
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jawa Barat, H. Tedy Rusmawan, AT, MM, mendorong pelaksanaan penanaman pohon di lahan kritis secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM) serta berkelanjutan. Dorongan ini mengemuka menyusul tingginya frekuensi bencana longsor di berbagai wilayah Jawa Barat, yang diduga kuat akibat alih fungsi lahan serta penggundulan hutan.
Tedy menilai perubahan tata guna lahan telah menyebabkan melemahnya daya dukung tanah sehingga rentan terhadap bencana. Kawasan hutan lindung dan daerah resapan air kini banyak beralih fungsi menjadi lahan pertanian, pemukiman, dan pembangunan vila, sehingga meningkatkan risiko longsor.
Dorongan Penyusunan Master Plan Penghijauan
Sebagai anggota Komisi IV DPRD Jabar, Tedy meminta Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jawa Barat untuk mengintensifkan program reboisasi lahan kritis. Ia menegaskan bahwa penghijauan tidak hanya memperkuat struktur tanah, tetapi juga menjaga ketersediaan air bagi masyarakat.
Menurutnya, penyusunan master plan penghijauan menjadi langkah yang sangat penting. Dokumen ini harus mencakup:
- Peta wilayah prioritas reboisasi
- Target capaian tahunan secara terukur
- Pola kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai instansi
“Program ini harus jelas arah dan tahapannya, serta dipublikasikan agar seluruh masyarakat dapat berpartisipasi aktif,” tegasnya.
Tedy juga mengusulkan Dishut Jabar menyusun skala prioritas penanganan wilayah kritis yang rentan longsor. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian khusus adalah Cimenyan, yang mengalami bencana longsor setelah lahan hutan berubah menjadi lahan pertanian sayuran.
Melibatkan Masyarakat dan Pelajar dalam Gerakan Reboisasi
Tedy menekankan pentingnya pendekatan partisipatif dalam program penghijauan. Ia mengajak unsur masyarakat luas, termasuk komunitas pecinta alam di kalangan pelajar SMA/SMK, untuk dilibatkan secara aktif.
Menurutnya, keterlibatan ini akan membuat penanaman pohon tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan. “Masalah longsor hampir selalu berkaitan dengan penggundulan hutan dan lahan kritis. Reboisasi harus dilakukan secara TSM, dirawat, dan diawasi secara ketat,” kata Tedy.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan program menjadi kunci utama agar hasil penghijauan dapat memberikan dampak nyata terhadap kelestarian lingkungan.
Dukungan Kebijakan dan Insentif Pemerintah
Tedy menilai dukungan anggaran dari pemerintah sangat krusial untuk keberhasilan program penghijauan. Tanpa alokasi dana yang memadai, sulit mewujudkan target penghijauan yang diharapkan.
Ia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang di bawah kepemimpinan Gubernur tengah merancang insentif bagi masyarakat yang merawat hutan kritis. Salah satu rencananya adalah pemberian upah hingga Rp50 ribu per hari bagi warga yang terlibat langsung dalam kegiatan perawatan hutan.
Langkah ini dianggap sebagai stimulus positif yang tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis pengelolaan sumber daya alam yang lestari.
Ajak Semua Pihak Jaga Kelestarian Alam
Tedy Rusmawan mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan Jawa Barat. Pembangunan harus berjalan beriringan dengan wawasan lingkungan.
Reboisasi yang dilakukan secara TSM dan berkelanjutan merupakan langkah investasi jangka panjang demi keselamatan generasi masa depan. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam untuk mengurangi risiko bencana sekaligus menjamin keberlangsungan sumber daya alam di Jawa Barat.
Source: www.radarbandung.id




