Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat penanganan warga terdampak tanah bergerak di Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Langkah ini mencakup pemindahan warga dan barang dari lokasi yang masih rawan bencana serta pembangunan hunian sementara (huntara) di area yang dinilai aman secara teknis.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, sebanyak 143 rumah mengalami dampak akibat tanah bergerak ini. Di antara rumah-rumah tersebut, 10 unit mengalami kerusakan berat, sementara 124 unit lainnya berada dalam kondisi terancam.
Kerusakan juga terjadi pada dua tempat ibadah dan dua fasilitas pendidikan di desa tersebut. Selain itu, akses jalan utama sepanjang sekitar 700 meter mengalami ambles, menghambat mobilitas dan evakuasi. Kondisi tanah masih aktif bergerak dengan potensi longsoran susulan karena curah hujan yang tinggi di wilayah perbukitan Sirampog.
Sebanyak 175 keluarga atau setara dengan 532 jiwa kini mengungsi akibat risiko pergerakan tanah yang belum berhenti. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengingatkan masyarakat agar tidak kembali ke rumah masing-masing karena kondisi masih membahayakan keselamatan.
Pemerintah Provinsi juga telah berkoordinasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk pembangunan huntara di lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat. Selain pembangunan hunian sementara, tempat pengungsian saat ini difokuskan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, dimana dapur umum juga didirikan menggunakan anggaran belanja tidak terduga.
Dalam rangka mendukung kebutuhan pengungsi, Gubernur menyalurkan bantuan senilai Rp175,97 juta. Bantuan tersebut bersumber dari berbagai instansi, antara lain BPBD Jawa Tengah Rp18,24 juta, Dinas Sosial Rp90,77 juta, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Rp18 juta, Dinas Kesehatan Rp11,77 juta, Dinas Pendidikan Rp27 juta, serta Palang Merah Indonesia Rp10,19 juta.
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma menyampaikan apresiasinya terhadap respon cepat pemerintah provinsi. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena penanganan dilakukan secara terpadu dengan dukungan semua dinas terkait.
Salah satu pengungsi, Susi Susanti, mengungkapkan kondisi sulit yang dihadapi, khususnya karena harus mengungsikan bayi yang masih berumur 10 bulan. Ia berharap kebutuhan khusus untuk bayi, seperti pampers, sabun, minyak telon, dan perlengkapan mandi, tetap terpenuhi selama masa pengungsian dan relokasi.
Percepatan penanganan bencana di Brebes menjadi prioritas pemerintah provinsi demi menjaga keselamatan dan pemulihan kondisi warga terdampak. Upaya pemindahan ke lokasi yang aman dan penyediaan layanan dasar di pengungsian terus dilakukan guna mengurangi risiko dan meningkatkan kenyamanan bagi para pengungsi.
