan akan didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat serta permintaan eksternal yang tetap terjaga.
Kepala Perwakilan BI Jatim, Ibrahim, menjelaskan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi akan sangat bergantung pada respons kebijakan dari pemerintah pusat maupun daerah. Kebijakan yang mendukung diyakini dapat mendorong pertumbuhan hingga mencapai batas atas prediksi tersebut.
Konsumsi Rumah Tangga sebagai Motor Utama Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi Jatim diperkirakan solid karena adanya peningkatan konsumsi rumah tangga. Hal ini didukung oleh membaiknya keyakinan konsumen yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang diprediksi mencapai sekitar 128 pada tahun ini, naik dari realisasi sebelumnya yang di bawah angka nasional 123,5.
Penjualan eceran juga diperkirakan naik lebih dari 3 persen dibandingkan tahun lalu. Selain itu, pemerintah memberikan sejumlah stimulus untuk mendorong konsumsi, termasuk perpanjangan insentif Pajak Penghasilan (PPh) Final UMKM sebesar 0,5 persen, dan insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) di sektor pariwisata yang diperpanjang hingga akhir tahun depan.
Stimulus Pajak untuk Mendukung Sektor Prioritas
Pemerintah juga memperpanjang insentif PPh Pasal 21 DTP bagi industri yang padat karya sampai akhir tahun depan. Selain itu, perluasan Jaminan Kematian bagi Bukan Penerima Upah (BPU) juga menjadi bagian dari program yang diluncurkan untuk mendukung konsumsi, ketenagakerjaan, dan investasi.
Menurut Ibrahim, sejumlah program ini sangat penting untuk menjaga momentum konsumsi rumah tangga sekaligus menciptakan lapangan kerja dan memacu investasi di Jawa Timur.
Investasi dan Proyek Strategis Mendorong Ekonomi Jawa Timur
Selain konsumsi rumah tangga, investasi menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi Jatim. Aktivitas manufaktur yang masif dan kelanjutan proyek strategis memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah.
Ibrahim menyebut bahwa kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi fokus utama investasi, terutama setelah adanya perbaikan infrastruktur dan konektivitas di beberapa lokasi strategis. Kenaikan target investasi di kawasan ini juga meningkatkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sektor Industri dan Ekspor Mendukung Pertumbuhan
Beberapa sektor industri andalan di Jawa Timur seperti industri logam dasar dan barang logam di Gresik dan Sidoarjo, industri makanan di Pasuruan dan Jombang, serta pabrik kimia dan produksi kaca di Gresik menjadi kontributor besar terhadap aktivitas investasi. Pengembangan lapangan Minyak dan Gas (Migas) Blok Cepu di Bojonegoro juga turut menjadi pendukung utama.
Dari sisi ekspor, sektor manufaktur yang ditujukan ke negara mitra dagang utama masih menunjukkan tren positif. Ibrahim menekankan pentingnya menjaga kondisi hubungan dagang dengan negara mitra agar tetap kondusif dan mendukung pertumbuhan ekspor.
Inflasi Terkendali dan Koordinasi Pengendalian
Mengenai inflasi, BI Provinsi Jawa Timur memprediksi tingkat inflasi tetap terkendali pada rentang sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Pengendalian ini didukung oleh koordinasi yang solid dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Pengelolaan inflasi yang baik diharapkan dapat menciptakan stabilitas harga dan iklim usaha yang sehat di Jawa Timur, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Secara komprehensif, prospek ekonomi Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan menunjukkan tren positif yang kuat. Konsumsi rumah tangga yang meningkat, dukungan kebijakan pemerintah, penguatan investasi, dan ekspor yang kondusif menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan hingga mencapai sekitar 5,7 persen pada tahun mendatang.
Baca selengkapnya di: jatim.antaranews.com






