Pengajian Ramadan dan Pengukuhan Korps Muballighat PWA Jateng Hadirkan Strategi Baru Dakwah Perempuan di Era Digital

Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah menggelar Pengajian Ramadan sekaligus mengukuhkan Korps Muballighat dan Korps Instruktur Baitul Arqam ‘Aisyiyah pada Ahad di Universitas Muhammadiyah Semarang. Kegiatan ini berlangsung secara luring dan daring dengan peserta dari 35 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah se-Jawa Tengah.

Ketua PWA Jateng, Eny Winaryati, menyebut pembentukan dua korps tersebut sebagai langkah strategis dalam mengatasi tantangan perkembangan teknologi dan kebutuhan dakwah yang makin kompleks. Eny menjelaskan, pengukuhan korps diperlukan karena kemajuan teknologi yang pesat, pentingnya organisasi terstruktur, dan meningkatnya kebutuhan muballighat yang profesional.

Korps Muballighat dan Korps Instruktur Baitul Arqam diharapkan menjadi penggerak dakwah yang dinamis dan adaptif terhadap kemajuan kecerdasan artifisial serta perkembangan digital. Ke depan, korps serupa akan dibentuk di tingkat kabupaten dan kota supaya pembinaan dakwah bisa menjangkau komunitas lebih kecil hingga level desa dan ranting.

Penguatan Fikih dan Ketahanan Keluarga

Selain pengukuhan, acara ini juga mengangkat pengajian pimpinan untuk merespons fenomena sosial yang mendesak, salah satunya peningkatan frekuensi bencana alam. PWA Jateng menilai pentingnya penguatan fikih kebencanaan agar syariat Islam mampu beradaptasi dengan realitas kontemporer berlandaskan Al-Qur’an dan hadis serta kajian ilmiah.

Literasi digital juga menjadi pembahasan utama. Eny mengingatkan agar kader ‘Aisyiyah mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk memperluas jangkauan dakwah secara inklusif. Teknologi kini memungkinkan pesan dakwah tersampaikan secara efektif ke anak-anak, remaja, dan perempuan dewasa di seluruh Indonesia bahkan dunia.

Penguatan ketahanan keluarga menjadi fokus lain yang dibahas. Isu krusial seperti pernikahan dini, pernikahan siri, kesehatan mental remaja, serta maraknya pinjaman dan judi online sangat berpengaruh pada kualitas hidup perempuan. Eny mengingatkan bahwa pernikahan siri berpotensi memarginalkan perempuan tanpa kesadaran hukum yang memadai.

Demi mengatasi persoalan tersebut, PWA Jateng menekankan pentingnya penguatan kompetensi, harga diri, dan kemandirian perempuan sebagai bagian dari dakwah. Korps Muballighat dan instruktur yang dibentuk diharapkan dapat menjadi benteng spiritual dan sosial dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital.

Melalui peneguhan korps ini, PWA Jawa Tengah berharap dapat memperkokoh fikih, ketahanan keluarga, dan spiritualitas perempuan dengan pendekatan profesional dan adaptif. Program ini dirancang untuk menjawab dinamika zaman sekaligus memperluas dampak positif dakwah hingga ke akar rumput.

Source: suaraaisyiyah.id

Berita Terkait

Back to top button