
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2025 melampaui capaian nasional dan rata-rata pertumbuhan di wilayah Pulau Jawa. Data Badan Pusat Statistik mencatatkan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 5,37% (yoy), lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang mencapai 5,11% (yoy).
Dalam triwulan IV 2025, ekonomi Jawa Tengah bahkan mencapai pertumbuhan 5,84% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang sebesar 5,38% (yoy). Angka ini menempatkan Jawa Tengah di atas rata-rata pertumbuhan Jawa sebesar 5,30% dan nasional yang sebesar 5,39%, menurut keterangan Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho.
Kontribusi Sektor Pengeluaran
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dengan angka 4,78% sepanjang tahun 2025. Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 6,50% dan stimulus fiskal pemerintah turut meningkatkan daya beli masyarakat. Aktivitas pasar ritel yang semarak dengan program diskon besar-besaran juga menjaga optimisme konsumen tetap tinggi.
Sektor investasi yang diukur melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh signifikan sebesar 6,24% (yoy) pada triwulan terakhir. Kabupaten Kendal, Batang, dan Kota Semarang menjadi wilayah dengan intensitas investasi tertinggi. Di sisi lain, konsumsi pemerintah melonjak 9,11% akibat percepatan realisasi anggaran di akhir tahun anggaran 2025.
Perkembangan Lapangan Usaha
Sektor jasa keuangan mencatat pertumbuhan tertinggi di Jawa Tengah yaitu 16,14% (yoy). Disusul sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang meningkat 13,97%, didukung oleh penambahan rute penerbangan internasional Bandara Ahmad Yani menuju Singapura. Hal ini mendorong lonjakan aktivitas pariwisata di wilayah tersebut.
Industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan pertumbuhan 5,18% berkat permintaan ekspor yang kuat dari berbagai negara mitra dagang. Sektor pertanian juga mengalami pemulihan positif sebesar 4,06% setelah mengalami kontraksi, sejalan dengan memperluas lahan tanam dan peningkatan penyaluran kredit pertanian secara masif.
Dampak Pertumbuhan terhadap Kesejahteraan
Pertumbuhan ekonomi yang inklusif berdampak pada penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sumarno, menyatakan bahwa angka kemiskinan turun dari 9,48% menjadi 9,39% dalam periode satu tahun terakhir. Ini berarti terdapat penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak sekitar 51,52 ribu orang, sehingga total penduduk miskin menjadi 3,34 juta orang.
Ketimpangan pendapatan antar penduduk juga mulai menyempit dengan nilai Gini Ratio mencapai 0,350. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita masyarakat Jawa Tengah naik 5,9% menjadi Rp50,82 juta, menggambarkan perbaikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Upaya Mempertahankan Momentum
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan pentingnya menjaga dan meningkatkan laju pertumbuhan tersebut melalui kebijakan yang tepat sasaran. Penurunan angka kemiskinan menjadi prioritas guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata.
Pemerintah daerah mendorong sinergi antara sektor publik dan swasta agar investasi dapat terus meningkat serta konsumsi masyarakat tetap bergairah. Langkah strategis seperti peningkatan infrastruktur, stimulus fiskal, dan dorongan sektor pariwisata diharapkan mampu memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.
Secara keseluruhan, hasil kinerja ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2025 menunjukkan tren positif dengan berbagai sektor penggerak yang solid dan kontribusi pertumbuhan yang inklusif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Data ini menjadi indikator penting bagi upaya daerah dalam mendukung percepatan pembangunan ekonomi di masa mendatang.
Baca selengkapnya di: semarang.bisnis.com




